Kabar Terkini

Teori Musik dan Pemahaman Musik

Yang mana yang benar?

Selaku guru teori musik, saya kadang mendapat keluhan dari murid-murid musik muda maupun berpengalaman yang merasakan bahwa teori musik itu sulit atau tidak terlalu relevan dengan pendidikan musik yang mereka tempuh. Adakalanya mereka yang mengikuti kelas teori merasa terpaksa karena diwajibkan oleh pihak sekolah.

Hal mirip pun pernah saya rasakan walaupun berkait dengan bidang studi yang lain: berjuang dengan segenap tenaga menghafal rumus integral dan diferensial di kelas matematika dan pada waktu yang bersamaan menanyakan pada diri saya manfaat praktis apa yang saya peroleh dari menulis lambang sigma tanda kurung untuk sekian kalinya. Setelah lulus kuliah baru saya menyadari bahwa matematika adalah salah satu bidang studi yang sungguh-sungguh melatih kita berpikir secara deduktif dan induktif, membantu berpikir dengan logis dan rasional dalam kehidupan sehari-hari kita.

Ilmu bidang manapun mempunyai keuntungan praktis tersendirinya, dan saya kira pengetahuan teori musik juga memiliki berbagai macam keuntungan.

Teori musik adalah cabang ilmu tentang praktik-praktik dan peluang dalam musik. Sering ada kesalahpahaman bahwa musik yang menyalahi aturan teori musik adalah musik yang buruk. Padahal teori musik sendiri tidak memperdebatkan jenis musik mana yang indah dan mana yang tidak, melainkan menelaah karya-karya yang digubah oleh komponis-komponis dari yang terdahulu hingga sekarang dan menggarisbawahi suatu kecenderungan pada karya-karya tersebut.

Oleh sebab itu musik memiliki banyak peluang—konsep yang sama sekali tidak asing di ilmu matematika—dan dengan teori musik, kita dapat berkesimpulan apakah peluang tersebut mencerminkan kecenderungan musik pada zaman itu. Perlu diingat saja bahwa musik sendiri harus didahulukan daripada teori.

Mengulik lagu dengan formula

Mengulik lagu dengan formula

Namun untuk masyarakat luas, apakah kita harus memiliki pemahaman teori musik tertentu untuk benar-benar mengapresiasi penuh musik klasik? Jawaban saya antara iya dan tidak. Di satu sisi, kita tidak bisa bilang bahwa seorang ahli musikologi yang bergelar doktor lebih bisa menikmati Für Elise daripada seorang amatir yang baru belajar piano selama setahun.

Namun di sisi lain, teori musik dapat membantu kita memerhatikan sejumlah detail musikal yang mungkin kita lewatkan atau abaikan tanpa pengetahuan teori yang cukup: dari pengamatan yang bersifat umum seperti, “Wow, bagian pianonya semakin heboh di sini!” ke yang lebih mendetail seperti, “Wow, terdengar sekali yang permulaannya adalah kanon yang sederhana lambat laun menjadi sebuah polifoni yang megah!” Dengan itu kita bisa melahirkan pendapat tentang sebuah karya dengan istilah-istilah musik yang sesuai.

Saya sama sekali tidak menyiratkan bahwa orang yang tidak paham teori musik tidak bisa menikmati musik klasik atau hanya bisa menikmati musik pop atau genre non-klasik lainnya yang terdengar lebih “sederhana”. Dalam genre musik klasik sendiri ada banyak karya-karya yang mudah diakses, dan mayoritas dari pendengar musik klasik cenderung menikmati musik tersebut secara spiritual yang mendalam. Dengarkan saja karya-karya pokok seperti Für Elise, salah satu Gymnopédies­-nya Satie, atau Rondo alla Turca-nya Mozart. Siapa yang tidak menyayangi karya-karya tersebut?

Kursus teori kilat juga ada

Kursus teori kilat juga ada

Di satu sisi, tidak ada salahnya kita belajar teori musik, tetapi teori musik tidak bisa menjamin kita menikmati musik lebih dari sebelumnya. Ketika saya mendengarkan musik yang lebih kompleks seperti karya-karya dari Bach, Hindemith atau Prokofiev, saya tidak terlalu benyak memikirkan modulasi-modulasi canggih di fuganya Bach, penggunaan poliritme di Hindemith, atau progresi akor yang unik di Prokofiev. Namun saya hanya mencoba mendekatkan diri pada musik tersebut pada tingkat emosional dan menikmati alunan lagu secara alamiah.

Apabila saya diajak tonton konser Threnody for the Victims of Hiroshima karya Penderecki atau 4’33’’ karya Cage, saya mungkin akan menolak karena saya sendiri belum bisa menikmati karya-karya tersebut walaupun teknik komposisi yang digunakan sudah saya pelajari dan khatamkan.

Di sisi yang lain, dengan menganalisa musik, apresiasi pada musik yang kita dengarkan semakin bertambah. Kita bisa mengapresiasi bagaimana Mozart menyusun semua nada-nada dengan teratur dan mencapai keseimbangan antara struktur dan melodi, atau bagaimana Brahms selalu mengembangkan motif melodi yang semula pendek menjadi kalimat musik yang panjang dan membahana dengan indah.

Saya pernah ditanya apabila penguasaan teori musik hanya akan melunturkan “keajaiban” dan misteri di balik lagu yang bersangkutan. Saya sendiri tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Pertama, di bidang studi manapun selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari. Sebagai contoh, ilmu fisika dan kimia yang kita dapatkan hingga sekarang belum mampu menjawab semua misteri alam semesta walaupun kita sudah melakukan ribuan pembuktian matematika dan menciptakan mesin-mesin berteknologi mutakhir yang memiliki kecepatan kalkulasi yang luar biasa. Oleh sebab itu mencari ilmu adalah sebuah proses yang tak pernah berakhir, seperti halnya teori musik yang terus berkembang seiring dengan waktu.

Kedua, teori musik justru mengubah persepsi saya terhadap musik yang bersangkutan menjadi lebih “ajaib”. Saya bisa mengamati bagaimana nada-nada yang ditulis Mozart berpatutan dengan model atau kecenderungan yang diprediksi oleh teori musik. Sebagian besar prediksi tersebut benar, tetapi masih ada praktik-praktik dalam musik yang berbeda jauh dari prediksi dan menuai banyak pertanyaan, dan ini adalah proses yang sangat ilmiah dan misterius dalam arti yang baik.

Ini bacanya gimana ya?

Saya sendiri berpendapat bahwa jangan ada paksaan untuk belajar jika belum ada keinginan. Teori musik adalah ilmu yang harus diserap langkah demi langkah karena mencakup sejarah musik yang ratusan tahun lamanya dan tiap zaman yang berbeda memiliki kompleksitas tersendiri. Dan sebenarnya kita bisa menambah wawasan dan apresiasi kita pada musik cukup dengan menyisihkan waktu luang untuk mendengarkan karya-karya baru dengan sungguh-sungguh.

Terkadang saya merasakan ada banyak orang tidak memberikan kesempatan pada musik klasik, seperti orang tua saya yang menyetel musik klasik supaya bisa tidur cepat, atau teman saya yang hanya mendengarkan musik klasik di konser atau resital, tetapi sehari-hari hanya mendengarkan musik pop.

Saya lontarkan satu pertanyaan kepada para pembaca terhormat: kapan terakhir kali Anda seorang diri duduk dengan santai dan tenang sambil mendengarkan sebuah karya musik klasik dan membenamkan pikiran Anda dalam musik tersebut tanpa gangguan sedikit pun?

Pemahaman teori musik itu penting, tetapi bukan hal yang absolut dan satu-satunya cara untuk betul-betul mengapresiasi dan memahami penuh musik klasik. Musik klasik (atau musik apapun) tidak bisa diobjektifikasi karena pengertian dan penikmatan musik adalah sesuatu yang bisa dibilang sangat pribadi dan intim. Teori musik sangat berguna untuk menjelaskan mengapa sebuah komposisi musik terdengar seperti itu, dan bagaimana proses komposisi tersebut bermula dan berakhir.

Saya percaya orang-orang yang saat ini menempuh pendidikan musik klasik akan bisa memperkaya permainan mereka dengan ilmu teori musik yang kuat, dan saya tidak ingin mereka memiliki persepsi bahwa teori musik adalah sesuatu yang abstrak dan sulit selama punya kesabaran dan dedikasi pada musik yang tinggi.

You cannot just be a musician, you have to be a complete musician.

About Hazim Suhadi (12 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: