Kabar Terkini

Kontes Seni, Antara Konservasi dan Progresi


Dalam panorama berkesenian, seni di Indonesia sering mengalami benturan pengertian yang bersaing mendapatkan nilai di masyarakat. Perdebatan antara kesenian tradisi dan modern serta bobotnya sering menjadi sebuah perbincangan dan bahkan persaingan yang tidak kunjung berakhir. Dan sejauh ini pula definisi cenderung diabaikan dan perdebatan seakan tidak habis.

Budaya di manapun ternyata tidak dapat dilihat sebagai sebuah subjek monolitik, di mana hanya dilihat sebagai sebuah benda yang cenderung diam. Pierre Bourdieu melihat gejala hierarkis dalam pengertian budaya dan kuasa yang mengendalikan budaya tersebut. Budaya menjadi sebuah kapital yang diperebutkan antara kelas atas, menengah dan bawah, dengan kecenderungan kelas menengah atas memegang kontrol akan definisi dan kepemilikan budaya. Karenanya seringkali budaya menjadi sebuah senjata untuk mempertahankan status dan pembeda masyarakat.

Dick Stevenson dalam pengantarnya dalam buku Culture and Citizenship menjelaskan bahwa ternyata budaya tidak dapat dilihat hanya secara vertikal (sebagaimana pandangan hierarkis Bourdieu) namun juga dapat dilihat secara horizontal. Pandangan singular dan vertikal tentang budaya seringkali melupakan eksistensi dimensi multikultural dalam berbudaya. Bagi Stevenson, pandangan Bourdieu lahir dalam nuansa budaya Prancis yang kental dengan demokratisasi, di mana budaya asing diserap dan tunduk dalam kerangka budaya Francophonie. Seseorang menjadi Prancis benar apabila melebur menjadi bagian dari Prancis. Sedang di banyak tempat gejala seperti ini banyak menimbulkan masalah dan konflik yang bersangkutan dengan identitas pribadi dan identitas kelompok.

Keanekaragaman budaya hadir beserta dengan bentuknya masing-masing yang berjuang di ranah kebersamaan dalam masyarakat. Ranah publik menjadi tempat bersemainya berbagai identitas kelompok sehingga seringkali budaya tidak dapat dilihat sebagai sebuah gejala monolitik. Berbagai kultur dan sub-kultur memiliki tempatnya sendiri yang bisa berdiri sendiri-sendiri. Namun seringkali keberagaman kultur ini mengalami gesekan yang kuat di mana terjadi persaingan horizontal antara budaya dengan budaya.

Hal ini sangat relevan dengan dimensi kebudayaan di Indonesia. Sebagai bangsa yang terdiri atas beragam budaya, pergesekan antara kebudayaan dalam negeri dengan kebudayaan global menjadi suatu fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Di masa Orde Baru, pemerintah berusaha menundukkan berbagai budaya dalam sebuah lingkup ‘budaya Indonesia’, yang ber-‘wawasan nusantara’. Sebuah sistem yang sedianya baik, namun nyatanya tidak mampu menjawab perdebatan identitas yang muncul, terlebih dalam prakteknya budaya dalam praktek Orde Baru lekat dengan budaya kekuasaan dan budaya mayoritas, yakni budaya dan tradisi Jawa.

Di dalam seni juga demikian, sebuah perdebatan juga terjadi akan nilai budaya dan seni. Seni macam apa yang mendapat tempat dalam kehidupan berbudaya Indonesia? Kerangka Undang-Undang Dasar 1945 terlebih melihat puncak-puncak kebudayaan lokal sebagai fondasi utama dalam membangun kebudayaan. Sedang pengaruh globalisasi lebih terlihat sebagai pengaruh luar yang harus disikapi secara bijak/hati-hati. Hal ini menandakan keunggulan kesenian tradisi dalam kontestasi berkesenian di Indonesia.Namun pada akhirnya terjadi kecenderungan yang kurang menyehatkan bahwa terjadi pandangan bahwa seni tradisi harus dikonservasi dan diawetkan agar tidak terpengaruh oleh perubahan. Ia menjadi tolak ukur dalam kesenian. Dalam hal ini, dapat terlihat bagaimana dalam kerangka kebijakan budaya Indonesia, seringkali budaya tradisi terawetkan dan kemudian diletakkan sebagai kebanggaan. Tidak sedikit yang kemudian diletakkan dalam sebuah kotak kaca, terisolasi namun siap untuk dipamerkan. Skor 1-0 untuk konservasi.

Masyarakat berubah. Hal ini mengakibatkan pandangan akan budaya dan seni yang juga berubah. Dan seringkali seni yang berpatokan pada konservasi tidak akan bertahan menghadapi perubahan masyarakat ini. Seni sebuah progresi menjadi kunci dalam mempertahankan relevansi dalam masyarakat. Tanpa inovasi, sebuah pergelaran hanya akan menjadi mumifikasi akan seni yang perlahan mati. Terawetkan dan perlahan terlupakan. Prof. Rahayu Supanggah mengangkat bahwa inovasi dan perubahan adalah kunci bagi kesenian tradisi untuk mempertahankan perannya dalam masyarakat. Dan untuk inovasi, peranan eksternal dan arus global tidak dapat dinafikkan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi.

Kenyataan yang harus dihadapi saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan skor 1-1 untuk konservasi dan inovasi di mana perlunya pemahaman bahwa seni perlu diartikan dan digarap terus agar selalu baru dan relevan bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Penyeimbangan skor ini bukan hanya bertumpu pada kearifan lokal saja namun juga kemampuan untuk secara cerdik mengolah relevansi berkesenian itu sendiri sehingga inovasi dapat terus terjadi.

Budaya dan seni tidak dapat masuk ke dalam kota kaca. Begitu masuk kotak kaca dan terlepas dari masyarakatnya budaya tersebut perlahan akan layu dan akhirnya mati. Tanpa dukungan dari masyarakat, budaya dan seni perlahan akan terlupakan. Hobsbawn menyatakan bahwa tradisi yang kita percayai sudah ada sejak jaman dahulu seringkali merupakan sebuah inovasi yang disusun dan diartikan oleh manusia, dan acap tidak selama yang dibayangkan orang. Inovasilah yang memberi arti.

Dalam lingkup ini sebenarnyalah peran pemerintah menjadi penting lewat kebijakan budayanya. Konstitusi adalah satu aspek kehidupan bernegara dan pegangan, namun dalam praktiknya bergantung dari peran berbagai elemen termasuk pemerintah menggarap arti konservasi dan inovasi tersebut dan menyeimbangkan skor agar seni tetap relevan. Inovasi dan konservasi harus berjalan berdampingan, modern dan tradisi keduanya harus bersatu agar berarti bagi masyarakat modern saat ini.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: