Kabar Terkini

Rajutan Bunyi Slamet Abdul Sjukur


Nama Slamet Abdul Sjukur sepertinya sudah identik dengan kata “kontemporer”. Kontribusinya bagi dunia musik kontemporer Indonesia tidak dapat kita kesampingkan. Karya-karyanya selalu mengundang komentar, entah bernada positif maupun negatif. Suka atau tidak suka merupakan hak pendengar, dan itu juga yang terus dipegang teguh oleh Mas Slamet, panggilan akrabnya. Baginya, jika para pendengar menyukai karyanya ya syukur, jika tidak suka juga tidak apa-apa. Dengan falsafah seperti itu, nyatanya banyak yang jatuh hati pada karya-karya beliau, juga pada kehidupan beliau yang bisa dibilang cukup eksentrik. Mengutip kata-kata Ricky Jap, komponis yang juga merupakan murid beliau, “hidupnya adalah musiknya, dan musiknya selalu hidup”, dan bolehlah juga kita memandang musiknya sebagai representasi hidupnya.

Sepeninggal Mas Slamet, karya-karyanya masih sering menjadi topik diskusi dan juga ditampilkan dalam bentuk konser, seperti yang diadakan Sekolah Musik Gitanada pada hari Minggu, 20 Desember 2015 yang lalu. Bertempat di Galeri Cemara, konser berbentuk mini tersebut diadakan pada sore hari dalam suasana informal, dengan diawali dan diakhiri santap bersama. Menteng sore itu diguyur hujan ringan, tapi puluhan pecinta karya Mas Slamet tetap hadir untuk bersama merayakan musik beliau.

Selain tiga karya Slamet Abdul Sjukur (Air…., Kabut, dan Gameland No. 5), konser tersebut juga mengetengahkan karya-karya Soe Tjen Marching, Gema Swaratyagita, Oke Kaawoan, dan Ricky Jap. Para komponis Indonesia tersebut merupakan beberapa murid Mas Slamet yang mengikuti jejak beliau dalam pemaknaan bunyi. Karya-karya mereka pun dimainkan oleh murid-murid Mas Slamet, sehingga konser sore itu seakan menjadi persembahan murid-murid beliau.

IMG_8663

 

Konser dibuka oleh Ariani yang memainkan Air…., karya Mas Slamet yang didedikasikan untuknya. Karya berdurasi satu menit tersebut penuh dengan not repetisi yang ditingkahi not-not “liar” yang menyempal, seperti titikan air hujan yang jatuh dan tempias tanpa dapat diprediksi arahnya.

IMG_8664

Suasana langsung berubah muram ketika program dilanjutkan dengan Alexander, karya Soe Tjen Marching yang dimainkan oleh Inge G. Hiunata pada piano, Josephine Chrestella pada violin, dan Rachman Noor pada cello. Dentingan piano membuka karya ini dengan lirih, menghadirkan suasana kelam di ruangan konser, terutama setelah kedua instrumen gesek memainkan bunyi-bunyi secara perlahan tapi berintensitas penuh.

IMG_8666

Berikutnya giliran Tessa Prianka dan Cindy Virginia Djohan membawakan Kabut karya Slamet Abdul Sjukur dan Batu karya Gema Swaratyagita. Penampilan mereka boleh dibilang sudah cukup maksimal; meskipun demikian sulit bagi penonton untuk melupakan penampilan sempurna Ika Sari Wahyuningsih yang diiringi Mas Slamet sendiri tahun lalu (baca: Berlaku Adil kepada Slamet Abdul Sjukur). Pada Batu, Tessa menunjukkan kebolehannya dalam mengeksekusi karya kontemporer. Interval-interval sulit dapat dijangkau seakan dengan mudah.

IMG_8670

Bersama Josephine Crestella dan Ariani, Tessa kembali tampil untuk membawakan Soma karya Oke Kaawoan. Karya ini ditulis untuk vokal, balok kayu, dan violin. Penonton diajak untuk hening, peka terhadap suara-suara yang dihasilkan oleh ketiga instrumen tersebut. Pola yang berulang seakan mengiringi praktek meditasi Zen, mencoba membangun kesadaran penuh akan tubuh.

IMG_8673

Karya berikutnya, Gema, mengeksplorasi gema yang ditimbulkan senar piano saat ditiup trompet. Karya Ricky Jap ini dibawakan dengan sangat apik oleh Harley Maximilian Davy Putra pada trompet dan Jennifer Johannes pada piano.

IMG_3310

Konser sore itu ditutup dengan karya Slamet Abdul Sjukur untuk instrument mulut, kemanak, piano, dan gong: Gameland No. 5. Karya ini dibawakan secara solo oleh Cicilia Indah Yudha. Bagian pertama, “Biarkan Bunyi Berbicara Sendiri”, menjadi ajang eksperimen bagi Cicilia untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan bunyi yang bisa ditimbulkan dari tepukan tangan, permainan mulut, dan kemanak. Bagian kedua, “Sungai”, menggunakan instrumen piano yang memang menjadi spesialisasinya. Cicilia mampu menghadirkan permainan air yang tenang dan kadang bergemuruh. Bukan hanya memainkan papan nada, bagian dalam piano pun tidak luput dimainkan langsung. Bagian ketiga, “Seandainya”, Cicilia memainkan gong membelakangi penonton. Inilah tantangan terbesar bagi seorang pianis untuk memainkan instrumen yang penuh balutan mistis itu.

Perpindahan antarbagian juga sepertinya sedikit memecah konsentrasi, baik konsentrasi pemain maupun penonton. Harus memindahkan mikrofon, partitur, dan lain sebagainya tentu membuat fokus sedikit pecah. Meskipun demikian, salut kepada Cicilia yang mampu melakukan semuanya sendirian.

Sedikit kejutan di luar program, Anto Hoed dan Melly Goeslaw yang hadir juga sore itu didaulat untuk menyumbangkan lagu. Dalam rangka mengenang Prof. Dr. Benny Hoed yang berpulang pada November lalu, mereka menyanyikan lagu Bunda. Pasangan suami-istri ini, terutama Anto Hoed, terlihat sangat emosional mengenang ayah mereka. 

Konser yang penuh suasana kenangan itu pun menjadi konser penutup tahun 2015. Menarik ditunggu kiprah para murid Slamet Abdul Sjukur di tahun-tahun ke depan. Semoga bunyi tetap mendapat tempat di hati. (tim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: