Kabar Terkini

Bandung Philharmonic: Konser Perdana Penuh Potensi dan Harapan


Impian untuk merintis sebuah orkes bertaraf profesional dan membangun kepercayaan komunitas setempat terhadap perwujudan impian tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Namun bagi Airin Efferin, salah satu dari empat musikus muda yang merintis Bandung Philharmonic sejak setahun yang lalu, tidak ada yang mustahil. Sulit dibayangkan segala rintangan dan tantangan yang harus ditempuh untuk membawakan orkes berisikan pemain-pemain muda penuh antusiasme ke atas panggung. Michael Budiman Mulyadi sendiri mengulik proses tersebut di artikelnya berjudul “Mudanya Bandung Philharmonic”.

Konser perdana Bandung Philharmonic yang digelar di Gedung Padepokan Seni Mayang Sunda, Kota Bandung, Senin malam (18/1) kemarin adalah buah hasil dari kerja keras dan kerja sama Airin bersama tiga koleganya Fauzie Wiriadisastra, Ronny Gunawan, serta Putu Sandra Kusuma. Robert Nordling, dirigen kawakan Amerika Serikat, mendapat kehormatan untuk membimbing dan memimpin orkes sebagai direktur musik Bandung Philharmonic. Turut serta aktif di balik panggung adalah Michael Hall, juga dari Amerika Serikat, yang berperan sebagai direktur program edukasi.

Sebelum anggota-anggota orkes menempati kursi di atas panggung, konser didahului dengan kata sambutan dari Jim Supangkat, kurator dan kritikus seni yang memaparkan bahwa malam ini adalah malam bersejarah di Kota Kembang. Pendirian orkes Bandung Philharmonic ini disoroti mata dunia karena wilayah metropolitan Bandung yang berpenduduk lebih dari 7 juta jiwa memiliki potensi seni budaya yang luar biasa. Hampir semua kota-kota besar di Amerika Serikat dan di Eropa memiliki orkes tetap yang usianya dapat mencapai ratusan tahun dan yang mempunyai nilai sejarah tinggi yang patut dibanggakan oleh masyarakat setempat. 

 Bandung pun dapat bersaing secara kultur apabila masyarakat Bandung sendiri tekad menggerakkan perubahan dengan menorehkan prestasi, dan konser Bandung Philharmonic kemarin merupakan momentum awal kebangkitan seni dan budaya musik klasik yang patut dibanggakan bukan hanya oleh masyarakat Bandung sendiri, tetapi juga oleh seluruh Indonesia.

Konser dibuka dengan gerakan pertama dari Simfoni No. 41 di C mayor, K. 551 karya Wolfgang Amadeus Mozart. Karya yang dijuluki “Simfoni Yupiter” ini adalah karya simfoni terakhir Mozart yang digubah tiga tahun sebelum Mozart berpulang, dan juga merupakan karya yang bersifat kontrapung (terdiri dari garis-garis melodi yang berbeda tetapi saling melengkapi), hingga dibutuhkan artikulasi yang tegas dan bentuk melodi yang jelas dari tiap seksi alat musik. Nordling sendiri berhasil menuntun orkes untuk menghasilkan artikulasi-artikulasi tersebut dengan gerakan baton yang dinamis dan penuh keluwesan yang menjadikan karya tersebut lebih hidup dan berdansa.

Seksi biola alto yang dipimpin oleh Angga Aditia dan seksi bass oleh Joanito Lingga Lasarda layak mendapat apresiasi khusus karena suara mereka yang betul-betul diolah sedemikian matang dan berbaur dengan tekstur orkes. Sangat disayangkan tata akustik di Gedung Padepokan Seni yang kurang menunjang sehingga resonansi suara tidak dapat menggetarkan seisi auditorium. Seksi gesek yang terlihat mengentak dawai dengan sekuat tenaga di bagian fortissimo tidak mampu menghantarkan suara dengan baik ke setiap telinga. Walaupun begitu, artikulasi yang tegas dari orkes mampu membubuhi kegairahan pada musik yang dihasilkannya. 

 Bandung Philharmonic kembali menguasai panggung dengan tiga gerakan berkontras dari Suite Holberg untuk alat musik gesek dari Edvard Grieg, komponis romantik asal Norwegia. Gerakan pertama bertajuk “Prelude” (atau “pembuka” dalam istilah musik) dimulai dengan motif ritmis yang mencongklang dan penuh bravado (semangat) di seksi gesek. Gerakan kedua, “Air”, mencerminkan sebuah kontemplasi dalam tangga nada minor yang sepintas menitiskan kesedihan, seolah-olah sekeping harapan yang kita peroleh di gerakan sebelumnya harus kita rela lepaskan. Suasana pilu tersebut tidak selamanya kekal karena di gerakan ketiga bertajuk “Rigaudon”, terpancarkan hawa riang yang dibantu dengan tempo cepat dan teknik string crossing (persilangan antar senar) yang sangat tangkas.

Seksi gesek secara keseluruhan mampu menguasai karya ini tanpa kendala yang berarti, dan yang paling mengagumkan adalah Nordling yang terampil memberikan bentuk pada garis-garis melodi dan mengemasnya dengan indah. Walaupun karya ini bisa dibilang cukup teknis, yang terpenting adalah pembawaannya yang menyerupai dansa-dansa. Tidak disangka pemain-pemain gesek yang tergolong masih muda ini mempunyai naluri musikal yang cukup matang: mereka memahami dengan sungguh-sungguh arah kalimat musik dan relasi antara harmonic tension (ketegangan) dan resolution (penyelesaian). Hanya dengan fondasi teoritis seperti itu kita merasa terbawa oleh buaian musik, dan tergesit dalam pikiran penulis untuk berada di atas panggung dan berdansa pada Rigaudon

 Dua karya berikutnya mempertunjukkan kemahiran pemain-pemain orkes bermain chamber music (musik kamar). Kelompok pertama adalah kuintet tiup terdiri dari Astri Kinanti Putri (suling), Rafika Primadesti (obo), Muhammad Nur Ikhsan (klarinet), Jhony Isworo (fagot) dan Fajar Edyanto (French horn) yang membawakan Music for The Royal Fireworks, HWV 351 karya George Frideric Handel, dan kelompok kedua adalah kuartet gesek beranggotakan Danny Ceri (violin 1), Arya Pugala Kitti (violin 2), Angga Aditia (viola), dan Anggelia Sande Lilingan (cello) yang membawakan Kuartet Gesek Op. 18, No. 1 dari Ludwig van Beethoven.

Bermain musik kamar memiliki tantangan tersendiri: karena jumlah pemain yang terbatas, musik kamar umumnya diolah secara lebih teliti dan kesalahan sekecil apapun dapat terdengar dengan jelas. Kelompok kuintet tiup terdengar cukup solid, walaupun keseimbangan suara antara alat musik bisa diolah jauh lebih baik dan pembawaan musik bisa jauh lebih berani. Namun pembentukan garis-garis melodi yang selaras dan musikal patut diacungi jempol.

Perlu diingat lagi bahwa Bandung Philharmonic didominasi oleh pemain-pemain muda yang berpengalaman minim dibandingkan dengan pemain-pemain orkes lainnya yang sudah berkecimpung di dunia profesional. Dengan banyak latihan serta bimbingan yang kuat, tidak tertutup kemungkinan dalam jangka panjang pemain-pemain Bandung Philharmonic mampu menyaingi orkes-orkes yang lama berkiprah di Jakarta.

Kelompok kuartet gesek sendiri memiliki warna suara yang sangat hangat dan saling berbaur. Tidak banyak yang menyana bahwa Beethoven, yang biasa disebut komponis serius, pun mempunyai selera humor yang tinggi. Hal ini digarisbawahi oleh keberadaan kontras dinamika yang mengejutkan dan pergantian suasana yang bisa dibilang drastis dari satu potongan musik ke yang lain. Kuartet gesek Bandung Philharmonic berhasil membawakan elemen-elemen humor tersebut dalam pemainan mereka sehingga musik terdengar selalu segar dan menarik. 

 img_2842
Setelah penampilan musik kamar, semua anggota Bandung Philharmonic ikut naik ke panggung, membawakan “Nimrod“, variasi ke-9 dari Enigma Variations karya komponis Inggris Edward Elgar. Bertempo adagio (lambat), pembawaan karya ini menuntut dari tiap pemain kesabaran dan konsistensi suara yang tinggi yang perlahan menuju klimaks megah di detik-detik terakhir. Karya tersebut bisa diinterpretasikan sebagai harapan dan asa yang bangkit dari ketidakpastian, seperti perjalanan hidup yang mempunyai titik terang di kala susah. Nordling sendiri berhasil menuntun pemain Bandung Philharmonic menggapai titik terang tersebut.

Konser malam ini ditutup dengan dua aransemen karya Indonesia yang sudah dikenal dekat oleh masyarakat. Karya-karya yang diaransemen Andan Andrian tersebut adalah Melati Suci, gubahan Guruh Soekarnoputra, dan Halo Halo Bandung, lagu perjuangan Indonesia yang menceritakan semangat perjuangan rakyat kota Bandung.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Bandung Philharmonic mempunyai potensi yang luar biasa, dan dengan bimbingan dan dukungan yang kuat baik secara materiil dan riil dari berbagai pihak, orkes tersebut bisa menjadi orkes bertaraf internasional yang dapat membangun citra Kota Bandung dan juga Indonesia di mata dunia. Airin sendiri berkata bahwa tidak ada yang mustahil, tetapi semua ini tidak akan terwujud tanpa kerja keras dan dedikasi pada musik yang tinggi. Mari kita menjaga semangat perjuangan melalui seni, musik.

 

 

About Hazim Suhadi (13 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

1 Comment on Bandung Philharmonic: Konser Perdana Penuh Potensi dan Harapan

  1. Hi Hazim – thank you for this great article on an historic concert. Something to be really proud of in Indonesia in a week of other news!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: