Kabar Terkini

Menelaah Celah Dana Abadi


Bagi banyak organisasi seni dan yayasan di Indonesia, dana abadi adalah terkadang sebuah impian yang dicita-citakan. Memiliki sebuah cadangan dana yang bisa menghidupkan organisasi. Tapi ada kalanya dana abadi ternyata tidak secemerlang yang dicita-citakan.

Dana abadi adalah sebuah cadangan dana yang disisihkan oleh lembaga non-profit untuk kemudian dikembangkan. Dana abadi ini bukanlah dana darurat, melainkan sebuah dana yang disisihkan untuk kemudian digulirkan untuk kemudian menghasilkan tambahan baik berupa bunga maupun bagi hasil. Dan dari hasil inilah yang kemudian digunakan untuk kehidupan organisasi. Dana abadi ini baik untuk kemudian mencoba menghidupkan operasional organisasi seperti upah karyawan, perawatan gedung dan fasilitas, serta biaya listrik dan air yang terus ada tiap bulan.

Bagi sebuah organisasi untuk memiliki sebuah dana abadi, dapat dikatakan dapat menyelamatkan. Ada kekhawatiran yang kemudian tersisihkan karena biaya operasional dapat tertangani. Namun ada satu sandungan untuk dana abadi tipe ini, yakni tergantung dengan kondisi ekonomi.

Dana abadi idealnya adalah sebuah cadangan dana yang sebisa mungkin tidak disentuh dalam membiayai kegiatan organisasi. Namun demikian, dana abadi ini berhak dikelola untuk kemudian menghasilkan pendapatan yang dapat digunakan untuk organisasi. Dana abadi ini kemudian dapat diinvestasikan yang kemudian bunganya dapat digunakan untuk kepentingan organisasi. Cara ini terbilang efektif, karena pembiayaan operasional biasanya tidak sedikit dan biasanya sulit untuk didukung penyumbang/donatur. Donatur biasanya tertarik mendukung untuk proyek besar, namun tidak banyak yang peduli bahwa air dan listrik adalah pengeluaran yang rutin dan besar, terlebih untuk menggaji tenaga administrasi back-office yang tidak ikut serta dalam proyek.

Dana abadi ini sebenarnya berfungsi bagai sebuah tabungan investasi yang berasal dari uang yang menganggur. Uang tersebut kemudian dapat diinvestasikan yang kemudian hasilnya dapat menjadi pendapatan pasif bagi si penabung. Dan sebagaimana peraturan investasi manapun, lebih besar resiko, lebih besar pendapatan (gain) yang didapat. Untuk mendapatkan bunga yang tetap namun mungkin tidak seberapa besar, deposito bisa jadi pilihan ideal, tapi untuk meraih bunga yang besar dan mampu mengejar inflasi, dana abadi mungkin perlu diinvestasikan dalam reksadana, obligasi maupun langsung ke pasar saham.

Untuk mengejar tidak tekor akibat inflasi, tidak sedikit organisasi yang kemudian menggunakan instrumen saham untuk memutar uang dan menghasilkan untung yang lebih baik. Namun kenyataan pun seringkali tidak berpihak pada organisasi ini, salah satunya adalah apabila krisis ekonomi merebak.

Krisis ekonomi 2008 di Amerika Serikat dan Eropa juga memukul sektor kreatif dan non-profit. Di satu sisi, pemberian dan sumbangan besar perlahan mengecil ataupun ada yang kemudian menghilang akibat menipisnya cadangan uang para donatur. Mereka pun memilih untuk tidak menyumbang dahulu dalam masa-masa sulit ini. Di sisi lain, mengerutnya hasil dari pasar saham kemudian juga berdampak pada mengerutnya bunga dana abadi tersebut, yang kemudian menyebabkan turunnya pendapatan hasil dari dana abadi. Akibatnya dana yang terdahulu dapat menutup biaya operasional mungkin menjadi lubang yang menganga yang tidak mudah untuk dicari tambalnya.

Krisis seperti ini seringkali datangnya tiba-tiba dan tidak bisa diperkirakan. Sedang untuk menggalang dana seringkali juga tidak bisa mendadak dan malah akan terkesan bahwa organisasi tidak siap dan sigap. Karenanya adalah wajib bagi penggerak seni juga memantau kondisi ekonomi secara umum dan pergerakan pasar untuk mampu mencium gelagat ekonomi yang mungkin akan membahayakan organisasi.

Bagi organisasi manapun tentu perlu diingat bagaimana dana abadi berfungsi dan perlu cermat sekali dalam mengelolanya, apabila tidak celah ini malah bisa jadi sebuah lubang yang menjerumuskan.

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: