Kabar Terkini

Nuansa Klasik Hingga Nuansa Jazz di Aula Simfonia Jakarta


~ oleh Stefanus Christianto

Sabtu, kemarin 13 Februari 2016, Jahja Ling kembali memimpin Jakarta Simfonia Orchestra membawakan karya Felix Mendelssohn, Mozart dan Gershwin. Ada sesuatu yang berbeda dalam pementasan ini. Kali ini Aula Simfonia Jakarta mengundang Franklin Cohen, seorang pemain prinsipal Clarinet dari Cleveland Orchestra untuk menjadi solist dalam konser malam tadi. Selain tamu tersebut, juga tampil Jessie Chang sebagai pianist yang bersama suaminya – Jahja Ling — telah lama berkiprah di negri Paman Sam. Aula Simfonia Jakarta sampai betul-betul penuh dengan penonton yang antusias ingin menikmati penampilan tersebut.

Hebrides dan Konserto Klarinet

Konser dibuka dengan karya Felix Mendelssohn ‘Die Hebriden/Hebrides Overture’ yang menciptakan karya ini dilatarbelakangi oleh kekagumannya akan keindahan sebuah gua karang di pantai Scotlandia. Overture dibuka dengan permainan motif tema oleh low string section yang banyak diduplikasi sepanjang karya ini. Permainan violin menggambarkan ombak-ombak di pantai Pulau Staffa, sedangkan section tiup banyak memberikan harmoni dengan sesekali memberikan penggambaran riak air.   Alur musik meningkat, dari menggambarkan keindahan gua karang dengan riak gelombang, ombak besar yang memecah karang, hingga badai yang menghempas gua karang itu.

Jahja Ling dengan kepiawaiannya mampu membawakan karya ini dengan baik, sehingga penonton dapat menikmati suasana Gua Fingal’s dengan deburan ombaknya hingga suasana badai yang dramatis. Unsur harmoni dalam karya ini dan dramatisasi melalui sesi tiup dapat digarap dengan mendetail melalui ketegasan sang pengaba.

‘Clarinet Concerto in A major K. 622’ merupakan satu-satunya karya konserto klarinet yang ditulis oleh Mozart selama hidupnya. Pada zamannya, klarinet adalah alat musik baru dan sangat jarang orang memilikinya. Karya ini ditulis oleh Mozart untuk seorang clarinetist yang sangat berbakat di Vienna, Anton Stadler. Mozart menyusun karya ini tanpa menghadirkan alat musik obo dan hanya menggunakan 2 buah horn, tanpa dukungan sesi brass lainnya untuk menggambarkan sisi melankolis dirinya.

Terdiri dari 3 bagian, pada bagian Allegro ini, alur musik mengalir dan kaya warna serta menuntut virtuositas sang solist karena rentang nada yang lebar dengan pembagian nafas yang baik. Franklin Cohen mampu menampilkan karya ini dengan mengalir dan menunjukkan virtuositasnya sebagai klarinetis utama dari Cleveland Orchestra. Para pemain Jakarta Simfonia Orchestra pun mampu menanggapi sang solist di bawah kendali sang pengaba. Seketika terasa sungguh perbedaan karakter dari karya Mendelssohn yang kaya harmoni menjadi tipikal permainan yang ringan. Hal ini menunjukkan bahwa para pemain mampu dengan segera menyesuaikan diri dengan karakter komposisi yang dibawakannya. Bagian kedua Adagio adalah bagian yang cukup familiar, karena nada-nadanya cukup sering diperdengarkan. Bagi penulis, bagian ini memberi makna yang mendalam, karena karya Clarinet Concerto ini diselesaikan oleh Mozart dua bulan sebelum ia meninggal. Pada bagian ini, terasa sekali perjuangan dalam diri Mozart menghadapi kesehatannya yang sudah menurun. Franklin Cohen membawakan bagian ini dengan sangat mendalam, orkestra pun juga membawakan dengan syahdu. Namun sayang seribu sayang, ditengah kesyahduan yang mendalam, tiba-tiba keheningan terpecah oleh bunyi notifikasi telepon genggam – yang dari bunyinya saja, orang dapat dengan mudah menebak merk telepon genggam tersebut. Mozart menutup konserto klarinetnya dengan menampilkan nada-nada lincah dan meloncat-loncat sepanjang bagian ketiga Rondo bertempo Allegro ini. Franklin Cohen mampu menampilkan bagian ini dengan baik. Stamina permainannya pun juga terjaga dengan baik, mengingat bagian ketiga ini permainan tidak boleh mengendur dan para pemain juga mampu menanganinya. Tampak sekali para pemain bekerja keras menjaga karakter karya ini yang ringan dan cepat

Gershwin dan Sentuhan Amerika

Pada sesi kedua konser Sabtu malam kemarin, pertunjukan pun beralih ke karya komposer Amerika Serikat, George Gershwin. Gershwin dikenal sebagai komposer yang membawa nuansa jazz ke bentuk orkestra. Komposisinya memiliki irama yang kompleks, terasa sekali iramanya yang banyak dihiasi rubato (tarik ulur), sebagaimana musik-musik modern serta melodi yang kental nuansa jazz.

An American in Paris menggambarkan suasana di tengah-tengah hiruk pikuk kota Paris dari sudut pandang Gershwin, seorang Amerika yang tengah melancong ke ibukota Perancis. Karya ini dibuka oleh Franklin Cohen dengan memainkan teknik glissando pada clarinet lalu berlanjut irama riang yang dipadu dengan irama “blues”, yang disematkan bunyi-bunyian klakson mobil yang menggambarkan kebisingan sebuah cafe bercampur kebisingan lalu lintas. Karya ini ditutup dengan megah dengan menggabungkan suasana kota Paris dan kebisingan jalan raya.

Doktor Jahja Ling, mampu menyatukan berbagai section alat musik dengan iramanya yang berubah-ubah dengan baik. Tentunya hal itu didukung dengan pengalamannya selama studi dan berkarya di Amerika Serikat

Pianis Jessie Chang, dengan diiringi orkestra menampilkan Rhapsody in Blue, sebuah karya yang menggabungkan unsur Eropa dan Amerika di dalamnya. Pada awalnya karya ini ditampilkan untuk solo piano dengan jazz band sehingga banyak unsur improvisasi jazz dikombinasikan dengan nuansa klasik di dalamnya. Dalam versi orkestra, permainan alat musik brass sangatlah menonjol karena memang alat musik gesek hanya ditambahkan untuk memenuhi unsur klasik dari style jazz yang diusung oleh Gershwin. Antara piano dan orkestra saling bersahut-sahutan. Pada bagian tertentu, sang pianis bermain solo, namun di beberapa bagian juga berduet dengan brass section, serta alat tiup lainnya. Pada karya ini tampak sekali kesulitan yang harus dihadapi pemain, yaitu bersahut-sahutan secara bergantian antara alat musik yang berbeda-beda dengan solis piano. Di beberapa bagian pemain tampak sangat berhati-hati sehingga pianis Jessie Chang harus sedikit menunggu, dan ada beberapa yang sedikit terlambat masuk.

Hal yang baru bagi penonton di Aula Simfonia Jakarta pada sabtu malam kemarin adalah dipadukannya nuansa klasik dengan nuansa jazz. Semua itu ditangani oleh konduktor Jahja Ling dengan sangat baik mengingat pengalaman dan kiprahnya yang sudah memimpin orkestra di banyak negara. Pun juga pemilihan karya-karya yang ditampilkan juga menarik, dengan solis tamu yang kualitas permainannya tidak diragukan lagi. Konser malam itu ditutup dengan standing applause dari seluruh penonton yang memenuhi Aula Simfonia Jakarta.

~ Stefanus Christianto adalah seorang pengajar biola yang aktif mengajar di sekolah musik di Jakarta yang juga anggota dari Gloriamus Philharmonic dan ASC Music Academy String Orchestra

Latihan JSO1

Latihan terakhir sebelum penampilan JSO

~ Stefanus Christianto adalah pemain biola dan pengajar biola di Gloriamus, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: