Kabar Terkini

Musik Natal Berdampak Negatif Pada Penjualan Toko, Benarkah?


xmas-shopping1Bulan Desember selalu menjadi bulan yang identik dengan natal. Hampir di seluruh tempat perbelanjaan akan terdengar lagu-lagu natal favorit, seperti Jingle Bells, Joy to the World, dan We Wish you a Merry Christmas. Fenomena lagu natal ini ternyata menarik para peneliti psikologi musik untuk mencari tahu apakah lagu-lagu natal ini memiliki pengaruh terhadap tingkah laku manusia. Ternyata hasil penelitian menemukan dampak negatif terhadap penjualan toko ketika memainkan lagu natal di pusat perbelanjaan. Apakah dampak negatifnya?

Berdasarkan penelitian dari Eric R. Spagenberg, Bianca Grohmann, dan David E. Sprott di Amerika pada tahun 2005, musik natal yang dimainkan di pusat perbelanjaan mengurangi keinginan pelanggan untuk kembali ke toko yang sama dan menimbulkan sikap negatif seseorang terhadap toko tersebut. Reaksi seseorang terhadap toko yang memainkan lagu natal juga berbeda dengan toko yang memainkan bukan lagu natal. Toko yang memainkan lagu natal dianggap kurang nyaman dan kurang menggugah seseorang untuk membeli sesuatu di toko tersebut. Hal yang menarik dari penelitian tersebut adalah jika musik natal dimainkan di dalam toko yang memiliki aroma nuansa natal (seperti bau kayu manis, vanila, dan bau-bauan yang dianggap khas natal), maka pandangan orang terhadap toko tersebut akan jauh lebih positif dibandingkan jika hanya dimainkan musik natal tanpa aroma nuansa natal. Toko dengan musik dan aroma nuansa natal membuat sikap seseorang lebih positif terhadap toko tersebut, memiliki keinginan untuk barang di toko dan kembali ke toko tersebut di lain waktu.

Mengapa memainkan lagu natal bisa membuat pandangan seseorang terhadap toko menjadi lebih negatif? Hal ini diduga terjadi karena biasanya lagu natal di dalam toko akan dimainkan berulang-ulang. Bisa saja 1 album natal yang sama dimainkan belasan kali dalam satu hari dan akan diulangi keesokan harinya. Penelitian dari Yuko Morimoto dan Renee Timmers pada tahun 2012 menemukan bahwa mendengarkan musik yang sama berulang-ulang dapat direpresentasikan seperti U terbalik. Pada awalnya mendengarkan suatu lagu, seseorang akan antusias mendengarkan, menyukai lagunya, dan merasa lagu yang didengarkan menarik. Tetapi setelah beberapa kali mendengarkan lagu yang sama, seseorang akan bosan dan merasa terganggu dengan lagu tersebut.

enhanced-11672-1419377155-14

Hal ini mungkin bisa menjadi rekomendasi untuk pengelola toko ketika natal untuk tidak memainkan lagu natal yang sama secara berulang-ulang dalam waktu yang dekat. Orang-orang yang berada di suatu toko dalam waktu yang lama akan merasa bosan mendengar lagu yang sama diputar berkali-kali. Sebenarnya hal ini bisa dikatakan tidak hanya berlaku ketika musim natal saja, tetapi untuk kapanpun agar suatu toko tidak mengulang playlist yang sama dalam waktu yang dekat dan memainkan lagu yang lebih bervariasi. Faktor-faktor lain di luar musik yang dimainkan juga perlu menjadi pertimbangan seperti pelayanan toko tersebut atau diskon yang diberikan toko. Bila memang suatu toko sedang melakukan diskon besar-besaran, mungkin orang-orang sudah tidak peduli dengan musik yang dimainkan dan akan fokus berbelanja. Jadi bila Anda sudah bepergian ke pusat perbelanjaan hari ini, sudah berapa kali Anda mendengar musik natal dimainkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: