Kabar Terkini

Musik Bagus itu Fungsi dan Coba-coba


Mencari pertunjukan bagus tidaklah pernah mudah. Walaupun sering diadakan pertunjukan, tidak semua pertunjukan yang diselenggarakan memuaskan dan tidak mudah pula menemukan pertunjukan yang sungguh berkualitas. Karenanya, kualitas menjadi sebuah barang yang sangat dicari-cari dalam dunia seni pertunjukan. Dan sangat mungkin sekali menemukan konser berkualitas yang sulit ini juga yang menyebabkan mahalnya harga tiket pertunjukan. Untuk menelusur pernyataan ini mari menelisik lebih jauh.

Dalam buku karya Patrik Wikström, ‘The Music Industry’, secara menarik dikutip bahwa seni itu bertopang pada kreativitas untuk menemukan maknanya seperti yang garap oleh Teresa Amabile, yakni berdasarkan fungsionalitas dan efektivitas seni tersebut dan bagaimana aktivitas tersebut bersifat heuristik dan bukan algoritmik.

Dalam gambaran pertama tentang fungsionalitas dan efektivitas, menarik untuk melihat bagaimana sebuah karya seni, termasuk musik mampu memenuhi tujuan dan fungsinya dalam penciptaannya. Sekalipun terlihat sederhana, pendalaman fungsi dan tujuan musik sebagai sebuah media dapat dilihat dalam kacamata yang beragam. Sebagai sebuah teks, musik tidak hanya dikomunikasikan searah. Di dalamnya terdapat berbagai agensi yang mempengaruhi bagaimana fungsionalitas yang tergarap dari makna komunikasi teks tersebut. Dalam sebuah musik, agensi ini pula yang kemudian mendefinisikan fungsionalitas dari sebuah pertunjukan musik yang multidimensi.

Dari dimensi penulis karya, bisa jadi fungsionalitas itu juga tidak hanya satu. Di satu sisi karya musik dibuat untuk mengekspresikan perasaan dirinya, namun di sisi lain juga menjadi alat untuk kemudian meraih popularitas, hingga menyediakan lauk-pauk di atas meja makan. Demikian pula dengan musisi yang menjadi aktor penyampaian pesan, motivasi dan pandangannya akan fungsi dari musik tersebut beragam pula, dari pemenuhan kebutuhan batiniah hingga sebuah kompromi atas beragam kepentingan yang hadir di sekelilingnya. Promotor, produser dan penyelenggara pun memiliki kacamatanya sendiri melihat karya musik. Bisa jadi mereka melihat nilai karya seni tersebut sebagai sebuah potensi mahakarya yang harus diperdengarkan ke khalayak, ataupun bisa jadi sekedar untuk menutup biaya operasi perusahaan. Penonton pun demikian, fungsi musik pun beragam, dari sebuah media untuk merawat diri dan pemuas kebutuhan hingga sebagai jawaban untuk dapat terhitung dalam sebuah kelompok tertentu. Para remaja yang menyukai band tertentu bisa jadi ‘terpaksa’ untuk menyukai kelompok tersebut karena tekanan dari pergaulannya yang menuntut kesamaan selera musik.

Selain persoalan fungsi, musik pun menemukan kebermaknaannya sebagai sebuah proses yang heuristik, alih-alih algoritmik. Seni tidak berdiri di atas sebuah langkah-langkah sistematis yang menyusun sebuah anak tangga yang wajib dititi. Di kala banyak penelitian mencoba mencari faktor musikal yang menyebabkan sebuah lagu istimewa dan bahkan lagu di pasar, seni dan musik tidak berdiri atas sebuah regulasi yang tertata dan teratur. Algoritma adalah sebuah landasan pemikiran dasar yang sistematis dan dilalui secara teratur untuk menghasilkan sebuah hasil yang pasti, tepat dan sama. Proses penciptaan seni sesungguhnya jauh dari mengikuti sebuah aturan baku dan mengikat.

Seni justru mengandalkan pendekatan yang heuristik yang mengandalkan pada proses belajar, trial and error, dan menemukan jalan keluar yang optimal untuk sebuah permasalahan. Musik pun karena pendekatan yang heuristik tidak dapat diresepkan satu demi satu keindahannya. Seni pun bergerak melampai batas dan kotak, meredefinisi bentuk dan solusi, dan bukan mengandalkan sebuah cetakan baku ataupun resep sukses. Karenanya seringkali musik yang kemudian dianggap hanya mengikuti sebuah resep sukses tanpa keinginan untuk meretas batas dinilai banyak pihak memiliki nilai artistik yang lebih rendah, dan bahkan dicap sebagai tidak orisinal. Sebuah proses untuk mereproduksi setiap faktor keindahan secara rapih terstruktur menjadikan sebuah entitas sebagai sebuah produk manufaktur dan bukan sebuah karya seni. Heuristik menjadi salah satu faktor utama dalam melihat makna dari sebuah karya seni, termasuk musik.

Karenanya dapat disimpulkan bahwa dimensi sosial maupun personal menjadi saling terpaut erat dalam mendefinisikan sebuah fungsi musik dan pertunjukannya. Keragaman ini juga berakibat pada beragamnya persepsi dan juga ekspektasi akan sebuah karya, yang juga menyebabkan fungsionalitas yang dituju tersebut seringkali berprinsip ‘hit or miss‘. Pendekatan musik yang memiliki nilai seni lewat sifatnya yang heuristik juga meningkatkan kemungkinan ‘trial and error‘. Tidak ada resep jagoan untuk menciptakan keindahan, karenanya juga muncul risiko yang juga harus dikenali dan dimaklumi. Sistem dan lingkungan ekonomi industri saat ini lebih condong membebankan risiko tersebut sebagai sebuah harga yang harus dibayar oleh pembeli. Karenanya tidak heran sebuah karya seni dan pertunjukan musik termasuk musik berharga mahal, karena bukan hanya karena karya seninya itu sendiri yang mahal, tapi karena pembeli juga dibebankan ongkos kegagalan, salah pilih, coba-coba dan keragaman fungsional dan perspektif yang ada dalam sebuah angka harga.

Pertunjukan musik yang bagus itu kreatif dan dalam kreativitas itu terdapat risiko. Ada kalanya bagus, ada kalanya jelek, ada kalanya berhasil, ada kalanya gagal. Sekalipun efisiensi ingin dicapai dalam sebuah produksi seni, nyatanya efisiensi hanya akan berlari sejauh itu dan seni akan tetap pada hakikatnya yang fungsional multiperspektif dan heuristik yang rentan kegagalan.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: