Kabar Terkini

Pembakaran Arjuna Purwakarta: Pelik


Pembakaran patung Arjuna di Kawasan Objek Wisata Situ Wanayasa di Kecamatan Wanayasa, Kamis (11/02), sebenarnya harus disikapi secara lebih terperinci dan kritis. Perusakan karya seni publik adalah representasi bentuk vandalisme yang bisa jadi telah jauh mengakar dan menjadi persoalan ideologis.

Patung yang terbuat dari serat fiber setinggi tujuh meter itu dibakar orang tidak dikenal di dini hari Kamis dan merupakan salah satu dari rangkaian aksi vandalisme pada patung-patung bertemakan pewayangan seperti Semar dan Yudistira (lihat di sini) yang dibangun untuk menjadi ikon pariwisata dan kebangunan masyarakat di daerah Purwakarta.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pimpinan Jemaah Manhajus Solihin, Pasar Rebo Purwakarta Syahid Joban mengatakan bahwa aksi tersebut adalah aksi yang wajar dilakukan umat dan patut diapresiasi karena resahnya masyarakat oleh keberadaan patung tersebut. Hal ini juga sejalan dengan keresahan Majelis Ulama Indonesia yang telah diutarakan kepada pemerintah kabupaten (di sini).

Pembakaran sebuah patung yang merupakan karya seni publik yang dibangun dari uang pajak rakyat adalah sebuah tindakan kriminal. Namun apabila dicermati, langkah ini adalah sebuah pernyataan ideologis dari kelompok-kelompok Islam yang mengaku resah dengan berdirinya patung-patung. Patung Arjuna sendiri melambangkan epik Mahabarata yang meskipun lekat dengan budaya Indonesia, hadir dari interaksi budaya Hindu yang bisa jadi dianggap sebagai ancaman. Kehadiran patung di satu sisi berlawanan dengan akidah Islam sehingg terjadi perbuatan main hakim sendiri. Pernyataan ideologis seperti ini menunjukkan pula bagaimana banyak kelompok-kelompok yang menghalalkan perbuatan anarkistis sepatutnya dikecam, karena merupakan perusakan fasilitas umum dan main hakim sendiri yang tidak dapat ditolerir.

Namun demikian, pernyataan ini juga meninggalkan sebuah tanda tanya lain. Apakah patung Arjuna ini sungguh mewujudkan sebuah pandangan komunitas di sekitar patung tersebut akan karya seni yang mewakili mereka, adalah sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Sangat mungkin pula ketika dibangun di tahun 2013, pemerintah daerah tidak melakukan konsultasi yang cukup dengan masyarakat sekitar sehingga terjadi ketidakpuasan masyarakat akan berdirinya patung ini. Mungkin kerap terjadi bahwa apa yang dicanangkan pemerintah di atas tidak bercermin dari ide-ide yang ada di lapisan masyarakat sehingga terjadi inkompatibilitas ide akan karya seni yang seharusnya menjadi karya publik ini. Tapi pertanyaan berikutnya yang patut untuk diajukan adalah, seberapa jauh pandangan publik dapat ditangkap, diputuskan dan dilaksanakan dalam kasus seperti ini.

Perusakan ini mengingatkan pada perusakan patung Saddam Husein oleh pasukan AS dekade lalu. Hanya kaki patung yang tersisa.

Meskipun demikian, perusakan secara main hakim sendiri ini adalah sebuah persoalan yang harus dijawab dengan segera. Radikalisme dan vandalisme adalah sebuah kejahatan dan bisa jadi merupakan sebuah upaya main hakim sendiri yang patut dipertanyakan, dikecam dan diwaspadai. Namun bisa pula merupakan sebuah pernyataan politis akan nilai-nilai ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an dan peranan pemerintah dalam mendengarkan aspirasi masyarakat di bidang kekaryaan seni publik macam ini. Mengapa tidak pula mereka yang menolak ini tidak membawa kasus ini ke meja hijau, sebagai sebuah tuntutan publik kepada pemerintah daerah?

Sepertinya, sebuah permasalahan yang pelik.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: