Kabar Terkini

Merangkul Digital Marketplace, Tahapan Lanjut Musik Seni


Melihat geliat banyaknya bisnis start-up digital marketplace di Indonesia yang didukung kapital asing, semakin jelas pula bagaimana banyak pemilik modal asing saat ini melihat Indonesia sebagai potensi pasar yang menjanjikan. Banyak kapital dari luar negeri pun berlomba untuk masuk ke Indonesia dan perlahan menggemukkan digital marketplace kita, sebuah peluang yang harus segera ditangkap bahkan juga untuk keberlangsungan musik seni untuk segera melihat jalur yang ada.

Marketplace adalah sebuah ruang di mana penjual dan pembeli bertemu dan tempat di mana transaksi terjadi. Penciptaan kondisi tersebutlah yang memungkin terjadinya transaksi jual beli dan diskusi antara calon penjual dan pembeli. Ranah ini bisa dikatakan agnostik terhadap produsen maupun konsumen, tidak terlalu berpengaruh siapa yang membuat produk ataupun memakai produk selama transaksi jual beli dimungkinkan. Banyak dari marketplace ini kemudian beralih ke dunia digital, di mana penjual dan pembeli bertemu dalam sebuah laman, tawar-menawar dan transaksi terjadi. Inilah digital marketplace yang di Indonesia dipimpin banyak perusahaan start-up yang didanai kapital asing. Nama-nama besar pun bermunculan dari sektor ini seperti bukalapak.com, olx.com, blibli.com, tokopedia, elevenia dan kiostix.com, ticket.com yang berbasis e-commerce.

Keterlibatan pihak penanam modal asing dalam peran middleperson ataupun brokerage seperti ini adalah sebuah hal yang dapat disimak. Ini pun dapat dilihat dari peran mereka bukan sebagai produsen maupun konsumen yang lebih terikat dengan banyak peraturan di Indonesia, namun lebih sebagai penyedia modal bagi terciptanya marketplace digital ini, sebuah langkah bisnis bagi mereka yang risk-averse dan melihat Indonesia yang sering dipandang sebagai self-sustaining country di mana produksi dalam negeri banyak dikonsumsi pula di dalam negeri.

Yang perlu kita cermati adalah bagaimana aktivitas kreatif, terutama dalam musik seni menggunakan marketplace ini sebagai bagian dari strategi pemasaran dan ruang transaksi. Menarik apabila kita mencermati bagaimana pertunjukan musik pop memudahkan pembeli lewat pembelian tiket konser via online marketplace maupun e-commerce yang hanya berjarak 3 hingga 4 klik. Namun untuk musik seni, seringkali hal tersebut masih jauh dari mudah. Angkat telepon ataupun mengirimkan pesan lewat telepon genggam adalah hal yang biasa untuk musik seni Indonesia. Demikian juga dengan membeli rekaman, ternyata tidak semudah itu pula menemukan rekaman musik seni Indonesia di Amazon maupun di iTunes.

Apabila kita ingin menatap masa depan yang lebih cerah, seringkali pula kita lebih berani dalam menjelajah channel-channel mutakhir ini untuk mendukung kemajuan apresiasi seni dan semakin meluasnya paparan seni di berbagai kalangan. Terlebih Indonesia adalah salah satu negara dengan konektivitas tertinggi di dunia, dengan lebih dari 75 juta orang kini telah terhubung dengan internet dan perangkat mobile. Indonesia sedang berkembang, dan juga tentunya bagaimana penggiat musik seni merangkul pasar dan fungsi pemasaran yang lebih bergeliat menjadi salah satu penentu akankah musik seni mampu menciptakan tempatnya sendiri di antara masyarakat Indonesia. Terlebih banyak promotor musik seni di Indonesia lebih berukuran kecil dan sedang yang tentunya akan diuntungkan apabila hadir marketplace yang mampu membantu terciptanya arus transaksi yang sehat dan lancar.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: