Kabar Terkini

Matinya Sang Komponis


~merenungkan kembali artikel ini.

Seberapa berkuasakah sang komponis akan karyanya ketika karyanya dimainkan akan terlihat ketika karya tersebut lahir. Tidak sedikit komponis mencekeram karyanya erat-erat, selalu mengawasi dengan seksama ketika karyanya dimainkan. Ia mengontrol dan mengikat interpretasi, memastikan karyanya dimainkan sesuai dengan kehendaknya. Yang dirasanya bengkok, diluruskannya, yang serasa lain, disamakannya. Semua demi karya tersebut agar hadir dalam hakikatnya, sesuai dengan apa yang ada di benaknya.

Sungguh demi seni musik dan otentisitas ataukah malah di balik alibi itu, sebuah kecenderungan untuk berkuasa dan mengontrol sekitarnya, sebuah bentuk dominasi sang komponis terhadap karya, penyampai karya hingga audiens, pertanyaan ini yang harus dijawab. Penyampaian musik dikontrol sedemikian rupa, sebagai perpanjangan kekuasaan sang komponis yang tidak mampu melepaskan karyanya untuk diinterpretasi secara leluasa oleh orang lain. Beberapa penampil menyaksikan sendiri bagaimana seorang komponis bisa begitu mengikat sehingga melepaskan karyanya untuk berkembang dan bertumbuh, sedetail apapun ia telah menulis maksudnya dalam partitur, ia merasa berkewajiban untuk mempengaruhi setiap langkah dan mengurung kebebasan musik dengan terus menasihati dan mewanti-wanti penampil.

Sekarang bagaimana jika narasi dibalik, percayakah sang komponis bahwa musik yang diciptanya akan tetap setia pada tulisannya sekalipun sang penampil mengambil kebebasan untuk menginterpretasi di antara jeruji-jeruji batas yang tertulis. Roland Barthes menulis tentang ‘gila kuasa’ ini dalam esainya ‘The Death of the Author’ akan bagaimana seorang penulis dan otoritasnya sirna setelah tulisan difinalisasi dan dilepas kepada publik. Di hadapan tulisan yang terpublikasi tersebut, sang penulis sesungguhnya telah mati. Ia tidak dapat lagi mengubah dan memaksakan kendalinya akan bagaimana tulisan tersebut diinterpretasikan oleh pembacanya. Pembaca memiliki otoritas tersendiri untuk menerjemahkan teks yang dipegangnya, memberi makna sesuai dengan kehendaknya dan otoritas dalam makna tersebut tidak berjalan satu arah, melainkan bercabang ke banyak arah.

Komponis pun juga dalam konteks yang serupa. Sebagaimana Barthes melepaskan otoritas penulis ketika tulisan terbit, demikian juga peran komponis sesungguhnya telah sirna akan teks partitur tersebut ketika partitur itu hadir di hadapan musisi siap untuk dibaca, dimainkan dan dimaknai. Demikian juga penonton memiliki otoritas untuk menerjemahkan maksud dari komposisi tersebut, memberinya makna pribadi.

Ketidakpercayaan komponis pada interpretasi sang pembaca musik adalah sebuah penerapan hegemoni akan proses interpretasi yang selayaknya ada. Dengan mematikan proses interpretasi yang bertanggungjawab atas karya, komponis menihilkan peranannya sendiri sebagai seorang komponis dan penulis teks. Ketidakpercayaan tersebut menandakan bahwa komponis tersebut tidak mempercayai metode dan tulisannya sendiri sebagai seorang komponis untuk menyampaikan pesan dan maksudnya lewat media yang ia pilih. Tanya bisa diajukan kepadanya mengapa sulit-sulit menulis musik apabila tidak mampu dan sudi menuliskan maksud dengan seksama dan secara paripurna.

Kesempurnaan interpretasi dan kesetiaan pada kehendak sang komponis bisa jadi adalah sebuah pernyataan yang terlalu digembar-gemborkan untuk menutup bau anyir kehendak mendominasi dari sang komponis. Nyatanya ketika ia mati, tulisannya menjadi milik publik dan akan berada dalam ingatan publik di tempat di mana sang komponis tidak lagi memiliki kuasa. Kendali pun terlepas daripadanya. Kematiannya di hadapan karyanya sendiri adalah sebuah kemutlakan, dan karya musik itu pun terlahir sebagai sebuah makhluk yang merdeka, berjuang dalam masyarakat dengan siklus hidup dan matinya sendiri, diterjemahkan dan diingat, diolah dan digarap kembali, dan hidup dalam ingatan sosial.

Menulis musik bukanlah menciptakan jeruji besi yang mengurung dan mengunci. Menulis musik adalah menciptakan ruang di mana kreativitas pembaca dan pendengar berbaur membentuk makna yang tersendiri, bebas menerawang bebas. Komponis beruntung karena mati berkali-kali, dan sudah sepantasnya hidup berkali-kali untuk terus berkarya mencipta karya baru. Komponis yang tidak pernah mati adalah komponis yang tidak pernah berkarya, tidak pernah rela karyanya tumbuh dewasa menentukan jalan hidupnya sendiri. Karenanya bagi komponis matilah dan karya-karya yang tercipta setelahnya akan membawa denyut nadinya yang tersendiri, dan matilah berkali-kali agar karya-karya hidup merdeka.

Matinya komponis adalah lahirnya musik.

‘If the composer is dead you’d like to to ask him questions, but you can’t. If the composer is alive you can ask him questions, but sometimes you’d prefer he would be already dead.’ – Kirill Petrenko, Berlin Phil Music Director Designate
About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: