Kabar Terkini

Mudanya Bandung Philharmonic


Inisiatif Bandung Philharmonic untuk membentuk sebuah orkestra dengan menggunakan sebuah mekanisme baru untuk sebuah orkestra profesional di Indonesia, yakni mekanisme audisi terbuka yang diisi panel dari direktur musik, concertmaster dan penasihat artistik. Hasil yang diumumkan secara lengkap di laman Facebook Bandung Philharmonic apabila dicermati menunjukkan esensi yang menarik yakni diisi banyak pemain orkes muda.

Sebenarnya mekanisme audisi ini bukanlah mekanisme baru. Nusantara Symphony Orchestra ketika pertama kali dihidupkan pasca era almarhum Yazeed Djamin. Melihat gejala ini ada dua tanggapan umum mengenai gejala yang cukup menarik dalam pembentukan orkestra profesional pertama di Bandung ini yang juga dialami Nusantara Symphony Orchestra kala itu:

Yang pertama dalam menyikapi gejala ini adalah melihatnya dalam sisi yang menggembirakan. Hadirnya generasi pemain orkes muda yang lolos dalam audisi orkes Bandung Philharmonic menunjukkan bahwa regenerasi pemain orkes klasik di Indonesia telah berlangsung dengan cukup baik. Pemain muda yang dididik pun siap untuk bekerja di lapangan musik dan berkompetisi serta menunjukkan kualitasnya sebagai musisi di Indonesia.

Pandangan lain yang dapat ditarik adalah Bandung Philharmonic juga melahirkan etos baru yang agaknya beresonansi dengan banyak pemain muda, yakni sistem audisi yang menganugerahkan kesempatan kerja berdasarkan merit atau kemampuan pribadi. Kegigihan dan keberanian untuk berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan sebagaimana banyak bidang lain juga diperlihatkan oleh generasi muda ini yang tentunya mengangkat kualitas perorangan pemain orkes. Sistem rekrutmen seperti ini pun cukup beresonansi dengan banyak organisasi orkestra profesional dunia.

Sikap kedua yang sebenarnya bisa direnungkan lebih jauh adalah bagaimana berdasarkan hasil audisi, dapat disinyalir rendahnya keikutsertaan para pemain orkestra freelance yang berusia di atas 35 tahun. Dapat dilihat dari persebaran pemain yang diterima, sedikit sekali pemain yang berusia di atas 35 tahun yang diterima di dalam orkestra ini. Persebaran pemain yang tidak merata ini agaknya patut disorot. Gejala ini sebenarnya dapat dilihat sebagai rendahnya partisipasi pemain senior di Bandung, sebuah daerah yang memang masih minim orkes profesional. Bagi seorang pemain/penampil orkes profesional, memang sulit untuk hidup di Bandung, sehingga lebih banyak yang memilih untuk tinggal di Jakarta maupun di Jogja. Beberapa pemain senior mengatakan bahwa kebetulan rangkaian acara Bandung Phil ini berbenturan dengan acara di Jakarta sehingga tidak dapat ikut serta dalam acara ini. Apakah memang satu orkestra dapat menjadi penghalang bagi terbentuknya orkestra lainnya?

Namun yang lebih menakutkan dibandingkan alasan yang pertama adalah keenganan para pemain profesional senior untuk berkompetisi secara sehat dalam sebuah etos kerja baru yang coba dibangun oleh Bandung Philharmonic Orchestra. Keberpihakan mereka akan status quo dan posisi mereka sebagai pemain yang banyak diandalkan oleh banyak orkestra di berbagai kota menyebabkan mereka enggan untuk mendukung sebuah sistem yang sehat. Harga diri seorang pemain senior pun juga berpengaruh besar akan keengganan mereka untuk berpartisipasi dalam audisi ini. Walaupun ini mungkin menjadi sebuah ganjalan, namun merupakan sebuah kesempatan yang ternyata bisa dimanfaatkan oleh pemain muda.

Harus dikatakan untuk memulai dan menanamkan sebuah sistem baru bukanlah sebuah hal yang mudah. Etos baru ini bisa jadi bertentangan dengan etos kerja lama dan menimbulkan disrupsi pada proses kepegawaian dan bidang personalia orkestra di Indonesia yang lebih berdasarkan hubungan informal. Namun harus dikatakan sistem audisi ini belum tentu beresonansi dengan kebutuhan dalam permainan orkes. Karenanya efektivitas kegiatan ini masih harus dipertanggungjawabkan lewat kualitas permainan dan profesionalisme orkestra ini.

bandung phil musicians

Musisi Bandung Philharmonic

Namun agaknya kehadiran banyak pemain muda selain menjadikan orkestra ini penuh gairah muda, juga memiliki kekurangan yakni kurangnya tenaga berpengalaman yang mampu menggerakkan orkestra. Bandung Philharmonic sebagai orkes baru yang digarap oleh pemain-pemain baru, juga ditantang untuk membangun iklim orkestra profesional di Bandung. Iklim profesional dan kolegialitas adalah tantangan utama dalam membentuk orkestra baik dari segi permainan maupun manajerial dan bagi sebuah orkestra baru seperti Bandung Phil, mereka akan bekerja pada sebuah lembar kosong. Memulai lembar baru ini bisa berarti pula orkestra ini bisa membangun sebuah standar baru yang berkualitas.

Pun dalam jangka panjang, kecenderungan sebuah orkestra yang mayoritas terdiri dari satu generasi adalah akan adanya gap yang substansial dalam regenerasi pemain, terutama ketika seluruh pemain memasuki masa pensiun dalam waktu yang hampir bersamaan. Apabila saat itu tiba, ada kemungkinan budaya kerja dan bahkan karakter suara orkestra itu sendiri dapat terhapus seiring dengan undurnya musisi-musisi. Semoga Bandung Philharmonic masih berdiri sehat walafiat ketika saat itu tiba.

Bandung Philharmonic yang diisi oleh generasi muda bisa jadi adalah kabar baik, namun juga bisa berarti kabar buruk. Semua tergantung bagaimana organisasi muda ini menyikapinya.

~ ulasan konser pertama Bandung Phil dari Hazim akan terbit segera. Ditunggu ya..

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Mudanya Bandung Philharmonic

  1. Agak menggelitik soal “keenganan musisi senior untuk berkompetisi secara sehat dalam sebuah etos kerja baru”.

    Jauh ketika pengumuman audisi terbit, kami sudah berdiskusi satu sama lain. Diskusi tadinya saya buka utk semua senior. Ternyata terpaksa mengecil dengan alasan: preferensi musik dan jenis pekerjaan (orkes klasik, orkes pop). Pada tahap diskusi di kelompok yang pro classical music, beberapa sudah sampai tahap mendaftar, namun batal menjelang deadline. Apakah ini termasuk rasa enggan utk berkompetisi?

    Dari hasil diskusi lagi, ternyata jawabannya: tidak enggan dalam hal kompetisi secara sehat. Yang saya tekankan adalah kata “secara sehat”. Tidak semua senior mau mandeg, banyak yg masih ingin maju, masih terus belajar hal2 baru, musik2 baru. Yang jelas prioritasnya mungkin sudah tdk menuju ke bandung philharmoni.

    Mungkin sebelum menulis, atau bahkan sebelum mendirikan orkestra; tidak ada ruginya disurvey dulu seperti apa prioritas musisi di indonesia. Terutama senior yang sudah lama bergulat dibidang ini. Bagaimana prioritas mereka terhadap jenis pekerjaan, jenis musik, fee yg diperoleh, waktu yg dihabiskan seandainya harus ke kota lain. Apakah ini sudah tidak sehat, kalau memang musisi bisa memilih untuk tidak berkompetisi?

    Dalam kasus saya dan mungkin juga beberapa rekan senior, kompetisi sudah sering kami jalankan langsung di stage, dalam setiap performance. Apa yang terjadi di stage saat orkestra professional berjalan: ada keindahan, kadang kacau, sering ajang kuat2an mental untuk solo piece…..itu semua sdh ajang kompetisi kami. Status quo di orkestra2 yang skrg ada sebenarnya sangat rentan karena saya dipaksa berkompetisi setiap detik setiap saat tanpa ampun. IMHO, kompetisi real life ini lebih berat dari sekedar main excerpts dibalik layar.

    Sekarang, etos kerja baru seperti apa yg ditawarkan? Apakah stabil dan hasilnya memadai seperti orkestra2 di luar negeri? Apakah nanti kedepannya akan kolaps juga spt yang pernah terjadi pada beberapa orkestra? apa kepastiannya? Dari perhitungan hasil biaya hidup kayaknya juga enggak masuk deh. Jadi buat apa memilih berangkat ke luar kota?

    Ada perhitungan yg tidak dapat saya jabarkan disini krn alasan etis (boleh japri lho hehehe).
    Demikian pernyataan saya🙂

  2. Halo Mba Marini, observasi yang menarik di satu sisi untuk pendapat ini. Memang harus dikatakan wage dan ekspektasi ini mmg merupakan hal yang relatif yang sebenarnya sangat patut untuk dibahas lebih jauh. Apalagi ini menyangkut motivasi pemain dan upaya menjaring pemain yang berkualitas. Dan situasi antar kota dan travel juga menarik, terlebih apabila ketidakseimbangan talent yang tersedia antar kota. Saya ingin mengundang mba untuk menulis dan berdiskusi lebih jauh tentang hal ini untuk sekalian mengintip kondisi ketenagakerjaan musisi orkestra di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: