Kabar Terkini

Pengembangan Internal Pendidik Musik


Great talent is wired to improve, enhance, and add value. ~Forbes.com

Tenaga pendidik berkualitas selalu sulit untuk didapat, dan apabila sudah didapat, lebih tidak mudah lagi untuk diikat, apalagi apabila berbicara soal pendidik musik yang adalah insan kreatif. Insan kreatif adalah insan yang paling sulit untuk dijagai dan tidak mudah untuk ‘dijinakkan’. Kecenderungan mereka untuk berpikir di luar kelaziman dan out-of-the-box menjadikan tenaga pendidik musik adalah insan yang menantang untuk terus diberi perhatian secara lebih, terutama di sisi pengembangan diri dan karir.

Pendidik sebagai insan kreatif umumnya adalah insan yang tidak bisa berjalan di tempat dan mengharapkan perkembangan karir yang cukup jelas. Sayangnya seringkali bidang pendidikan seni adalah bidang yang cukup sulit untuk menelisir pengembangan diri dan pengembangan karir secara umum. Sebagaimana dalam artikel Forbes di atas, banyak insan kreatif dan berkualitas umumnya tidak betah dengan jenis pekerjaan yang dibebankan padanya terutama apabila mereka sebagai pekerja tidak diberikan kebebasan untuk berkembang dan berkreasi.

Tantangan yang harus diangkat bagi sebuah institusi pendidikan seni musik adalah melihat cara terbaik untuk mempertahankan sumber daya manusia terbaik yang mereka miliki sembari menarik pula sumber daya berkualitas yang ada di bursa. Salah satu langkah strategis dan sentral yang perlu diberikan adalah program pengembangan keahlian di dalam institusi pendidikan seni. Pengembangan keahlian ini bisa jadi yang berhubungan dengan keterampilan mendidik, dan juga bisa yang berada di luar keterampilan mendidik tersebut namun berdampak pada pengembangan keahlian yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan.

Dalam istilah pengembangan sumber daya manusia hadir istilah pengembangan hard skill dan pengembangan soft skill. Pengembangan hard skill adalah pengembangan keterampilan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan sehari-hari. Dalam kapasitas sebagai seorang pendidik, bagaimana teknik mengajar di kelas, bagaimana menyusun laporan perkembangan anak yang komprehensif, bagaimana teknik menyusun silabus dan hal yang sejenis. Juga bagaimana menangani tempramen dan karakteristik anak menjadi hal yang sentral dalam pengembangan hard skill. Soft skill di sisi lain lebih banyak berbicara tentang keahlian yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan bekerja mereka namun lebih kepada perkembangan mereka sebagai seorang insan. Dalam hal ini kemampuan berbicara di depan publik, kemampuan membina relasi dan bahkan kemampuan membina karir dan kewirausahaan dapat dipelajari di sini.

Di sini kata kuncinya adalah pengembangan insan pendidik agar dapat mengaktulisasi diri dalam proses pengembangan diri sehingga tercipta kepuasan mereka dalam bekerja. Perlu diperhatikan bahwa pelatihan ini pada akhirnya harus membawa manfaat bagi pribadi tersebut maupun bagi pemberi kerja, sehingga pendidik berkualitas semakin meningkatkan kualitasnya dan juga kerasan di tempat kerja karena merasa berkembang.

Pengembangan kreativitas ini juga berarti memberi mereka ruang yang lebih luas untuk berkreasi dan bekerja secara mandiri serta berkontribusi terhadap organisasi tanpa campur tangan yang terlalu banyak dari pihak manajemen. Dengan demikian, pelatihan menjadi sebuah cara untuk membentuk tenaga pendidik yang lebih dewasa dan matang, juga sebagai sebuah fasilitas untuk membentuk tenaga pendidik yang dapat dikaderisasi menjadi seorang pemimpin dalam organisasi.Classroom

Pertanyaan berikutnya adalah seberapa jauh institusi pendidikan bersedia berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia para pengajarnya. Seberapa jauh pula mereka mau berkomitmen untuk mengembangkan tenaga kerjanya secara berkesinambungan juga menjadi penentu kesuksesan sebuah pelatihan dalam organisasi. Sebuah organisasi dengan pelatihan yang berhasil adalah organisasi yang tidak pernah takut akan regenerasi kepemimpinan di institusinya, pun memiliki tenaga kerja yang kualitasnya terus berkembang.

Pada akhirnya organisasi sehatlah yang mampu menginvestasikan diri pada tenaga kerjanya. Institusi pendidikan yang sehat pulalah yang mampu mengembangkan bukan hanya potensi peserta didik, tetapi juga potensi pengajarnya sekaligus. Sayangnya ternyata sedikit kita melihat institusi pendidikan seni yang kemudian mau berinvestasi bagi para pengajarnya, dan juga betapa sedikit pengajar yang memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan dirinya.

Zona nyaman itu begitu besar, dan peran institusi pendidikan untuk terlibat aktif dalam pengembangan kualitas tenaga pendidiknya. Dan bagi mereka yang bekerja bagi sebuah organisasi yang mau mengembangkan tenaga pengajarnya, bersyukurlah bahwa organisasi masih mau berinvestasi pada diri Anda.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: