Kabar Terkini

Tubuh, Ritual dan Seksualitas – Seni di Sudut Sempit Bawah Tanah


Tulisan kali ini mungkin tidak tepat disebut ulasan, tetapi mungkin lebih cocok dianggap sebagai sebuah kisah pengalaman menjelajah seni urban di Islington, di London Utara yang dikenal sebagai daerah yang keras. Pergelaran hari ini sungguh di luar dugaan. Tajuknya pun sudah aneh sendiri Chronic Illness of Mysterious Origin III.

The Dungeons of Polymorphous Pan sebagai tempat pertunjukan tidak ubahnya sebuah tempat yang tidak disangka-sangka, sebuah toko terbengkalai yang kini dihuni kalangan bohemian yang biasa disebut squaters (pejongkok). Mereka adalah orang-orang berasaskan kebebasan, tidak sedikit dari mereka seniman, yang menerobos sebuah gedung yang terbengkalai yang terkunci, mendudukinya dan tinggal di dalamnya sebagai penghuni gelap.

Seluruh penonton bersama  masuk ke sebuah ruang bawah tanah toko lewat sebuah lubang tikus, dengan hanya tangga besi masuk ke dalam kegelapan. Bau lembab percampuran jamur dan lumut tercium menyengat. Beralaskan semen dingin, tidak ada bangku, lampu bohlam pun seadanya hasil menarik kabel dari lantai atas. Langit-langitnya yang tidak sampai dua meter membuat ruangan berplester abu-abu bercampur putih itu terasa sangat mengukung. Sempit. Nafas pun berat dikarenakan lembabnya dinding-dinding basah yang berjuntai kabel listrik dan pipa-pipa saluran pembuangan. Sungguh, tempat yang sudah ditinggalkan orang.

IMG_2912

Di ruang sempit yang terbatas ini pula kabel-kabel berjuntaian, sequencer, synthesizer, mixer, efek, soundpad dan laptop Macbook serta speaker menghiasi sudut yang terlupakan orang. Pendar LED dari perangkat tersebut mengingatkan penulis bahwa masih ada sentuhan kehidupan di dalam lubang itu. Eksperimentasi tubuh, ritual dan seksualitas menjadi topik besar malam itu dengan balutan musik elektronik yang mengaung dan berdengung, menciptakan suasana mistik lembut tetapi juga sesekali memekakkan telinga. Jose Macabra, Martin Palmer and Angela Edwards, Douglas Park, CAO, Richard Crow & Carmelo Bene, Kalla, Neo Fung, House of Death, dan Astaroth adalah beberapa orang yang mengarungi suara dan ruang untuk mengenal makna ritus dan badani, lewat gerak, suara dan kata.

Tamu pun berdatangan, memijakkan kaki di atas anak tangga besi yang mengantar mereka hingga ke bawah. Beberapa dari mereka membawa kaleng bir untuk menghangatkan tubuh dari dingin dan lembabnya ruang itu. Tamu-tamu pun beragam, dari latar belakang, dari India hingga Rusia, dari Korea hingga Prancis, semua urun berdiri dan berjongkok di tempat yang sempit itu. Mereka yang sesama bohemian dengan gaya pakaian carut hingga mereka yang baru pulang dari kehidupan profesional berkumpul jadi satu, tidak seperti teater kelas atas yang eksklusif yang didominasi jas perlente dan gaun yang menyapu lantai.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tubuh dan ritual dieksplorasi. Bagi mereka yang tidak menyadari, mungkin sudah mengira bahwa acara malam itu adalah sebuah pemujaan setan di sebuah gedung reyot. Tubuh diberi makna yang berbeda lewat proyeksi dan cahaya. Seksualitas seakan menjadi senjata bagi mereka, bahkan ditampilkan masturbasi pun dikemas sebagai sebuah suguhan yang membawa makna yang lain. Nekrofilia seakan menjadi suguhan yang menghidupkan sedang masokisme dikemas menjadi sebuah keindahan, dimana seorang seniman menjahit payudara dan perutnya sendiri dengan benang jarum dan manik-manik, sebagai perlambang perihnya mempercantik tubuh untuk kemudian memujanya. Telanjang dada adalah sebuah bentuk kejujuran terhadap karya seni mereka ini.

Tidak ada tata cahaya, tidak ada panggung. yang ada hanya sebuah ruang kosong, di mana hampir 40 penonton berkerubung dan kemudian menciptakan batas ruang bagai panggung ketika penampil mengambil tempat di antara penonton, bersesakkan, Kamera pun diacungkan mengabadikan beragam suasana. Ini bukan ruang yang steril, di sisi kanan kiri dan belakang kerap wicara menghiasi ruang, asap rokok pun memenuhi ruangan yang sempit itu sembari sesekali tercium bau ganja, entah dari mana. Ruang yang lembab pun terasa semakin sesak.

Namun dalam gelagat di gedung terbengkalai ini, terasa bahwa kehangatan mulai memenuhi sudut-sudut ruang. Kekosongan pun digantikan dengan lalu lalang manusia, dan keragaman manusia ini yang kemudian mengubah wajah kelam menjadi sedikit bercahaya. Lubang bawah tanah ini tidak lagi mati, ia kini hidup dan seakan perlahan menggeliat dari tidur. Dan kehangatan manusia dan seni yang aneh ini yang menghidupkannya kembali dari kubur. Berkat orang-orang gila yang menerobos masuk ini.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: