Kabar Terkini

Playlist Bulan Januari


Atas nama keluarga Musical Promenade, saya ingin mengucapkan “Selamat Tahun Baru 2016” bagi semua pembaca yang saya hormati. Untuk menyambut tahun baru ini, saya sudah menyusun playlist yang berisikan karya-karya yang menyungging senyum dan menoreh kesan yang terdalam.

1.  Mendelssohn, Felix – Prelude and Fugue No. 1 in E minor, Op. 35

Walaupun Mendelssohn dikenal sebagai salah satu komponis era romantik kawakan Jerman, ia tetap setia pada tradisi barok dan klasik. Mendelssohn sendiri yang juga “menghidupkan” kembali karya-karya Johann Sebastian Bach–salah satunyanya pertunjukan ulang St. Matthew Passion pada tahun 1829–yang terlanjur terlupakan oleh publik. Karya ini mencerminkan dedikasi Mendelssohn pada tradisi barok yang dipelopori Bach.

2.  Bach, Johann Sebastian – Nun ist das Heil und die Kraft, BWV 50

Karya ini adalah sebuah fragmen dari kantata yang telah hilang. Walaupun demikian, karya ini mewujudkan suatu keagungan yang tidak tertandingi. Kantata ini unik karena membutuhkan kekuatan orkes yang lebih besar dari biasanya dan kontrapung antara suara-suara membenang dengan kompleksitas yang sangat memukau.

3.  Bax, Arnold – Violin Sonata No. 2: II. The Grey Dancer in the Twilight

Karya sonata untuk violin dan piano ini mencerminkan kegelisahan Bax, komponis asal Inggris, di ambang Perang Dunia Pertama. Rasa risau ini terdengar jelas di gerakan kedua, gerakan yang Bax sebut menyerupai “dansa kematian” dengan suara violin yang sengaja redam.

4.  Brahms, Johannes (arr. Schönberg, Arnold) – Piano Quartet No. 1 in G minor, Op. 25: III. Andante con moto – Animato

Kuartet untuk piano, violin, viola dan cello ini diorkestrasi Schönberg atas dorongan pengaba Otto Klemperer yang memegang orkes Los Angeles Philharmonic. Aransemen ini diperdanakan untuk mengiring acara balet modern. George Balanchine yang menyutradai balet tersebut berkata bahwa musik kamar tidak cocok dijadikan lagu balet karena terlalu panjang dan ada terlalu banyak pengulangan.

5.  Glass, Philip – String Quartet No. 3, “Mishima”: I. 1957: Award Montage (aransemen untuk kuartet mandolin)

Karya berestetika minimalis ini semula digubah sebagai soundtrack film berjudul Mishima: A Life in Four Chapters yang menceritakan penulis asal Jepang Yukio Mishima, penulis ultra-nasionalis yang mengakhiri hidupnya dengan seppuku. Pengulangan progresi akor dalam tangga-nada minor yang terus-menerus memberikan kesan hipnotik sekaligus meditatif.

6.  Mozart, Wolfgang Amadeus – Oboe Concerto in C major, K. 271k/314: I. Allegro aperto

Konserto untuk obo dan orkes ini yang merupakan bagian dari repertoar standar dikenal karena melodinya yang mengesankan dan indah. Mozart pernah dikomisikan oleh pemain suling asal Belanda, Ferdinand De Jean,  untuk menggubah konserto untuk suling. Namun Mozart, mungkin karena kurang waktu atau malas, memilih mengaransemen konserto obo ini untuk suling. Tentu Ferdinand marah besar.

7.  Prokofiev, Sergey – Violin Concerto No. 1 in D major, Op. 19: III. Moderato – Allegro moderato – Moderato – Piu tranquillo

Pertunjukan perdana konserto untuk violin ini bisa dinilai tidak sesukses yang Prokofiev sendiri harapkan. Diperdanakan di Prancis pada tahun 1917, konserto ini dibayangi oleh karya-karya dari komponis-komponis yang lain seperti Stravinsky yang dianggap lebih modis, dan konserto ini dinilai terlalu romantik dan bahkan “Mendelssohnian”.

8.  Debussy, Claude – Nuit d’étoiles

Debussy lebih dikenal dengan karya-karya untuk piano solo, tetapi dia juga menggubah sekitar 55 tembang untuk suara dan piano sepanjang karirnya. Karya Debussy pertama yang diterbitkan justru tembang yang bertajuk Nuit d’étoiles (Malam Berbintang) yang diadaptasi dari puisi karya Théodore de Banville. Tembang ini ditulis pada tahun 1880 waktu Debussy berumur 18 tahun.

9.  Schoenfield, Paul – Café Music: I. Allegro

Schoenfield, komponis hidup asal Amerika, dikenal dengan karya-karya yang memadukan elemen pop, tradisional dan tradisi musik klasik. Konsep karya musik kafe ini berasal dari pengalaman Schoenfield sendiri yang pernah bekerja sebagai pianis penghibur di salah satu restoran steakhouse di kota Minneapolis.

10.  Zelenka, Jan Dismas – Miserere in C minor, ZWV 57: Miserere I (Chorus)

Komponis barok kawakan Bohemia (sekarang Ceko) ini kurang mendapat perhatian dari dunia musik klasik sekarang, padahal Bach sangat mengagumi Zelenka beserta karya-karyanya, dan bisa dibilang bahwa Zelenka adalah seorang jenius yang terlupakan. Karya Miserere ini memiliki tekstur polifoni yang sangat padat dan menggunakan harmoni yang bisa dikatakan terlalu disonan pada zamannya.

Bonus 10+1.  Holst, Gustav – The Planets Op. 32: VII. Neptune, The Mystic

Saya tidak ingin menjelaskan panjang lebar, tetapi lagu ini adalah salah satu contoh fade-out pertama dalam sejarah musik.

About Hazim Suhadi (12 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

2 Comments on Playlist Bulan Januari

  1. karya Schoenfield ngingetin hebohnya A Friend Like me yang ada di Disney’s Aladdin… hahaha mirip…!!

  2. Hazim Suhadi // 6 Januari 2016 pukul 10:03 am //

    Hehehe… Mike suka nonton Disney toh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: