Kabar Terkini

Masyarakat itu Bodoh Musik, Benarkah?


~tergerak karena komentar di laman ini

Bagi siapa saja yang mengaku pecinta musik klasik,

Romantisme musisi sebagai nabi adalah hal biasa yang tidak jarang kita lihat, bahwa masing-masing akhirnya berperan bagai seorang nabi akan musik yang mereka usung, meluruskan jalan masyarakat. Masyarakat yang tidak mengerti, harus dibuat jadi mengerti. Persoalan lambat majunya musik seni di tanah air seringkali bukan disebabkan oleh seninya yang kurang tanggap akan perkembangan zaman. Tapi seringkali permasalahan seringkali terlihat pada bagaimana musisi memandang masyarakat di sekitarnya.

Seberapa seringkah kita sebagai pecinta musik klasik berpikir:

  • Masyarakat harus dicerdaskan supaya mengerti musik klasik yang dibawakan?
  • Musik yang kita bawakan adalah musik seni bernilai tinggi yang tidak semua orang paham?
  • Musisi harus menjadi penunjuk jalan dalam gulita?

Harus kita sadari bahwa masing-masing dari pertanyaan di atas adalah sebuah cermin romantisme musik, musisi dan penikmatnya. Secara tidak langsung, penikmat dan pelaku musik klasik didaulat sebagai golongan elite yang mengerti musik dan bertugas menjadi penunjuk jalan dan pendidik bagi masyarakat yang berada dalam dekapan jahiliyah musik. Mereka yang harus dicerdaskan? Ya, musisi dan pecinta musik akhirnya dipersepsikan sebagai segerombolan nabi yang tercerahkan yang menunjukkan jalan keluar terhadap persoalan pemahaman musik.

Tapi akankah niatan seperti ini berhasil?

Penempatan masyarakat sebagai sekelompok buta dan tuli adalah kecenderungan yang cukup mengerikan dalam musik seni. Keterlibatan masyarakat dalam sebuah proses kreatif dan interpretatif terpasung, hingga menampilkan sang seniman sebagai pencerah satu-satunya yang membawa kepada sebuah pelepasan. Masyarakat tampil sebagai aktor inferior di hadapan pecinta musik yang memproklamasikan diri sebagai pihak yang lebih tahu dan lebih mengerti.

Sialnya masyarakat bukanlah boneka yang bodoh musik. Dengan berbagai kondisi, manusia itu musikal sebagaimana dikemukakan etnomusikolog John Blacking. Dan dalam berbagai persepsi inilah masyarakat memilih musik yang mereka sukai atau tidak. Baik orang-orang suku Kalui yang diteliti Blacking maupun kaum terpelajar di Vienna, semua memiliki kapasitas musikal, hanya saja dalam bahasa musikal yang berbeda. Tapi, banyak pribadi yang kemudian menempatkan diri sebagai nabi yang wajib mengajarkan publik bagaimana agar dapat menjadi pendengar yang baik dan mampu mengapresiasi musik.

Musisi dalam kapasitasnya sebagai penampil tidak memiliki hak dalam memaksakan sebuah pendapat dan preferensi pribadinya pada masyarakat sebagai sebuah keharusan yang harus diikuti. Ia pada akhirnya berperan sebagai seorang salesperson yang menjajakan barang dagangannya kepada khalayak, dengan berusaha meyakinkan calon pembeli akan kualitas dagangannya dan berharap sang calon pembeli teryakinkan.

Suka atau tidak suka, relasi pendengar dan masyarakat akan musik dalam dunia yang beranjak semakin kapitalis ini tereduksi menjadi hubungan berbasiskan pertukaran. Sebagai seorang musisi yang berpengalaman membina karier sebagai seorang salesperson, penulis pun mendapati bahwa dunia sales pun kini sudah beranjak. Masa push strategy di mana pasar dicekoki dengan barang dagangan sudah berlalu dan beralih menjadi Push strategy di mana penjual mengemas dagangannya agar menarik bagi calon pembeli dan melemparkannya mentah-mentah ke pasar. Juga pull selling yang kadang berujung pada penciptaan kebutuhan yang mengada-ada. Masa-masa hardselling musik seni tidak lagi berhasil.

Pembeli sendirilah yang harus memutuskan dengan sadar bahwa ia akan memberi barang tersebut. Consultative selling strategy ini menekankan pentingnya menempatkan calon pembeli sebagai seorang mitra di mana kedua pihak berdiskusi dan menentukan bersama bagaimana persepsi dan ekspektasi calon pemberi akan produk tersebut.

Seniman yang berhasil adalah seniman yang berhasil membuka dialog dengan masyarakat. Demikian juga musisi yang berhasil adalah musisi yang mampu bercengkrama akan musik bersama dengan penontonnya dan dalam dialog semakin memahami musik yang berbeda dan beragam dari preferensi awalnua. Nyatanya pertimbangan artistik tidak bisa diromantisasi untuk terlalu menjauh dari minat masyarakat. Palestrina tidak penah terlalu jauh dari minat petinggi gereja akan musiknya, Bach tidak pernah terlalu jauh dari jemaat kota di mana ia tinggal. Mozart dan Beethoven pun demikian, juga banyak komponis berikutnya seperti Chopin, Liszt, dan Mendelssohn. Seberapapun kita membaca hidup mereka sebagai ‘musisi yang keras kepala’, mereka secara nyata adalah musisi yang tetap dekat dengan konstituennya.

Mungkin masanya musisi dan pecinta musik klasik berhenti berperan bak seorang nabi yang jauh dan menjadi penunjuk jalan bagi masyarakat yang tersesat. Pola pikir bahwa masyarakat masih berada dalam masa jahiliyah haruslah dibuang jauh-jauh. Tidak perlu merendahkan orang lain untuk merasa berhasil. Nyatanya masyarakat kita adalah masyarakat cerdas, mungkin kitanya saja yang kurang cerdas dalam berdialog dengan mereka.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Masyarakat itu Bodoh Musik, Benarkah?

  1. Artikel yang bagus dari saudara Mike,
    1. Menanggapi pernyataan saudara Mike soal “Persoalan lambat majunya musik seni di tanah air seringkali bukan disebabkan oleh seninya yang kurang tanggap akan perkembangan zaman. Tapi seringkali permasalahan seringkali terlihat pada bagaimana musisi memandang masyarakat di sekitarnya.”

    Disini saya menemukan kejanggalan logika berpikir saudara Mike. Menurut saudara Mike sendiri, apa indikator dari kemajuan musik seni (Mungkin maksud saudara Mike itu seni musik ya, soalnya saya waktu di SD tidak pernah menemukan pelajaran musik seni.) di tanah air itu sendiri?

    Apa point point penting yang menurut saudara Mike bisa dijadikan sebagai indikator lambat maju nya perkembangan musik klasik di Indonesia? Dalam artikel ini bahkan tidak dicantumkan indikator apa yang bisa dikaitkan dengan kemajuan seni musik di tanah air itu sendiri. Tanpa adanya indikator kenapa saudara Mike bisa langsung menarik kesimpulan bahwa sumber permasalahan dari lambat majunya perkembangan musik adalah dari cara pandang musisi terhadap masyarakat di sekitarnya dan bukan disebabkan perkembangan jaman?

    Saya jujur kurang nangkep logika saudara Mike dalam artikel ini. Bisa tolong saudara Mike jelaskan?

    TLDR: Penulis artikel menyimpulkan sesuatu tanpa didasari alasan yang kuat.

    2. Menanggapi pernyataan saudara Mike mengenai “Penempatan masyarakat sebagai sekelompok buta dan tuli adalah kecenderungan yang cukup mengerikan dalam musik seni.” Disini saudara Mike melakukan penggiringan opini seperti pada artikel sebelumnya.

    Ditambah lagi dengan pernyataan bahwa “Masyarakat tampil sebagai aktor inferior di hadapan pecinta musik yang memproklamasikan diri sebagai pihak yang lebih tahu dan lebih mengerti.” yang jelas jelas merupakan penghinaan dan tuduhan tidak berdasar terhadap para musisi dan penikmat musik yang membaca tulisan saudara. Mengapa saya bisa berkata begitu?

    a) Pernahkah saudara Mike bertanya pada musisi dan penikmat musik yang ada, apakah mereka menganggap orang lain sebagai sekelompok buta dan tuli?

    b) Apakah pecinta musik yang saudara Mike maksud dalam tulisan saudara menyatakan dirinya sebagai pihak yang lebih tahu dan lebih mengerti? Atau jangan jangan saudara Mike dengan gelar asingnya yang sangat banyak yang merasa dirinya lebih tahu daripada musisi, masyarakat dan pengamat musik yang ada?

    c) Pernyataan saudara Mike tentang “Keterlibatan masyarakat dalam sebuah proses kreatif dan interpretatif terpasung, hingga menampilkan sang seniman sebagai pencerah satu-satunya yang membawa kepada sebuah pelepasan.” bahkan lebih keterlaluan. Disini saudara Mike jelas jelas mengeluarkan pernyataan yang merupakan penggiringan opini bahwa masyarakat seakan dipasung oleh sang seniman. Mengacu kepada debat kusir sebelumnya, mungkin saudara Mike harus bercermin dan mulai berpikir. Apakah memang benar semua masyarakat merasa begitu, atau hanya saudara Mike saja yang merasa keterlibatan (mungkin maksudnya komentar) nya dilawan keras oleh musisi.

    TLDR: Penulis melakukan penggiringan opini, penghinaan, serta tuduhan tidak berdasar kepada musisi dan penikmat musik; seakan-akan musisi dan penikmat musik menganggap masyarakat itu buta, bodoh, serta memaksakan kehendaknya kepada masyarakat

    3. Mengenai tulisan “Tapi, banyak pribadi yang kemudian menempatkan diri sebagai nabi yang wajib mengajarkan publik bagaimana agar dapat menjadi pendengar yang baik dan mampu mengapresiasi musik.” jujur saja saya tertawa setelah membaca tulisan saudara yang ini, salam sejahtera Pak Nabi.

    TLDR: Penulis itu Nabi Musik🙂

    4. Menanggapi tulisan saudara soal “pada akhirnya berperan sebagai seorang salesperson yang menjajakan barang dagangannya kepada khalayak, dengan berusaha meyakinkan calon pembeli akan kualitas dagangannya dan berharap sang calon pembeli teryakinkan.”

    Pernyataan ini jelas jelas kontradiktif dengan review yang Pak Nabi lakukan selama ini. Saya rasa Pak Nabi menyukai originalitas dan interpretasi unik dari tiap pemusik itu sendiri. Dan saya yakin tanpa originalitas dan interpretasi yang berbeda Pak Nabi lebih baik memutar midi saja di rumah.

    Mengacu pada debat kusir sebelumnya, disini saya tegaskan bahwa para musisi pun tidak memaksakan kehendaknya kepada masyarakat seperti yang ditulis oleh Pak Nabi bahwa

    “Musisi dalam kapasitasnya sebagai penampil tidak memiliki hak dalam memaksakan sebuah pendapat dan preferensi pribadinya pada masyarakat sebagai sebuah keharusan yang harus diikuti.”

    TLDR: Penggiringan opini bahwa para musisi memaksakan kehendaknya lagi (maksa banget ya)

    5. Mengenai pernyataan bahwa:
    “Seniman yang berhasil adalah seniman yang berhasil membuka dialog dengan masyarakat. Demikian juga musisi yang berhasil adalah musisi yang mampu bercengkrama akan musik bersama dengan penontonnya dan dalam dialog semakin memahami musik yang berbeda dan beragam dari preferensi awalnua.”

    Mungkin para musisi yang kebetulan membaca artikel ini bisa menceritakan pengalaman/ sharing bagaimana pengalaman para musisi berdiskusi dan berdialog dengan masyarakat (mungkin bisa dengan keluarga yang juga bagian dari masyarakat) yang di klaim artikel ini tidak pernah kalian lakukan🙂

    TLDR: Para musisi di klaim tidak pernah berdialog dan berdiskusi dengan penonton nya.

    Sebagai penutup, mengutip pernyataan saudara sendiri yaitu:

    “Mungkin masanya musisi dan pecinta musik klasik berhenti berperan bak seorang nabi yang jauh dan menjadi penunjuk jalan bagi masyarakat yang tersesat. Pola pikir bahwa masyarakat masih berada dalam masa jahiliyah haruslah dibuang jauh-jauh. Tidak perlu merendahkan orang lain untuk merasa berhasil. Nyatanya masyarakat kita adalah masyarakat cerdas, mungkin kitanya saja yang kurang cerdas dalam berdialog dengan mereka.” ~Nabi Mike

    Mungkin bisa dibaca dan direnungi oleh Pak Nabi sendiri

    Terima Kasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: