Kabar Terkini

Membongkar Pemikiran dengan Balik Berpikir, bukan dengan Kenikmatan


~menanggapi tanggapan Ananda Sukarlan di Majalah Saraswati

Ananda Sukarlan membahas pernyataan menarik tentang bagaimana musik seni dipandang sebagai sebuah yang sulit dan kompleks serta diperuntukan untuk kalangan intelek. Ia pun mengemukakan bagaimana ‘menikmati’ musik seni menjadi kunci tapi dengan juga memukul mundur peran analitis. Baginya bersikap analitis memiskinkan kenikmatan dari musik seni. Pandangannya yang populis ini di satu sisi mengandung kebenaran namun di sisi lain juga menandakan perlunya analisis lebih jauh. Bukan untuk memperumit musik, namun untuk mengupas kondisi musik seni itu sendiri.

Dalam argumennya yang terkesan populis dan membuka seni adalah sebuah hal yang sangat baik, terutama ketika berhadapan dengan terbatasnya peminat musik seni di Indonesia. Penghalangan pertama memang lebih kepada akses, sebagaimana kehidupan musik ini di manapun. Akses yang dimaksud di sini adalah bagaimana orang tersebut merasa bahwa seni itu berbicara dan diperuntukkan bagi mereka. Dan sayangnya sekedar ‘menikmati’ hanya menjadi satu langkah yang signifikan namun tidaklah lengkap.

Dan dalam melengkapi ‘kenikmatan’ itu mau tidak mau, analisis lebih jauh diperlukan. Pemikiran bahwa musik klasik adalah musik intelek dan diperuntukkan bagi kalangan terbatas sudah terlanjur mengakar dalam banyak masyarakat, dan bukan hanya di Indonesia. Latar belakang terutama pendidikan dan sosial menjadi kunci yang penting dalam pembentukan kelas sebagaimana diungkap Bourdieu dalam bukunya bertajuk ‘Distinction’. Dan adalah pincang apabila membongkar sebuah ‘keyakinan’ hanya dengan ‘kenikmatan’.

Secara tidak sadar Ananda Sukarlan pun masuk dalam ranah tulisan analitis baik dari segi musik maupun pendekatannya. Ananda Sukarlan menempatkan diri sebagai seorang seniman yang meyakini karya seniman mampu mengubah hati dan bahkan mengubah keyakinan dan sejarah. Sampai satu taraf tertentu memang benar, seni yang baik memiliki kekuatan, namun untuk mengubah keyakinan yang sudah lama mengakar, sebuah kontra-pemikiranlah yang seharusnya dibangun untuk membongkar keyakinan yang lama. Menolak analisis dan pemikiran, adalah sebuah pernyataan yang paradox dalam mendefinisikan ulang sebuah kesenian yang terlanjur dianggap terlalu ‘intelek’ dan memutungkan niatan baik untuk ‘menikmati’.

Harus dikatakan bahwa musik seni/musik klasik tergolong cacat dalam prosesnya merekonstruksi diri sebagai musik yang populis. Dalam sejarah di Eropa dua abad lalu, ia berhasil melekatkan diri sebagai musik kelas menengah ketika kekuatan dan pengaruh bangsawan Eropa yang awalnya menggadang musik seni ini terguncang dan kemudian runtuh. Musik seni kemudian melekat dengan pribadi renaisans yang menghargai kebebasan berpikir, dekat dengan romantisme yang menjadi aroma kuat pada masa itu. Pun dengan berkembangnya konsep negara-bangsa (nation-state), musik pun dapat dengan fasih merekatkan diri pada mosi nasionalisme yang berkembang di abad 19. Namun hal tersebut tidak serta merta terjadi di era sosialisme, liberalisme dan arus globalisasi dan post-modernisme di akhir abad 20. Dengan runtuhnya kekuatan-kekuatan lama dan bahkan proses dekolonialisasi, musik seni tidak serta merta berubah, namun tetap dalam pendiriannya sebagai musik berkiblat Barat serta merujuk pada kelas tertentu di masyarakat.

http://sd.keepcalm-o-matic.co.uk/i/keep-calm-and-bongkar.png‘Menikmati’ musik klasik tidak akan terjadi tanpa ada perubahan pola pikir dan niatan dalam arti, dengan semakin banyaknya pilihan, perlu dibangun niat dan kemauan untuk sekedar mau mencoba ‘menikmat’ musik sastra (sebagaimana istilah yang digunakan Ananda Sukarlan). Seseorang secara tidak langsung perlu mengalami proses ‘intelektual’ untuk mengubah cara pandangnya dan menganalisa kesadaran dan motivasi diri dalam menentukan pilihan mendengarkan dan ‘menikmati’ musik. Dan untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan kesadaran yang nyata, terlebih dengan semakin mudahnya mengambil keputusan untuk meninggalkan musik yang tidak terdengar menarik di selang 5 detik saja. Dengan remote control di tangan, sebegitu mudah untuk segera mengganti saluran televisi maupun radio, ataupun internet apabila melihat suguhan musik seni yang bisa jadi tidak menarik.

Nyatanya harus dikatakan dibutuhkan segenap keterlibatan ekologis kebudayaan untuk mengubah persepsi yang cukup mengakar terutama dalam menanamkan sebuah nilai. Apabila seorang anak tidak diajarkan bahwa uang kertas itu bernilai, dia akan dengan mudahnya mencoret-coret ataupun menyobeknya seperti sebuah kertas biasa. Demikian juga di pendidikan formal dengan mata pelajaran lain seperti Matematika dan Bahasa Indonesia. Mengaitkan matematika sebagai sebuah keterampilan yang penting di masyarakat sehingga wajib dipelajari dan dianalisis, suka maupun tidak suka, adalah sebuah penanaman nilai. Demikian juga dengan bahasa, bahkan dikaitkan dengan nasionalisme, identitas sebagai sebuah bangsa dan isu praktis. Terlihat bahwa proses intelektual adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dalam melihat nilai sebuah objek dan bagaimana pendidikan memegang peranan penting dalam proses penanaman nilai tersebut.

Kenikmatan itu tidak akan ada tanpa proses menikmati, juga tidak akan ada apabila tidak ada proses intelektual untuk menilai suatu benda dan merelasikan diri dengannya. Gagalnya musik menjadi bagian dari kehidupan intelektual secara tidak langsung mengasingkan diri dari pentingnya musik sastra dan seni untuk menjadi bagian dari masyarakat lewat pentingnya pendidikan dalam menanamkan nilai musik sebagai sebuah ilmu, ataupun musik seni/sastra sebagai salah satu dari sekian banyak pilihan yang bernilai di masyarakat.

‘Menikmati’ hanya berhenti di satu proses, sedangkan kegamangan untuk memilih di masyarakat dewasa ini butuh lebih dari sekedar ‘menikmati’. Untuk membongkar itu semua butuh campur tangan banyak pihak. Proses ‘intelektual’ baik analisis secara umum tentang signifikansi seni dan bagaimana komponen ekologi seni bekerja untuk maupun analisis dan penyampaian seni dari sisi intrinsik memiliki perannya masing-masing.

Yang perlu dibongkar adalah pandangan borjuis akan musik sastra dan gelagat sebagaian kalangan elit yang menggunakan seni sebagai bagian dari pembeda kelas mereka dari orang lain, yang membuat seni seakan susah diakses karena sepertinya hanya untuk orang-orang tertentu saja. Asosiasi inilah yang perlu ditantang terlebih dahulu, dan bukan sikap analitik dan kritis yang melandasi kehidupan intelektual.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: