Kabar Terkini

Sudah Waktunya Beralih ke Industri Kreatif?


Melihat ramainya kabar akan tutupnya industri manufaktur elektronika Toshiba dan Panasonic dan terancam dirumahkannya hampir 2,500 karyawan bisa jadi bukan hal yang luar biasa, namun tetap mengganggu, terlebih dengan mengaitkannya dengan iklim investasi di Indonesia (liputan6.com). Namun sudikah kita bertanya, apakah industri manufaktur elektronik yang akan menjadi salah satu penopang perekonomian kita?

Mengandalkan sektor industri manufaktur asing terutama di bidang elektronika dan mengaitkan langsung dengan negatifnya iklim investasi adalah kesimpulan yang terlalu terburu-buru. Beragam faktor dapat dicermati selain persoalan internal kita. Jepang meskipun kuat bukan lagi menjadi raksasa elektronik seperti 20-30 tahun yang lalu. Industri ini sebagaimana sifatnya, telah menjadi semakin murah terutama di sisi manufaktur. Bahkan dunia telah perlahan melihat pergeseran manufaktur elektronika ke China dan pergeseran perusahaan besar elektronik ke Korean dan China. Ketergantungan pada industri manufaktur elektronik Jepang akan berakibat buruk. Namun apakah dengan demikian Indonesia lebih baik beralih ke industri elektronik lain dari Korea dan China?

Jawaban jangka panjang untuk pertanyaan di atas, tidak bisa. Industri manufaktur hanya akan berpindah ke negara dengan tenaga kerja paling murah. Apabila kita berharap untuk mengangkat kesejahteraan tenaga kerja, upah yang lebih mahal tidak akan menjadi insentif bagi industri manufaktur, yang ada perlahan dengan semakin mahal tenaga kerja, mereka akan hengkang mencari tenaga kerja yang lebih murah.

Bisa jadi ini adalah sebuah pertanda pula bahwa untuk waktu-waktu ke depan sudah saatnya Indonesia menoleh ke industri yang lain yang mampu bertahan dan hak kepemilikan lebih kuat berada di Indonesia, dan bukan membuat sesuatu atas dasar kekayaan intelektual orang lain. Apabila demikian industri manufaktur kita pun hanya akan mengekor di mana inovasi berada. Mungkinkah ini saatnya Indonesia melihat industri kreatif yang mengandalkan kekayaan intelektual? Apakah ini menjadi sebuah jalan keluar pula bagi tenaga kerja Indonesia, yang perlahan meninggalkan sektor agraria dan mungkin tidak lama lagi meninggalkan sektor manufaktur?

Yang pasti ini bukan sebuah jawaban singkat, namun sudah waktunya juga Indonesia mulai memikirkan jalan keluar dari kondisi post-industrialisasi. Mungkin masih jauh di ujung sana, karena Indonesia belum sepenuhnya menjadi negara industrial, tapi bisa jadi tidak pula terlalu jauh di masa mendatang. Dan bisa jadi ekonomi kreatif adalah jawaban dari pertanyaan ini.

Apabila saat itu datang, sudah saatnya pula sumberdaya manusia kita siap untuk menghadapinya.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: