Kabar Terkini

Macbeth dan Gelegak Ambisi serta Gerak


Seluruh kisah bergulir di sebuah lorong panjang terbuat dari logam, dengan cahaya lampu neon di sepanjangnya yang mengingatkan penonton pada pesawat luar angkasa ataupun sebuah bunker dan tempat penyiksaan, para serdadu berpakaian tentara modern membunuh. Tawanan distrum, dan kebrutalan mengingatkan penonton pada kekejaman tentara di medan perang kini di Timur Tengah dalam proses interogasi mereka. Di sini pula darah tertumpah dan mayat-mayat tertumpuk. Pembunuhan demi pembunuhan terjadi di sebuah ruang, di mana cahaya berkilatan dan kedap-kedip dan para korban mati terbekap plastik yang mencekik.

Sentuhan kekejaman dan ambisi yang membutakan adalah titik tumpu dari karya William Shakespeare, Macbeth. Kali ini di teater Young Vic, duo sutradara Carrie Cracknell dan Lucy Guerin membawa sentuhan pada karya yang ditampilkan pertama tahun 1611 ini dengan desain set yang cerdik dari Lizzie Clachan dan penata musik Clark lewat musik technonya yang menyiratkan depresi yang mewarnai kisah ini. Diwarnai koreografi yang lekat dengan karakter Weird Sisters yang diperankan Ana Beatriz Meireles, Jessie Oshodi dan Clemmie Sveaas, kisah diwarnai oleh bagaimana Macbeth seorang jenderal sukses, kemudian tergila-gila dengan ramalan hingga tenggelam dalam ambisi yang akhirnya membawanya ke puncak sekaligus juga kehancurannya. Gerakan-gerakan berulang yang aneh menyampaikan kesan artifisialitas dan gelagat. Meski berkonteks, sentuhan koreografi ini di beberapa tempat menyatu dengan kisah, namun menjelang akhir terutama di saat-saat kejatuhan sang Raja Skotlandia menjadi membingungkan.

John Heffernan sebagai Macbeth tampil dengan penuh emosi dan meyakinkan sebagai seorang jenderal ambisius yang halusinatif, paranoia menyebabkan ia membunuh rajanya sendiri serta hampir semua lawan politiknya, membinasakan anak dan istri mereka. Anna Maxwell Martin pun berperan dengan fokus dan kuat. Prasanna Puwanarajah sebaga Banquo tampil mengesankan malam itu.

Sebagai sebuah tragedi pendek, karya Shakespeare ini memang bertumpu pada kecerdikan bahasa sang pujangga yang malam itu dibawakan dalam bentuk aslinya. Sebuah pembahasaan kuno bercampur dengan interpretasi modern di atas panggung di mana tari dan musik serta desain set membawa keseluruhan cerita dalam sebuah ruang waktu masa kini. Namun memang diakui tidak mudah memahami kisah ini, terlebih produksi ini hanya diperankan 12 orang, beberapa tokoh kunci kemudian berperan ganda sehingga beberapa mengundang keanehan, terutama ketika banyak kisah ini diwarnai tampilnya arwah-arwah mereka yang telah mati di atas panggung menghantui benak Macbeth. Hal ini menjadikan alur sedikit carut-marut dan penonton perlu berpikir lebih jauh, dalam peran apakah mereka berada di sana. Meski demikian penonton yang tidak mengerti karya Shakespeare pun perlahan dapat memahami jalan cerita meski sedikit tertatih.

Sebuah produksi yang cerdik, dan mungkin akan menggelitik mereka yang telah mengenal Shakespeare untuk lebih berpikir tentang kisah ini. Kecerdikan set, konteks kini dan dua pemeran utama membuat pertunjukan ini layak disaksikan, namun belum tentu menjadi sebuah produksi yang menggerakkan terutama dalam memetik sebuah produksi karya legendaris ini.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: