Kabar Terkini

Philharmonia dan Lahav Shani, Ketika Orkes Unjuk Gigi


Malam Kamis ini Southbank Centre, Royal Festival Hall menggelar malam bertema Vienna. Piano Concerto No.20 KV.466 dari W.A. Mozart menjadi pembuka dari konser malam itu. Dan tampil sebagai solois, sang konduktor sendiri, Lahav Shani seorang konduktor/pianis belia berusia 26 tahun. Tampil dengan format agak kecil, namun tetap besar yakni dengan 12 orang pemain violin 1, orkestra yang dibentuk tahun 1945 oleh Walter Legge ini menghadap sang konduktor/solois pemenang kompetisi dirigen bergengsi Bamberg Symphony Orchestra, Gustav Mahler Conducting Competition tahun 2013. Dan di hadapan Shani, tidak ada selembar partitur pun. Rupanya ia ingin memimpin dengan mengandalkan ingatannya.

Orkestra nampak terintegrasi dengan halus dan kekompakan yang lekat. Piawai sembari memimpin di depan piano yang terbuka lebar, Lahav Shani nampak menguasai keseluruhan karya. Sebagai seorang pianis, Lahav Shani memiliki kapasitas yang baik, dengan pendekatan teknis dan permainan musikal yang matang. Namun dalam permainan kemarin, nampak bahwa Lahav Shani bukan seorang pianis ulung yang mampu mengimbangi kapasitas orkestra. Kejernihan dan proyeksi permainan pianonya menjadi masalah utama, terlebih apabila harus bermain di sebuah ruangan dengan kapasitas 2,500 orang. Permainannya yang cenderung cantik elegan acap kali tenggelam dalam permainan orkestra yang musikal dan terproyeksi. Beberapa bagian yang mengandalkan dialog tanya-jawab orkestra dan piano seperti tenggelam dan menyisakan orkestra dan piano yang seakan bergumam di balik layar. Solois dan orkestra serasa dalam wahana yang berbeda; Philharmonia di sebuah auditorium orkestra, sedang Shani di auditorium musik kamar. Shani bisa jadi musikal, namun secara teknik malam kemarin ia bukanlah solois yang mampu mengimbangi orkestra besar.

Antisipasi besar untuk program monumental di babak II. Kala itu Lahav Shani bersama Philharmonia akan melahap karya Gustav Mahler Symphony No.1, sebuah karya monumental dalam repertoar simfoni. Tampil dengan format raksasa, Philharmonia tampak gesit melahap karya Mahler ini. Percikan api nampak dari permainan orkestra yang bertenaga ini. Lahav Shani pun menampakkan musikalitasnya dalam menggarap waktu. Nafas demi nafas tersampaikan secara natural lewat permainan orkestra. Gelegar barisan tiup logam pun membahana berbaur dengan tenaga dari seksi gesek dan kecermatan seksi tiup kayu. Seksi perkusi pun tampil paripurna. Shani pun tampil tanpa partitur, yang menandakan kepercayaan dirinya akan garapan musik yang telah ia lakukan.

Philharmonia Shani2

Namun tampak bahwa konduktor muda berkebangsaan Israel ini masih terpaut pada permainan musik secara umum. Level orkestra yang tinggi bersama dengan nafas natural sang konduktor mampu membentuk frase-frase yang cantik dan interaksi musikal di antara kelompok-kelompok pemain dalam orkes. Namun ketika dicermati lebih detail, Shani luput untuk membentuk permainan dinamika musikal yang secara mendetail ditulis oleh sang komponis dalam setiap frase. Mahler sendiri dikenal sebagai konduktor ulung yang paham betul mekanika orkestra dan memiliki kecenderungan menuliskan secara mendetail apa yang ia inginkan dalam partitur. Kealpaan ini yang seringkali menjadikan gambaran musik secara umum terasa timpang, bagian-bagian besar dan keras terasa padu dan berkarakter terlebih dengan sapuan-sapuan gerakan dari Shani, namun bagian-bagian kecil terasa bahwa sensitivitasnya kurang tergarap, demikian juga letupan-letupan musikal yang menghiasi musik simfoni berdurasi 50 menit ini.

Dapat dikatakan dalam pertunjukan kemarin menunjukkan bakat dan potensi Lahav Shani yang terbilang masih sangat muda sebagai seorang konduktor internasional. Namun keseluruhan pertunjukan sesungguhnya terselamatkan oleh kaliber Philharmonia Orchestra yang bermarkas di Royal Festival Hall ini. Dan bagi Shani, karirnya sebagai konduktor masih punya jalan yang panjang untuk berkembang dan menjadikannya konduktor kelas dunia.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: