Kabar Terkini

Oratorio Natal dalam Balutan Instrumen Kuno


Enam buah kantata membentuk sebuah rangkaian besar oratorio. Inilah karya Johann Sebastian Bach, Oratorio Natal BWV 248 yang ditulis tahun 1734 di Leipzig. Durasinya yang mencapai 3 jam lebih menjadi bukti kepiawaian Bach dalam mengolah musik.

Dalam karya ini, Bach menceritakan kisah Natal dan bahkan mengangkat lagu-lagu profan (non-religius) menjadi sebuah karya yang bercorak rohani yang kokoh. Ia membuat karya baru dan juga mendaur ulang karya-karyanya terdahulu, termasuk karya kontata profannya, menempatkannya dalam konteks natal. Sebagai seorang komponis yang ulung sekaligus juga produktif, Bach ternyata cerdik pula menggali karya-karya lamanya dan menyulapnya untuk menjadi bagian dari sebuah karya baru yang seringkali lebih populer dari karya lamanya.

Oratorio Natal kali ini ditampilkan oleh Academy of Ancient Music dan paduan suaranya. Academy of Ancient Music (AAM) adalah sebuah orkestra bercorak barok dan klasik yang menggunakan instrumen-instrumen kuno untuk mengangkat bebunyian asli yang digarap oleh komponis-komponis 200-400 tahun yang lalu ketika teknologi instrumen belum semaju sekarang. Namun demikian otentisitas inilah yang dicari dalam orkes seperti AAM ini. Bermarkas di Cambridge, AAM pun juga membina residensi di Barbican Centre, kompleks kesenian milik kota London, sebagai associate ensemble.

Empat orang solois tampil semalam. Pujian patut dilayangkan kepada tenor James Gilchrist yang membawakan peran Evangelist dan juga solois tenor pada pergelaran semalam. Suaranya yang renyah sekaligus penuturan kisahnya yang mengena dan hidup menjadi titik tumpu pergelaran semalam. Barbara Kozelj sebagai solois alto pun tampil dengan suara yang hangat dan empuk yang memberikan warna dan landasan yang elastis. Bass Ashley Riches dan soprano Lorna Anderson juga mengambil bagian dalam penampilan ini. Anderson sendiri menggantikan soprano Susan Gritton yang mengundurkan diri dari penampilan semalam.

Choir of the AAM tampil dengan solid meski hanya diperkuat 20 orang. Tampil dengan suara yang kokoh, Choir of the AAM, memberi warna yang tebal dan meyakinkan meskipun jelajah dinamika dapat lebih tergarap. Demikian juga dengan orkes AAM sendiri yang mengambil bentuk orkestra kecil. Tampil dengan instrumen kuno, AAM memiliki jiwa dan semangat yang kuat, pula diikuti dengan eksekusi yang cemerlang. Seksi gesek tampil meyakinkan sedang kontinuo fasih dan kompak, terlebih dalam garapan resitatif. Barisan tiup kayu bergeliat hidup. Perhatian lebih lanjut memang perlu diberikan kepada seksi tiup logam, terutama barisan trompet, yang malam kemarin tampil kurang prima. Memang harus dikatakan tampil dengna instrumen kuno menjadi sebuah tantangan yang berbeda bagi para musisi di mana kontrol nada menjadi lebih sulit dan tidak terduga dikarenakan keterbatasan teknologi instrumen. Namun demikian, sentuhan instrumen kuno selalu asik untuk dinikmati karena dapat menampilkan interpretasi lain dari karya dan ruang suara yang kita persepsikan.

Richard Egarr selaku konduktor sesekali berdiri mengaba, sesekali duduk menghadap harpsichord yang melintang di tengah panggung. Direktur musik AAM sekaligus harpsichordis ulung ini memimpin seluruh barisan orkestra dan paduan suara dengan lincah dan terkadang sembari duduk memimpin sembari memainkan alur kontinuo dari depan harpsichord. Gerakannya cakap dan mendetail, namun seringkali tidak begitu tercermin oleh eksekusi dari para pemusik yang berada di barisannya. Meskipun penampilan tergolong detail dan sangat baik namun tampak bahwa permainan bisa lebih cemerlang dan memikat. Permainan musik pun sempat lambat panas, namun setelah separuh bagian pertama dari enam mulai menampakkan tajinya dan terus terjaga hingga akhir.

Tiga jam keindahan musik adalah penutup yang cantik dari pekan menjelang Natal ini. Dan Oratorio Natal dari Bach selalu mampu menangkap esensi Natal dengan cermat, meskipun merupakan bentuk daur ulang (parodi) dari karya-karya sebelumnya. Musik memang multi-tujuan, tergantung dari pengemasan pesannya dan AAM menunaikan tugasnya dengan baik malam ini.

AAM2 AAM1

Iklan
About mikebm (1262 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Oratorio Natal dalam Balutan Instrumen Kuno

  1. wahhhh kereeennn, Selamat natal 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: