Kabar Terkini

Lima Alasan Mengapa Guru Musik Suka Galak


Bagi kamu yang berpengalaman belajar musik, pasti tidak asing dengan gambaran guru musik yang galak dan menyeramkan, apalagi kalau kamu belajar musik klasik. Ada beberapa yang sedari kecil malah takut dan ogah masuk ruang kelas karena angkernya guru musik ini. Dalam artikel ini mari kita bahas 5 alasan utama mengapa guru musik galak dan jumlahnya tidak sedikit:

1. Mereka mengajar bidang yang mereka cintai

Guru musik adalah mereka yang memilih secara sadar untuk mengajarkan bidang yang sangat mereka cintai. Bahkan tidak sedikit yang berani memproklamasikan bahwa musik adalah bagian dari hidup mereka. Karena itu umumnya mereka tidak pernah bisa main-main dalam mendidik dan mengajarkan bidang yang sangat mereka sukai ini. Rasa suka ini juga bukan hanya sekedar suka tapi juga bercampur dengan rasa hormat dengan bidang ini. Tidak sedikit malah guru yang mengkultuskan musik dan mengagungkannya. Guru-guru ini punya rasa tanggung jawab akan bidang yang dipilihnya ini sehingga mengajar dengan semangat dan dedikasi yang menyala-nyala untuk keberhasilan anak didik. Dedikasi mereka dan kecintaan mereka biasanya lebih kuat dibanding kegagalan ataupun keberhasilan mereka sendiri. Sehingga seringkali mereka tidak dapat menerima apabila bidang yang mereka sukai ini hanya dianggap sebelah mata oleh mereka yang belajar di bawah arahan mereka.

2. Mereka ingin mendidik dengan sungguh

Banyak yang mengatakan belajar musik dapat mengubah attitude seseorang dan melatih orang untuk berdisiplin dan memiliki tanggungjawab. Semuanya itu seringkali dimulai dari penanaman nilai kemanusiaan yang tepat. Seperti kata Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan itu memanusiakan manusia, guru yang galak seringkali menjadi perwujudan gemblengan yang diperlukan untuk membentuk perilaku yang dibutuhkan untuk menjadi manusia yang berhasil. Tidak ada pendidikan yang main-main. Semua pendidikan walaupun sering menggunakan ‘permainan’ sebagai sarana termasuk ‘bermain musik’ adalah sebuah perihal yang selalu serius. Direncanakan secara serius dan disampaikan secara serius pula.

Beberapa guru musik bahkan memilih mengajar dibandingkan tampil di panggung-panggung. Guru yang ingin mendidik dan sungguh mendidik itu adalah harta yang sungguh berharga. Jangan kecil hati kalau gurumu galak, berarti dia serius mengajar kamu dan peduli dengan kemajuan kamu. Pun tidak ada kesuksesan tanpa ada susah payah bukan?

3. Mereka memiliki kepahitan pribadi

Beberapa guru memiliki kepahitan pribadi layaknya banyak manusia lain. Mereka sebagai manusia mungkin pernah bersinggungan dengan pengalaman yang tidak mengenakkan, bahkan di bidang musik. Ada beberapa guru yang memang tidak memiliki passion dalam mengajar namun terpaksa mengajar sehingga mereka pun tidak pernah merasa nyaman mengajar dan berujung pada emosi yang mudah meledak-ledak dan galak. Namun demikian gurunya yang seperti ini bukan berarti tidak memiliki ilmu yang bisa kamu pelajari dan kamu petik. Namun alangkah baik apabila murid-murid yang belajar pada guru-guru seperti ini adalah murid-murid yang sudah lebih dewasa, sehingga mampu memilah mana ilmu mana opini sang guru. Guru yang pahit umumnya tidak cocok bagi murid-murid muda dan kecil karena bisa mematikan semangat murid-murid yang masih kecil.

4. Mereka memiliki standar yang tinggi

Guru pun juga memiliki standar mutu hasil pengajarannya. Tidak sedikit guru yang perfeksionis yang menginginkan seluruh anak didiknya mencapai standar yang ia tetapkan untuk masing-masing, dan tidak jarang standar tersebut cukup tinggi. Banyak murid dari guru-guru dengan standar tinggi umumnya mengeluh seakan guru mereka galak dan tidak pernah puas, tidak sedikit guru-guru ini seakan pelit pujian dan pelit nilai. Standar yang tinggi ini adalah untuk digapai para murid, dengan berusaha menggapai standar ini, murid pun akan berkembang pesat apabila ia mencoba untuk terus mengimbangi standar sang guru.

Lebih tinggi dan lebih tinggi lagi adalah standar sang guru. Seringkali kritiknya tajam dan menciutkan hati, namun bagi murid guru yang seperti ini satu hal yang pasti, terus berusaha dan jangan pernah putus asa. Pasti akan ada hasilnya. Walaupun hanya senyum simpul ataupun persetujuan kecil dari sang guru, sang murid sudah pantas berbangga. Walaupun seakan selalu diomeli ataupun dikritik ketus, apabila ia masih mengajar kamu, ia masih menganggap kamu punya potensi untuk lebih maju lagi.

5. Kamu tidak latihan

Nah, walaupun ditaruh di nomor terakhir tapi sektor ini seringkali menjadi penyebab utama bagi seorang guru untuk marah. Murid yang malas dan tidak disiplin pastinya akan menyulut emosi sang guru untuk memberitahu dan mengajar. Terlebih apabila kamunya tidak juga kunjung sadar bahwa untuk bisa bermain musik butuh latihan yang serius, perlu komitmen. Kalau kamu tidak bisa dikasih tahu baik-baik, besar kemungkinan ia akan marah. Apabila sering tidak latihan, lebih sering marahlah dia, jadi galaklah citra sang guru.

Jadi yang pasti untuk menghadapi guru yang galak, cara yang terbaik adalah menjadi pribadi yang terbaik dan bertanggung jawab. Berlatihlah dan bertanggungjawablah, raih standar yang lebih baik lagi dan terus memacu diri. Kita memang belajar ‘bermain musik’, namun seringkali kita bukan hanya belajar ‘bermain musik’, tapi juga belajar ‘berlaku dalam hidup’. Selamat berlatih!

 

 

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Lima Alasan Mengapa Guru Musik Suka Galak

  1. Saya suka dengan poin “Guru memiliki kepahitan pribadi” yang Anda cantumkan di atas. Mungkin alangkah baiknya, selain memberikan contoh mengenai guru yang kurang memiliki hasrat untuk mengajar (Ini sesuai pengalaman pribadi dalam mengobservasi kegiatan belajar musik: Guru yang kurang memiliki hasrat mengajar justru cenderung tidak peduli dan memiliki akhlak kurang baik berupa “yang penting mengajar seadanya karena kejar setoran”), Anda dapat memberikan contoh lebih jauh serta signifikan yang berhubungan dengan pengalaman pahit dalam bermusik. Mungkin hal tersebut dapat berupa pengalaman lupa not saat bermain di atas panggung sehingga mengakibatkan permainan terhenti dan membuat sang guru trauma berkepanjangan sehingga beliau menanamkan prinsip “jika belum 200-300% siap, jangan pernah bermain di atas panggung” kepada murid-muridnya. Contoh tersebut saya peroleh setelah menyimak film “Madame Sousatzka” (1988) yang dimainkan dengan sangat baik oleh Shirley Maclaine. Lagi-lagi berhubungan dengan pernyataan Anda: Tipe guru yang seperti itu memang kurang cocok untuk anak kecil atau anak yang sedang bertumbuh-kembang. Saya rasa para pembaca artikel ini juga dapat menonton film tersebut karena selain menghibur, ada sisi-sisi humanis seorang guru musik yang merupakan pengejawantahan dari artikel yang Anda tulis ini. Terima kasih.

  2. Terimakasih Adit atas tambahan informasinya… Untuk nomor kepahitan memang bisa digarap lebih jauh, apalagi karena point tersebut cukup ketat bersinggungan dengan para pendidik sendiri… Jadi penasaran sama film yang disebut Adit….

1 Trackback / Pingback

  1. Menentukan Bidang Studi yang Tepat bagi Anak SoalSial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: