Kabar Terkini

Kuliah Musik: Pilih Konservatorium atau Universitas


Banyak aspiran musisi dan pecinta musik seringkali bertanya, apakah mereka dapat melanjutkan pendidikan musik di tingkat pendidikan tinggi. Jawabannya adalah ya, tentu saja dapat dan banyak institusi pendidikan tinggi menawarkan jurusan kuliah musik. Dan sibuklah aspiran muda ini memilih, berkuliah di konservatorium atau universitas. Lalu apa bedanya?

Meskipun dikotomi sekarang ini tidak lagi terlalu lebar, namun perlu disadari bahwa ada perbedaan gaya studi dan pengajaran musik di konservatorium maupun di universitas, dua buah gaya studi di mana hampir semua jurusan musik di dunia dapat digolongkan. Karenanya sebelum memilih ada baiknya mengenal perbedaan dari dua kategorisasi ini.

Studi di Konservatorium

Nama konservatorium bisa jadi sangat asing di telinga. Apa itu konservatorium? Sebagaimana namanya tempat ini dahulu dicanangkan sebagai tempat belajar dan pelestarian (konservasi) seni pertunjukan. Dahulu ketika dikotomi karya populer dan seni adiluhung mengemuka, konservatorium dianggap sebagai tempat melestarikan seni pertunjukan adiluhung yang kemudian bercorak pada pelestarian nilai-nilai praktis dan ilmu yang ada di dalamnya.

Nama konservatorium ini bisa beragam, namun lebih sering berbentuk sebuah institut ataupun sekolah tinggi yang terspesialisasi dan lebih terkonsentrasi sebagai sebuah sekolah vokasi. Sebelum wacana pendidikan kesarjanaan mengemuka dan mewabah, konservatorium tidak selalu menawarkan ijazah sarjana namun lebih kepada sertifikasi dan diploma kejuruan. Namun belajarnya seringkali tidak main-main, bisa lebih dari 5 tahun untuk mendapatkan diploma tersebut (Diploma D4-D5). Sistem ini beberapa masih dianut di Jerman dan banyak konservatori lain, meskipun banyak konservatori kini juga menawarkan pendidikan S1 kesarjanaan.

Fokus pembelajaran dalam konservatorium pun lebih berfokus pada praktik. Karenanya konservatorium menjadi tempat yang tepat bagi mereka yang ingin membina keahlian dan meniti karir sebagai seorang musisi praktis. Fokusnya pada hal praktis ini pun juga umumnya didukung dengan sistem pengajaran yang mendukung, yakni guru-guru praktik yang hebat dan pengetahuan teoritis yang mendukung untuk tujuan praktis musik tersebut. Umumnya konservatorium terbaik adalah mereka yang berhasil mencetak musisi-musisi (baik instrumentalis, vokalis maupun komponis) handal. Juga perlu dicatat, dikarenakan praktik musik seringkali menjadi jalan awal dalam membina karir musik dan yang paling familiar dibanding bidang keilmuannya, persaingan di dalam konservatorium pun ketat, dikarenakan hampir semua musisi dibentuk untuk menjadi seorang instrumentalis terbaik dalam ukuran yang hampir serupa walaupun tidak sama. Namun dari sinilah umumnya hadir musisi-musisi yang hebat, terutama di sekolah-sekolah spesialis ini.

Studi di Universitas

Studi musik di universitas agak sedikit berbeda. Meskipun tetap memiliki pelatihan praktis, namun fokus pendidikan di universitas umumnya lebih kepada bidang yang akademis empiris. Universitas sebagaimana lembaga pendidikan akan lebih fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan di bidang musik dibandingkan dengan keterampilan bermusik. Mereka sebagai pelajar lebih dikembangkan sebagai seorang intelektual dibandingkan menjadi seorang teknisi yang handal.

Walaupun tetap banyak musisi praktis berkualitas yang lahir dari universitas, namun biasanya bidang yang maju dalam departemen musik di sebuah universitas adalah di bidang kajian dibandingkan dengan bidang pertunjukan ataupun penyajian. Di bidang seperti ini diskusi sosiologis mengenai musik pop, etnomusikologi, musikologi, musik dan pendidikan akan mendapat fokus yang jelas. Penyajian dalam kerangka universitas pun diarahkan untuk memiliki lingkup akademik yang kuat dan bukan hanya menjadi sekedar penunjang dari kegiatan praktis. Karenanya dalam studi di universitas banyak menekankan pada aspek riset dan keilmuan.

Penelitian tentang musik itu sendiri dan juga antar disiplin dalam musik menjadi hal yang biasa dikarenakan universitas memiliki rentang ilmu yang lebih luas ke bidang ilmu lain seperti antropologi, sosiologi, ekonomi bahkan matematika, komputerisasi dan psikologi. Di universitas lebih mungkin untuk menemukan beberapa riset yang berhubungan dengan musik namun bersinggungan dengan bidang lain. Selain itu kerangka ilmu budaya juga umumnya lebih digarap dalam studi di universitas ini, sehingga seringkali mereka memiliki kekuatan lebih dalam pengetahuan kontekstual musik dibandingkan dengan praktisnya. Pun meskipun sering tidak sekompetitif di konservatorium, dengan bersekolah musik di universitas memungkinkan seorang mahasiswa untuk membentuk jejaring yang lebih luas dengan beragam latar belakang.

Inilah mungkin gambaran umum bedanya belajar musik di universitas maupun di konservatorium, masing-masing memiliki kekuatannya. Namun di masa kini semakin terjadi percampuran di antara belajar musik di universitas maupun di konservatorium, yakni sistem pun semakin bercampur satu dengan yang lain. Semakin banyak konservatorium yang kini menawarkan gelar sarjana dan didukung staf akademik dan praktisi yang sama-sama kuat. Di universitas pun demikian, kini juga semakin mampu memperkuat barisan di sisi pengajar praktisi yang juga tidak kalah hebat.

Sayangnya seringkali sistem universitas dan konservatorium dari sisi akademik sulit untuk dibandingkan. Misalnya menulis paper dan esai yang diterbitkan apakah dapat dibandingkan dengan kerutinan dalam melakukan pertunjukan sebagaimana seorang praktisi? Meskipun seringkali ingin disamakan namun pada praktiknya sulit. Itulah sebabnya di AS muncul gelar Doctor of Musical Arts yang cukup berfokus pada praktik misal di bidang flute abad 17 sedang Doctor of Philosophy lebih berfokus pada teoritis seperti studi musik etnik, dan kedua-keduanya berada di bidang seni musik.

Nah sekarang apabila teman-teman ingin memilih, ingin lebih kuat di sisi apa?

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Kuliah Musik: Pilih Konservatorium atau Universitas

  1. Saya rasa universitas dan konservatorium sama-sama kompetitif. Tidak dapat dikatakan bahwa yang satu lebih kompetitif dari yang lainnya, atau sebaliknya. Lingkupnya saja yang berbeda. Apabila seorang musisi tidak latihan serius, maka dia akan tertinggal. Begitu pula akademisi, apabila tidak rajin mengikuti perkembangan keilmuan, tentu akan ketinggalan jauh. Yang perlu diperhatikan justru pada saat musisi atau akademisi tersebut lulus dari kuliah. Apakah lantas memberikan suatu kontribusi terhadap dunia seni atau akademik; apakah dapat mempertahankan/mempertajam standarnya sejak lepas dari bangku sekolah; apakah senantiasa terbuka terhadap inovasi dan perkembangan ilmu pengetahuan?

  2. Pertanyaan terakhir perlu disikapi dengan seksama! Thanks for pointing that out, Aditya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: