Kabar Terkini

Disc Tarra Bubar Akibat Rendahnya Kelincahan Bisnis


Beberapa media di bulan November mengabarkan bahwa salah satu jaringan gerai penjual akan menutup sebagian besar gerai retail musiknya di kota besar (CNNIndonesia, Rolling Stone, Kompas.com). Disc Tarra sebagai salah satu raksasa jaringan retail musik akhirnya menyusul kompetitornya Aquarius Mahakam yang tutup di tahun 2013 lalu. 40 gerai tutup November lalu dan kini seluruh gerai Disc Tarra yang berjumlah 100 dikabarkan tutup. Dan dapat dikatakan rendahnya kelincahan bisnis telah memukul bisnis ini terlalu jauh.

Kabar yang banyak dilansir media massa arus utama lebih banyak mengkritisi perkembangan digital yang menggerus kehadiran toko brick and mortar (toko fisik) macam Disc Tarra. Kritikus Bens Leo seperti dilansir Okezone.com malah mengatakan bahwa hal ini disebabkan siklus industri musik yang terjadi. Namun permasalahan terbesar yang dapat digarap adalah sesungguhnya kegagalan Disc Tarra dalam memprediksi pasar dan menciptakan kelincahan dalam bermanuver dalam bisnis.

Berbagai upaya telah dilakukan Disc Tarra, salah satunya adalah perlahan mengubah toko ini menjadi sebuah toko gaya hidup, dengan menempatkan bangku yang nyaman dan menjual secangkir kopi dan teh seperti yang dilakukan di gerainya di Grand Indonesia. Ia juga sudah merambah bisnis online dengan menjual CD dan DVD melalui media toko online di DiscTarra.com yang kini sedang menjalani make-over besar-besaran.

 

Disc Tarra disebutkan akan tetap mempertahankan beberapa gerai utamanya, tapi baru disebutkan akan berkonsentrasi untuk menggarap bisnis digital. Sayangnya Disc Tarra sedikit terlambat. Dan ini semua disebabkan lambannya bisnis dalam melihat peluang dan celah.

Dalam menggarap toko gaya hidup, kehadiran Disc Tarra agaknya menimbulkan banyak kebingungan. Kehendak untuk mempertahankan bisnis brick & mortar CD dan DVD hanya bercampur dengan menempatkan mesin kopi dan teh terkesan sebagai sebuah bisnis sampingan yang enggan bertransformasi secara total. Kehadiran meja dan kursi serta sedikitnya pengunjung kedai kopi dan toko musiknya hanya menampakkan betapa lemahnya posisi Disc Tarra beberapa tahun terakhir untuk menggarap pasar yang mereka telah miliki.

Demikian juga dengan pengembangan toko online mereka. Ketika pergeseran bisnis musik online mulai menggerus pasar, Disc Tarra hanya berdiri menantikan arus itu datang dengan bersiap membuka toko CD dan DVD online, dimana pembeli dapat membeli CD dan DVD namun produk masih akan dikirim secara fisik ke alamat pelanggan. Sebuah pengembangan yang agaknya separuh-separuh, terlebih setelah terbilang raksasa sebesar Disc Tarra sebenarnya telah memiliki jaringan dan relasi dengan berbagai label dan distribusi musik beserta pelakunya.

Tidak gesitnya manajemen Disc Tarra dalam menggarap kemungkinan bisnis yang ada dan secara lebih berani berinovasi telah memukul mundur bisnis ini terlalu keras. Dengan dikabarkannya lewat media massa bahwa Disc Tarra akan menutup gerainya secara langsung menunjukkan betapa rapuhnya posisi Disc Tarra dan ditangkap oleh pelanggannya. Tidak gesitnya Disc Tarra juga terlihat bagaimana Tarra tidak mampu menangkap pergerakan industri musik yang semakin mengarah pada bisnis pertunjukan live yang tergolong memiliki profitabilitas cukup. Pengembangan bisnis yang terlalu jauh dari bisnis utama dan kompetensi seperti membuka kedai, menjadi sandungan bagi bisnis yang menimbulkan persepsi inkompetensi di sisi manapun yang mereka lakukan. Keberanian Disc Tarra untuk menjadi gerai online yang sepenuhnya bertumpu pada streaming juga tidak kunjung dilakukan, menjadikan model online shop musik sebagai bentuk bisnis yang juga setengah-setengah. Mengubah toko menjadi toko gaya hidup juga tersandung dalam gayanya yang lebih mainstream dan bukan mengubahnya menjadi toko yang lebih eklektik yang menekankan pada pengalaman pengunjung sebagai produk yang berbeda dengan membeli di toko online.

Memang harus diakui bahwa bisnis unduhan musik secara ilegal masih marak dan semakin marak di Indonesia. Dan walaupun perusahaan ini telah melebarkan sayap ke unduhan dan streaming digital, belum tentu Disc Tarra akan dapat berhasil bersaing dengan ruang lain seperti Spotify, Amazon, dan iTunes dari berbagai kawasan mancanegara. Namun tidak bergeraknya Disc Tarra menandakan keragu-raguan dalam berbisnis dan berinovasi.

Namun sebagaimana dikabarkan Detik.com, bahkan kantor pusat Disc Tarra sudah berubah fungsi dan tidak dapat dihubungi. Seluruh karyawan pun dikatakan bungkam dan telah dirumahkan per tanggal 31 Desember lalu. Nasi sudah menjadi bubur, dan kerusakan telah terjadi. Nama Disc Tarra yang dahulu dapat dikatakan sebagai salah satu brand utama dalam bisnis penjualan rekaman kini terkubur dalam jejak sejarah dan sulit untuk dihidupkan dan dibersihkan kembali. Sudah terlambat untuk bergerak.

Disc Tarra ternyata hanya akan menjadi sebuah brand yang perlahan akan dilupakan zaman. Sayang sekali.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: