Kabar Terkini

Simon Bolivar Orchestra Menjawab Kematian dengan Hidup


Jakarta memang dirundung teror pagi ini, namun di seantero jagat maya Indonesia berteriak, “Kami tidak takut.” Dan aksi teror pun dipatahkan tanpa gejolak yang berarti bahkan di lantai bursa hal ini membuktikan bahwa Indonesia masih hidup dan bergeliat penuh semangat. Di London pun pesan yang serupa juga membahana di Royal Festival Hall. Simon Bolivar Symphony Orchestra of Venezuela, orkestra simfoni kebanggaan Venezuela, tampil dengan pesan kehidupan yang serupa selama 35 tahun lebih program El Sistema berdiri di negara di Amerika Selatan ini.

Dengan kejahatan geng narkoba yang kerap berbaku tembak di jalan, anak-anak miskin dari daerah-daerah kumuh Caracas dan daerah lain di Venezuela dengan berani menenteng instrumen mereka melewati daerah rawan untuk bermain musik. Mereka menentang godaan-godaan untuk ikut terlibat dalam kejahatan geng, dan memilih untuk menenggelamkan diri dalam kegiatan positif. Tidak jarang mereka mendengar kawan mereka tidak dapat lagi mengikuti kelas musik harian gratis El Sistema ini karena tewas terperangkap dalam baku tembak para pengedar narkoba. Namun mereka tetap berani maju, dan program ini selama 35 tahun telah mendidik lebih dari 500.000 orang anak dan menghindarkan mereka dari kehidupan jalanan.

Simon Bolivar Symphony Orchestra adalah sebuah orkestra yang dahulu dibentuk dari bakat-bakat muda terbaik dalam program tersebut dan berhasil mengguncang London dan dunia di tahun 2007 dengan pertunjukan mereka yang bersemangat dan bertenaga. Kini di tahun 2016, mereka pun kembali menyambangi London dalam rangkaian tur Eropa mereka dan menyaksikan gairah yang serupa, namun juga diimbangi dengan kedewasaan dalam permainan.

Menjelajah dua karya balet monumental dari Igor Stravinsky, grup orkestra ini turun dengan hampir seratus pemain dan memadati panggung di Southbank Centre ini. Nada-nada solid berbaur dengan kecemerlangan dan fleksibilitas. Ritme dan struktur dari Stravinsky yang terpatah-patah terasa padu dan ringkas, sedang warna dari orkestra yang telah dibina kebersamaannya sejak mereka remaja hingga kini di usia 30-an ini terlihat matang dan mengerahkan seluruh tenaga menggarap karya yang kompleks, yakni Petrushka dan Le Sacre du Printemps atau dikenal dengan The Rite of Spring.

Simon Bolivar Dudamel2

Cacophonie, atau berantakan, mungkin itu adalah tanggapan para pendengar seabad yang lalu ketika karya balet ini dipertunjukan dalam rangkaian tur Ballet Russe bentukan Diaghilev. Seringkali menjadi perangkap bagi orkestra yang lebih memberi perhatian pada gegap karyanya, Simon Boliver Orchestra memaklumkan bahwa sungguh dua karya ini adalah karya musik tarian dari sang legenda Stravinsky. Nyawa tarian digarap sungguh, seakan berdendang dalam ketidakteraturan musikal yang ada. Pun gerakan bow naik dan turun dan semangat orkestra yang menggelegak mengajak penonton untuk membayangkan koreografi imajiner dan menarikannya bersama permainan orkestra yang digawangi pemain-pemain muda ini.

Mungkin senyum tidak lagi terlihat dalam permainan mereka, dan kini mereka terlihat lebih serius menggarap musik. Seorang penonton menyayangkan hilangnya kenikmatan dan keceriaan permainan orkestra yang kemudian mengangkat pamor program El Sistema ke seluruh dunia. Namun harus dikatakan bahwa karya ‘Petrushka’ dan ‘The Rite of Spring’ bukan seperti karya gegap beraroma latin yang mereka mainkan dengan riang di tahun 2007. Ini adalah karya serius yang bertemakan keindahan yang mengelilingi kematian. Dan pilihan direktur musik Gustavo Dudamel untuk membawakan karya ini adalah cerminan pula bagaimana orkestra ini telah tumbuh sebagai orkes yang dewasa, matang dan profesional. Dudamel pun memimpin dengan garapan yang membius pemain dan penonton. Jitu, terukur, namun memberi ruang musikal yang luas bagi pemain.

Hampir seluruh penonton melonjak girang setelah Rite dimainkan. Orkestra pun tampil dengan 2 buah encore untuk menjawab penonton yang tak kunjung berhenti bertepuk selama 25 menit. Sebuah sajian yang menjawab keingintahuan akan orkestra yang reputasinya dibangun oleh sistem pendidikan musik bagi warga miskin ini. Dan bagi penulis, permainan ini memberi makna bagaimana kekuatan dan kegigihan untuk hidup berjibaku dengan tradisi kematian, baik untuk Venezuela maupun jauh di lubuk hati, untuk Jakarta.

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: