Kabar Terkini

Mengubah Paradigma Konsumen dalam Seni


Seni sebagai sebuah bidang memiliki keunikan yang tersendiri dibandingkan dengan bidang industri yang lain. Audiens seni atau penonton pun memiliki karakteristik yang berbeda dengan pelanggan dalam bidang ekonomi lain sehingga dibutuhkan sebuah proses pengembangan yang berbeda juga dengan penonton yang lain.

Seni secara berbeda mendobrak kepercayaan umum mengenai konsumen dan produsen serta relasi di antara keduanya. Dalam industri konvensional, produsen seringkali dilihat sebagai kelas yang terpisah dengan konsumen, terlebih apabila dikenakan paradigma proses di dalamnya. Produsen sebagai penghasil barang atau jasa menempatkan diri sebagai pihak yang terpisah dengan konsumen dan tidak bercampur baur. Dalam seni sedikit berbeda, sebagaimana dampak munculnya kelas kreatif yang diusung oleh Richard Florida. Dalam kelas ini kemudian juga dikenal istilah prosumption atau prosumsi yang menggabungkan aktor produsen dan konsumen dalam sebuah entitas.

Istilah ini lahir dari meledaknya industri dot-com di mana teknologi kemudian memungkinkan produsen juga bertindak sebagai konsumen yang kuat. Pembedaan dan penggolongan produsen konvensional yang menjaga keunggulan mereka dalam kompetisi dengan membatasi produsen lain untuk masuk seringkali tidak berlaku dalam seni. Konsumen terbesar seringkali adalah juga produsen terbesar di bidang seni. Inilah yang menjadi perbedaan kelas kreatif yang berlaku sebagai prosumer.

Dalam industri kreatif yang dimungkinkan lewat perkembangan teknologi seperti video sharing Youtube, melahirkan konsumen Youtube yang juga kemudian bertindak sebagai produsen. Mereka yang menonton Youtube adalah juga mereka yang kemudian juga mengambil peran sebagai produsen dengan mengunggah video mereka untuk dikonsumsi oleh pengguna lainnya. Pun prinsip yang sama berlaku pula dalam media sosial di mana pengguna membaca konten yang dibuat oleh pengguna lainnya yang juga membaca konten dan membagikan konten mereka sendiri, menjadikan setiap pengguna sebagai prosumer dalam jaringan proses produksi dan konsumsi yang serupa. Sedangkan, web ataupun aplikasi hanya berperan sebagai perantara dari konten itu sendiri.

Proses kreatiflah yang kemudian membedakan proses produksi dan konsumsi yang serupa namun menghasilkan produk yang berbeda. Dan karena inilah seringkali proses kreatif ini kemudian membuka pintu proses kreatif lain untuk kemudian muncul dan saling memberi bahan bakar untuk yang lain. Produsen dan konsumen pun kemudian berbagi pandangan dan saling menikmati karya yang lain.

Hal ini menjadi ciri khas yang lain dari golongan kreatif, mereka yang menjadi konsumen yang aktif seringkali adalah mereka yang terlibat dalam proses kreatif yang serupa. Pameran lukisan dihadiri oleh audiens yang selain tertarik akan lukisan, seringkali juga dihadiri oleh mereka yang aktif melukis. Sebuah konser musik juga dihadiri oleh berbagai musisi lain berbagai level dan kepakaran, dari level dunia, hingga level kamar mandi. Juga pembacaan puisi juga dihadiri oleh mereka yang bukan saja menyenangi sastra, juga mereka yang terlibat aktif maupun pernah terlibat dalam proses kreatif menulis.

Ini tidak kita temui dalam proses ekonomi konvensional. Sebuah organisasi yang memproduksi buah kalengan bukanlah konsumen dari organisasi produsen buah kalengan ini. Pengecualian ada dalam sektor finansial, di mana prosumsi dilakukan oleh institusi-institusi perbankan dan finansial lainnya, di mana terjadi saling-silang produksi dan konsumsi kapital. Prosumsi bukanlah sebuah hal yang lumrah terjadi di dalam industri konvensional. Yang sering terjadi malah dilakukan penutupan diri terhadap proses produksi di mana hadir ancaman contek-menyontek dan kompetisi, contoh yang terjadi adalah produsen konvensional hanya hadir sebagai prosumen dalam level yang terendah, yakni sang produsen mengkonsumsi produksinya sendiri, namun sebisa mungkin menutup akses konsumsi produk dari produsen sejenis.

Contoh paling sederhana adalah ‘proses mencari inspirasi’ adalah proses konsumsi aktif dari sebuah karya kreatif intelektual. Sebagai sebuah prosumsi, bukan menutup akses produk dari prosumen serupa, malah seringkali proses kreatif sangat mengandalkan kelompok prosumen lainnya yang kemudian menggerakkan ekonomi. Bahkan banyak kegiatan kelas kreatif yang kemudian sangat mengandalkan basis penikmat prosumer ini. Sebagai contoh dalam musik klasik, selain mereka yang memang penggemar musik klasik, tidak jarang penonton adalah mereka yang dahulu ataupun hingga kini terlibat dalam proses kreatif musik klasik. Ini pula sebabnya kelas kreatif sangat bergantung pada proses pendidikan kreatif yang melibatkan siswa dalam proses kreatif dan kemudian membentuk aktor prosumen-prosumen baru. Tidak sedikit pula prosumer ini juga lintas bidang kreatif.

Ini adalah keanehan dari prosumen, karenanya seringkali perlu dilihat secara terpisah bagaimana membentuk kelas prosumen dan strategi menggaet mereka yang tentunya berbeda dengan konsumen konvensional.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: