Kabar Terkini

Bandung Menggandeng Zaha Hadid Untuk Gedung Kesenian


Inisiatif Bandung melalui Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dan Walikota Bandung Ridwan Kamil untuk membangun infrastruktur gedung konser perlu diapresiasi sekaligus dicermati. Sarana besar yang maju bisa jadi merupakan sebuah jawaban atas kebutuhan Kota Bandung akan sebuah gedung pertunjukan yang representatif di salah satu kota terbesar di Indonesia ini. Dengan penduduk kota di kisaran 2.4 juta dan kawasan metropolitan berpopulasi 7 juta orang, sudah waktunya Bandung bergerak di bidang infrastruktur.

Tim dari Zaha Hadid, arsitek kenamaan internasional berkebangsaan Inggris-Irak, baru saja berkunjung ke Kota Bandung untuk membicarakan kemungkinan spesifikasi yang dibutuhkan untuk membangun gedung konser tersebut (detik.com). Ruang 4 hektar akan dibagi menjadi dua peruntukan, yakni gedung konser dan area komersial seperti mal dan hotel (antara). Walaupun dikatakan bahwa Bandung tidak mengeluarkan satu peserpun untuk keperluan desain sebesar 20 miliar rupiah ini karena telah ditalangi dana hibah, lagi-lagi kita bisa bertanya dalam hati, seberapa jauh warga Bandung dan kalangan senimannya akan terlibat dalam mendefinisikan gedung ini.

Dalam pembangunan infrastruktur perlu diingat bahwa keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting, baik dalam proses perencanaan maupun juga dalam proses pengelolaan yang terbuka. Dan seberapa jauh penggunaan gedung ini bukan hanya ditujukan bagi artis-artis asing, tetapi juga bagi seniman-seniman lokal di mana sebuah infrastruktur mewujudkan tujuannya sebagai pengembangan daya kreatif masyarakat sekitar. Disebutkan bahwa gedung kesenian di Cikutra ini akan terdiri dari beberapa gedung, dari yang berukuran 100 hingga 5000 orang (Tempo.com), sebuah langkah yang baik untuk menjadi inkubator baik untuk pertunjukan kelas kecil hingga kelas besar. Namun perlu juga dicermati bagaimana harga sewa yang akan diterapkan untuk sebuah ruang tersebut sehingga tetap terjangkau oleh para penggerak seni sekitar dan masuk akal bagi penyelenggara kegiatan seni kelas kecil dan menengah.

Nyatanya perlu banyak yang dipikirkan dalam membuat sebuah gedung konser yaitu apakah komunitas sekitar dapat menjaga dan merawat fasilitas tersebut. Perawatan selalu menjadi permasalahan bagi banyak gedung pertunjukan sekelas apapun di Indonesia. Lain daripada itu adalah bagaimana gedung ini dapat menjadi sentral pengembangan kesenian komunitas di yang berada di sekitarnya. Kompleks ini kemudian bukan hanya hidup 2-5 malam dalam setahun dan hanya mengandalkan selebritas asing, tapi harus terus bergeliat setiap siang dan malam sepanjang tahun dan untuk ini pemberdayaan komunitas menjadi penting.

Perlu dicatat bahwa strategi mengisi panggung dalam arti pertunjukan dan ruang di sekitar gedung dengan kegiatan kesenian sebagaimana disebutkan dalam peruntukan awal menjadi hal yang sangat krusial. Komunitas macam apa yang kemudian akan mendapat ruang dalam berkegiatan di tempat ini juga akan menentukan citra gedung ini secara utuh, bukan hanya desain gedungnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Belum lagi pembangunan gedung kesenian juga harus didukung oleh jaringan transportasi publik yang mumpuni dan mampu mendukung gedung kesenian dan menjadi urat nadi kota. Apabila gedung kesenian sulit dijangkau dengan transportasi publik, parkir juga sulit, jarang biasanya sebuah gedung kesenian bisa sungguh berhasil. Sebenarnya Indonesia cukup beruntung karena akhirnya banyak penonton yang lebih mengandalkan kendaraan pribadi. Namun apakah kemudian kesenian yang dipertunjukkan hanya bagi mereka yang berkendaraan pribadi, dan menjadi tertutup bagi kalangan yang lebih luas. Kawasan Cikutra memang masih tergolong sentral di Bandung, tapi apakah moda transportasi publiknya sekarang mampu mendukung 5000 orang penonton yang bubaran menonton pertunjukan, perlu dilakukan perencanaan transportasi yang serius.

Langkah yang diambil memang baru sebatas survei dari kantor arsitek Zaha Hadid. Belum termasuk mencari rekanan untuk membangun gedung ini yang mungkin akan memakan dana setidaknya 100 miliar rupiah. Belum lagi banyak pekerjaan rumah lain yang harus dilakukan, seperti konsultasi perancangan ruang pertunjukan dan akustik yang lebih banyak menggali aspek teknis dalam ruang. Pembangunan gedung semacam ini biasanya akan memakan waktu yang lama dalam proses finalisasi dan tentunya akan alot karena berhubungan dengan kepentingan orang banyak dan juga APBD dan uang rakyat. Sedikit catatan, Gedung Opera Guangzhou yang dirancang oleh Zaha Hadid masuk dalam kriteria gedung opera modern terbaik di dunia dirancang tahun 2002 dan selesai tahun 2010. Proyek ini pun memakan dana hingga 1.3milliar yuan atau sekitar 2.5 triliun rupiah.

Tidak sedikit proyek monumental ini berhasil membangun daerah, seperti di kota Bilbao, sebuah proyek regenerasi yang terbilang selalu diagungkan menjadi percontohan di banyak belahan dunia. Yang pasti semua harus cakap berhitung dan menggarap strategi, karena bisa jadi pembangunan yang sekarang akan berbuah hutang dan kegagalan di masa mendatang, masa di mana para pengambil keputusan tidak lagi menjabat.

Kini yang perlu dilakukan adalah awasi dengan seksama ke manakah pergerakan diskusi ini.

~Sedikit pemikiran saya yang berhubungan dengan bidang ini bisa dibaca di sini.

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Bandung Menggandeng Zaha Hadid Untuk Gedung Kesenian

  1. wah udah ada di trackbacks ya😉 ya inilah pemikiran gue Mike… thanks

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Menyoal Gedung Kesenian di Indonesia « My Blog Here and There...
  2. Zaha Hadid Arsitek Gedung Kesenian Bandung Wafat – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: