Kabar Terkini

Soal Membangun Audiens Musik


Mengenal audiens musik berarti juga memaklumi bagaimana membangun audiens ini tidak serupa dengan membangun pelanggan pada umumnya. Terlebih apabila kita melihat iklim berkesenian yang tentunya berbeda dengan iklim industri secara umum dengan tahapan yang juga berbeda dan lebih panjang dibanding industri biasa. Berikut adalah fase perkembangan yang saya susun yang terinspirasi dari dokumen Department of Culture, Media and Sports Inggris:

Audience ProcessUntuk mengenal audiens lebih jauh, perlu dipahami bahwa terdapat beberapa fase yang menjelaskan perkembangan audiens dalam seni dan proses ini tidak hanya berlangsung waterfall, namun juga secara spiral. Proses waterfall serupa dengan proses air terjun, dimana proses hanya berlangsung sekali dan tidak bisa mundur. Namun audiens tidak berproses seperti proses waterfall, melainkan bagaikan spiral, di mana setiap proses mengarahkannya lebih dalam lagi dalam dunia seni. Untuk itu mari kita garap satu per satu:

  1. Terkabar
    Status ini adalah status pertama di mana calon audiens mendengar kabar tentang sebuah aktivitas seni. Status ‘terkabar’ ini hanya sebatas sebuah informasi di mana proses ini berhenti dengan sebuah informasi dan penerimanya. Dapat dimengerti bahwa belum tentu sang calon audiens memutuskan untuk melakukan tindakan apapun berdasarkan informasi yang dikabarkan padanya. Kadar informasi yang cukup dan sesuai dengan keinginan maupun profil si calon audiens lah yang kemudian mampu menggerakkan sang calon audiens yang mendengar kabar ini masuk ke fase selanjutnya.
    .
  2. Tertarik
    Dalam status ini calon audiens mendapat paparan informasi yang lebih banyak, dan masuk dalam status ‘tertarik’, di mana informasi menjadi sumber penggerak motivasi. Dalam tahap ini pula pengambilan keputusan juga dilakukan oleh sang calon audiens untuk membeli tiket, datang dan duduk. Tahap ini cukup berat dikarenakan rentangnya yang lebar dan terutama berkenaan dengan preferensi sang calon audiens dan dapat bergerak sejalan dengan pergerakan prioritas dan kondisi ekternal dan internal sang calon audiens. Tahap ini tidak mudah untuk diraih dan kemudian di-maintain karena membutuhkan investasi dari sang calon audiens baik dari segi waktu, tenaga dan uang. Di sini pula terjadi pertimbangan untung-rugi dan juga jalur-jalur emosi. Tahap ‘tertarik’ ini sering menjadi sandungan karena bisa jadi tidak beralih ke fase berikutnya. Misal: Hujan dan pekerjaan kantor bisa jadi menghentikan proses calon audiens dari awalnya berstatus ‘tertarik’ menjadi ‘tidak tertarik’ dan tidak berlanjut ke fase berikutnya, padahal tiket sudah di tangan.
    .
  3. Terekspos
    Tahapan ini adalah tahapan yang sesungguhnya di mana seni dan seniman bekerja, yakni di mana sang calon audiens kemudian berubah menjadi audiens yang menikmati seni yang ditampilkan. Hanya dalam status ini lah sebenarnya peran seniman menjadi krusial, di mana dalam proses-proses sebelumnya seniman dan karyanya tidak mendapat banyak peran. Di sinilah pemenuhan kebutuhan dari sang audiens terjadi, apakah pertunjukan/pameran karya seni mengisi kebutuhan mereka dan memenuhi ekspektasi mereka. Kegagalan dalam tahapan ini bisa jadi menghentikan seluruh proses untuk beralih ke tahapan berikutnya. Memang uang tiket sudah di tangan penyelenggara, acara pun sudah berjalan, namun kegagalan eksposur ini, misalnya dengan penampilan yang tidak sesuai harapan, akan berdampak buruk terhadap reputasi acara dan kepuasan audiens secara umum. Namun apabila seluruh seni dan makna dapat memenuhi ekspektasi audiens, maka besar kemungkinan acara dapat beralih ke fase berikutnya.
    .
  4. Terpikat
    Tahap ini adalah status ketika audiens secara umum merasa terpuaskan dengan pergelaran yang ia saksikan. Fase inilah di mana rapport baik terbangun antara audiens dan pergelaran secara umum. Rapport yang baik akan memudahkan proses perputaran informasi dan spiral masuk ke level yang lebih tinggi. Status ‘terpikat’ mampu memudahkan proses pengambilan keputusan dan halangan dalam tahapan ‘terkabar’ dan ‘tertarik’ dalam iterasi berikutnya menjadi lebih cepat dan lebih berkualitas sehingga tidak mudah tergerus oleh kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan sebelumnya. Dalam tahapan ini terdapat beberapa pilihan yang dapat dilakukan, yakni kembali ke tahapan awal di mana iterasi berikutnya dilakukan, atau dapat dilanjutkan dengan tahapan berikut yakni tahap ‘terlibat’.
    .
  5. Terlibat
    Tahap ‘terlibat’ adalah fase di mana audiens memutuskan untuk kemudian terlibat dalam aktivitas berkesenian yang dilakukan. Audiens bisa jadi menjadikan tahap keterlibatan ini terpisah dari proses audiens secara umum, semisal setelah melihat pameran bunga, seorang audiens memutuskan untuk langsung terlibat dalam berkebun di rumahnya. Namun demikian, tahapan ini krusial untuk digarap pula oleh seniman ataupun manajemen, yakni untuk membuat keterlibatannya tersebut juga berguna bagi aktivitas kesenian yang menggerakkannya dalam rantai tahap 1-4 di atas. Keterlibatan ini dapat pula berupa keterlibatan sebagai pelanggan, subscriber, atau menjadi menyokong dari kegiatan kesenian yang telah memikat hatinya. Fase ‘terlibat ini tidak memutus mata rantai, namun tetap dapat kembali ke tahapan 1-4 untuk iterasi selanjutnya. Yang patut diingat adalah tahapan 1-4 ini dalam setiap iterasi yang menentukan apakah fase ‘terlibat’ ini dapat dipertahankan atau tidak.

Kecenderungan yang sering terjadi dalam membangun audiens kita adalah terpaku pada model komersial konvensional yang berhenti hanya di tahapan 1-4, di mana audiens ditempatkan sebagai konsumen semata. Beberapa bisnis konvensional sebenarnya telah berhasil membangun fase ke-5 ini, salah satunya dengan membentuk komunitas yang aktif melakukan advokasi terhadap produk maupun kegiatan-kegiatan yang dimulai dari keterpikatan mereka pada produk tersebut. Fase ‘keterlibatan’ dalam aktivitas seni malahan sebenarnya sangat krusial, karena keterlibatan audiens lah yang mampu membangun sektor non-profit ini untuk lebih berkembang lagi, dimulai dari ikut menggiatkan seni itu hingga dukungan finansial bagi kegiatan seni tersebut.

Sedang di tahap manakah masing-masing audiens Anda saat ini?

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Soal Membangun Audiens Musik

  1. Pantesan guru musik di kota ku pada galak semuanya. Namun, dibalik kegalakan tersebut ada hikmahnya untuk para muridnya.🙂
    Thank’s atas refensinya ghan, aku salut sama guru musik. (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: