Kabar Terkini

Lupa Untuk Mengingat


Bayangkan apabila kita sibuk mengingat dan tidak mampu melupakan, apa jadinya otak dan ingatan kita? Kondisi yang serupa nampaknya juga terjadi dalam perkembangan musik klasik dewasa ini. Nyatanya, melupakan itu proses sentral dalam mengingat.

Tradisi pertunjukan musik klasik hingga kini adalah sebuah proses mengingat. Mengingat musik yang telah lalu adalah salah satu praktik yang seringkali melukiskan bagaimana kini musik klasik beroperasi, sebagai sebuah warisan budaya yang semakin tenggelam dalam alunan masa lalu. Pemikiran ini adalah sebuah pemikiran modern akhir yang dikemukakan oleh Andreas Huyssen bahwa dunia semakin jenuh akan memori dan terobsesi pada sebuah titik di masa lalu dan keengganan untuk melupakannya, bersama dengan sarana-sarana mnemonik untuk membangun ingatan tersebut.

Paul Connerton dalam tulisannya ‘How Modernity Forgets’ mengemukakan bahwa pengingat yang berlebihan telah menjadi obsesi sosial dan pada akhirnya dapat melumpuhkan bagaimana ingatan-ingatan tersebut dapat membentuk sebuah ingatan kolektif. Marc Augé mengemukakan bahwa di satu titik penting juga adanya pelupaan kolektif, atau sedikitnya sebuah penggarapan ingatan tertentu yang berakibat pada pembiaran ingatan yang lain. Kenyataannya memang demikian, manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat dan mengelola ingatannya dan secara aktif memilih untuk mengingat hal-hal tertentu, sedang yang lain dilupakan.

Kenyataan bahwa musik klasik termasuk di Indonesia lebih memilih untuk mengingat musik-musik Eropa abad 18-19 mengakibatkan pada banyaknya pelupaan pada musik-musik lain bahkan dalam jalur tersebut untuk berbagai periode dan situs yang lain.Beberapa pihak melihat perlunya melestarikan pula musik tradisi Indonesia, di sisi lain ada yang pula melihat perlunya juga mendorong kreativitas penciptaan musik baru dan pementasannya, baik musik baru Indonesia maupun musik baru dunia. Pun juga ada gerakan untuk dapat memainkan karya-karya klasik Eropa secara lebih orisinal. Semuanya memenuhi pemikiran sedangkan jadwal pertunjukan tetap dan kita hanya memiliki 52 minggu dalam setahun. Pada akhrinya pun sedapat-dapatnya musik klasik ingin merambah berbagai spektrum, ada waktunya di mana ia harus memilih. pertunjukan mana yang layak untuk dimainkan.

Perdebatan akan ingatan dan pilihan aktif untuk mengingat satu hal dan melupakan yang lain akan terus terjadi. Tapi adalah baik apabila kita selalu berpikir kembali akan pilihan dalam menampilkan suatu musik. Warisan musik seperti apakah yang akan diteruskan dalam tradisi musik ini? Karena setiap saat, setiap musisi haruslah memilih bukan hanya untuk sebuah idealisme masa kini, namun juga idealisme masa depan di mana apa yang akan mereka saksikan adalah apa yang kita tinggalkan dan lakukan saat ini. Dan ini harus dilakukan secara proaktif terus menerus, memilih untuk mengingat dan juga memilih untuk melupakan.

Pada akhirnya proses memilah ini adalah sebuah hal yang sebenarnya baik untuk memastikan bahwa hanya obyek yang esensial saja yang bertahan dalam sebuah ruang. Ini penting agar pemaknaan dapat terus terjaga. Namun ada satu hal yang harus diingat, bahwa spektrum itu beragam dan dalam memilih harus tetap mempertimbangkan warisan macam apa yang ingin ditinggalkan untuk generasi berikutnya, apakah hanya warisan ‘kaca-mata’ kuda atau warisan yang mampu menggambarkan keseluruhan masyarakat, bahkan dalam warisan musik sekalipun. Namun proses mengingat dan melupakan, adalah salah satu proses utama dalam perjalanan manusia.

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: