Kabar Terkini

Sabtu Sore Bersama Britten Sinfonia dan Andriessen


Minggu ini di Barbican adalah minggunya komponis Belanda Louis Andriessen. Selama empat hari di gedung konser yang dibangun di area puing-puing tembok kuno kota Londonium masa Romawi, panggung-panggung dipenuhi oleh musik-musik karya komponis yang tahun ini memasuki usia 76 ini. Kelompok-kelompok musik dari Guildhall School of Music and Drama hingga BBC Symphony Ochestra satu persatu unjuk tampil dalam akhir pekan ini. Sabtu sore kemarin, giliran Britten Sinfonia yang maju ke depan sebagai kelompok yang membawakan karya-karya komponis yang dikenal sebagai komponis bergaya minimalis ini. Adapun Britten Sinfonia dikenal pula sebagai kelompok orkestra yang mengabdikan diri untuk membawakan musik-musik baru, sebuah visi yang tentunya bersesuaian dengan acara minggu ini.

Andriessen sendiri hadir di antara para penonton di Milton Court Concert Hall di acara yang bertajuk Total Immersion Louis Adriessen ini. Di sela-sela penampilan ia pun terlihat sebagai pribadi yang menyenangkan lewat wawancara singkatnya di atas panggung. Konser ini sendiri dimulai dengan homage karya yang dikembangkan dari ‘The Well-Tempered Clavier’ Buku I dari Johann Sebastian Bach. Karya yang diambil dari karya Prelude No.24 dalam B minor ini diajukan dalam aransemen Stravinsky dan Andriessen sendiri yang menjadi penghormatan bagi Stravinsky dan Bach dalam format kuartet gesek dengan mengembangkan suara keempat di lini viola.

Britten Andriessen1

Karya Stravinsky kemudian yang dibawakan di atas panggung Three Pieces for String Quartet. Bentukan karya yang ritmis ini menjadi gambaran musik yang sedang digarapnya ketika itu di tahun 1914 yang diwarnai karya-karya balet yang diproduksi Diaghilev. Terdiri dari tiga bagian, karya ini menjadi pewarna eksentrik dari pertunjukan semalam. Pertunjukan pun dilanjutkan dengan kehadiran orkestra yang kemudian membawakan karya minimalis manis dari komponis sejaman Andriessen asal AS, Steve Reich berjudul ‘Duet’ yang menjelajah dalam keteraturan dan pergeseran harmoni yang cantik. Babak pertama kemudian ditutup dengan karya Andriessen untuk kuartet gesek yang diarransemen oleh Marijn van Prooijen untuk orkestra gesek ‘…miserere…’. Karya ini menjadi pernyataannya kepada pemerintah kanan Belanda ketika memutuskan untuk menghapus subsidi untuk kesenian yang menyebabkan banyak organisasi seni gulung tikar. Diinspirasi karya Miserere dari Allegri yang ternama, ia menulis karya ini sebagai sebuah requiem untuk kegiatan kesenian di Belanda ketika itu.

Babak kedua, giliaran karya Andriessen ‘Dances’ yang dibawakan dalam format orkestra gesek dilengkapi barisan perkusi yang mengiringi solois Allison Bell. Teramplifikasi, karya ini menciptakan warna tersendiri yang kaya dan cantik, mengisahkan kisah wanita muda Mesir yang menarikan tarian lembut yang menembus alam dalam kesendirian meski ada pria di sisinya. Allison Bell tampil dengan maksimal meskipun tidak dalam kondisi fisik yang fit, sebagaimana disampaikan pembawa acara. Namun suaranya yang minimal vibratto menjadikan karya ini seakan mentah dan murni namun sedemikian ekspresif sembari diiringi motif-motif yang berulang namun senantiasa bergerak, sebagaimana diinginkan oleh sang komponis.

Andriessen memunculkan mosi lain dari sebuah gaya musik minimalis. Minimalis tidak lagi berarti repetisi yang membosankan, namun juga berarti repetisi yang dinamis dan ekspresif mengalun penuh warna dan suasana, sebuah gaya lain yang disebut sebagai gaya minimalis Eropa. Fungsinya pun sebagai pengiring dan pembawa suasana pun mampu tergarap dengan padu di tangan Britten Sinfonia. Andrew Gourlay sebagai konduktor pun memimpin dengan kecermatan yang tinggi terutama dengan karya-karya yang membutuhkan navigasi yang jelas dikarenakan birama yang ireguler. Formasi gesek yang kecil hanya dengan 12 orang, menjadikan permainan mereka mengandalkan kecermatan permainan musik kamar.

Sabtu sore yang menyenangkan di Milton Court.

Britten Andriessen2

 

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: