Kabar Terkini

Menarik Bakat Terbaik dalam Pengajaran


Dengan semakin banyaknya tenaga kerja pendidik musik yang memasuki lapangan kerja, semakin beragam pula kualitas yang ditelurkan. Dengan semakin banyaknya tenaga pendidik ini juga semakin ketatlah proses seleksi dan kepegawaian yang dihadapi oleh para pendidik musik ini dan juga bagaimana sebuah sekolah musik dapat bersaing dan unggul dalam menarik talent-talent terbaik dan tidak kehilangan kesempatan.

Dengan banyaknya tenaga berkualitas yang mulai tumbuh dalam bidang pendidikan, seringkali sistem rekruitmen guru-guru musik tidak bisa hanya sekedar mengandalkan sistem rekruitmen konvensional terutama dalam menseleksi guru-guru musik. Di banyak sekolah musik saat ini, tidak sedikit yang masih mengandalkan sistem konvensional dalam ketenagakerjaan, yakni seleksi internal. Di sekolah-sekolah musik ini umumnya mereka memiliki keyakinan akan sistem yang mereka bentuk dalam menjaring dan membentuk guru-guru berkualitas lewat proses pendidikan internal. Alhasil dalam banyak sekolah musik seperti ini, jajaran alumni lah yang banyak mengisi pos-pos keguruan. Umumnya sekolah musik yang sudah cukup lama berdiri menganut prinsip ini dikarenakan sistem pendidikan mereka telah lebih matang dan telah berhasil melewati 1 siklus pendidikan, yakni murid yang dididik dalam waktu sekian tahun akhirnya telah siap menjadi pendidik. Sekolah musik seperti Yayasan Pendidikan Musik, pendidikan tinggi seni seperti Institut Seni Indonesia cukup banyak mengandalkan metode yang sudah terpercaya ini. Para calon pendidik ini pun secara otomatis telah mengenal medan dan kondisi institusi, dikarenakan mereka dibentuk secara internal.

Di beberapa sekolah musik lain, proses yang dilakukan adalah melalui tahap pendaftaran atau aplikasi. Sekolah Musik Purwacaraka adalah salah satu yang cukup getol melakukan proses prosedural ini untuk mampu mengakomodir ekspansi mereka yang tergolong luas dan cepat. Menunggu kehadiran alumni yang kemudian siap menjadi pendidik malahan akan menghambat perkembangan organisasi karena proses pembentukan pengajar secara internal bisa jadi kalah cepat dengan perkembangan bisnis. Banyak sekolah musik baru juga mencari tenaga pengajar mereka lewat metode aplikasi ini yang menuntut pencari kerja untuk mendaftar lalu kemudian menjalani serangkaian audisi dan tes untuk melihat kelayakan mereka dalam mengajar.

Sekolah musik Yamaha menggunakan metode campuran. Dengan keberadaan mereka yang cukup lama sembari juga didukung dengan program pendidikan keguruan yang kuat, mereka mampu mencetak guru-guru mereka sendiri namun juga membuka pendaftaran guru secara terbuka. Mereka yang mendaftar dan terpilih bersama dengan para alumni masuk dalam sebuah program pelatihan untuk membentuk standar keguruan mereka berdasarkan sistem sekolah musik tersebut. Karenanya tidak heran apabila dalam sekolah musik seperti ini, guru yang produksi dalam dengan didikan di luar institusi tersebut bekerja berdampingan.

Namun dengan kaitan semakin meningkatnya jumlah lulusan musik berkualitas berarti juga semakin meningkat, sekolah musik pun perlu lebih tanggap dalam melihat peluang calon guru-guru musik berkualitas yang mulai hadir di bursa kerja. Sekolah pun harus semakin tanggap dan cepat dalam melihat dan meraih guru-guru baru berkualitas ini. Di dalam bursa kerja bisnis secara umum, banyak departemen Human Resource Development di perusahaan menggunakan jasa headhunter untuk mencium peluang dan juga tenaga-tenaga ahli berbakat untuk kemudian menariknya sebagai bagian dari perusahaan. Headhunter ini umumnya secara organisasi terpisah dari perusahaan yang sedang mencari tenaga kerja yang memungkinkannya memiliki intelijensi cukup untuk mengendus tren dan gejolak di bursa kerja serta mengidentifikasi tenaga kerja profesional berkualitas dan menseleksinya untuk kemudian direkomendasikan kepada bidang HRD perusahaan.

Recruiting

Banyak institusi pendidikan musik agaknya terlalu jauh apabila harus menggunakan jasa headhunter, namun tidak bisa dipungkiri bahwa institusi pendidikan pun membutuhkan agresivitas sebuah headhunter untuk mampu mengidentifikasi tenaga kerja potensial yang hadir di bursa kerja. Institusi pendidikan pun selain harus awas pada bursa kerja dan tenaga-tenaga berkualitas, juga harus awas terhadap tren perkembangan karir di bidang pendidikan musik. Dengan semakin banyaknya pemusik berkualitas bermunculan di dalam, juga tidak sedikit yang kembali ke tanah air dari menimba ilmu di luar negeri, perlunya kejelian sekolah musik untuk melihat potensi menggaet tenaga potensial ini untuk kemajuan organisasi. Kalah cepat sedikit, tentunya akan berpengaruh dengan hilangnya potensial yang dapat ikut mengembangkan kualitas institusi pendidikan, sebuah kondisi yang patut disayangkan.  Gitanada dan Jakarta Conservatory of Music adalah beberapa organisasi yang cukup aktif bergerilya dalam mencari talent pendidik, baik tetap maupun untuk memberi masterclass dan workshop. Namun tantangan baru akan muncul yaitu sebagaimana dalam metode aplikasi, yakni mengintegrasikan kultur dan sistem pendidikan di satu sekolah musik dengan pribadi baru tersebut. Resiko pun juga lebih besar yakni memastikan kualitas mereka yang didapat dari hasil gerilya ini.

Semakin ketatnya persaingan antara organisasi pendidikan musik untuk mencari sumber daya manusia terbaik, perlu semakin cerdik pula dalam mengidentifikasi dan mengelola sumber daya manusia dalam institusi pendidikan. Tidak ada hitam putih dalam memilih metode rekrutmen. Yang dibutuhkan adalah kelincahan dalam melihat situasi dan beradaptasi dalam pasar tenaga kerja dan pengenalan akan budaya organisasi secara internal, apapun metodenya. Namun semua untuk mampu melakukan hal tersebut, bagian HRD kini juga harus menjadi fokus dalam pengembangan organisasi pendidikan sekalipun. Bukan hanya untuk melihat ke dalam namun juga untuk aktif melihat kondisi lapangan di luar organisasi.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: