Kabar Terkini

Kerjasama ISI Denpasar dan Taman Budaya Bali Mulai Minggu Ini


Setelah setahun lalu tercapai kata sepakat, mulai hari Senin ini kerja sama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dengan Taman Budaya Bali resmi berlangsung. Pintu antara ISI dan Taman Budaya Bali pun kini dibuka mengalirkan kesepakatan yang diharapkan menguntungkan kedua belah pihak.

ISI Denpasar dan Taman Budaya Bali bisa jadi bersebelahan letaknya satu dengan yang lain, namun baru kali ini kerja sama dapat dibangun. Dalam kerja sama ini, ISI Denpasar diperkenankan menggunakan fasilitas Taman Budaya Bali untuk kegiatan belajar-mengajar maupun untuk kegiatan pentas tanpa dipungut retribusi. Taman Budaya Bali pun diuntungkan dengan program pertunjukan mahasiswa maupun dosen ISI Denpasar yang akan memeriahkan kalender pertunjukan mereka. Pintu masuk ISI Denpasar pun disatukan dengan pintu Taman Budaya Bali. Kerja sama ini kemudian dikukuhkan oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Rektor ISI Denpasar Dr. I Gede Arya Sugiartha.

Inisiatif ini dapat dikatakan untuk mengatasi persoalan infrastruktur ISI maupun persoalan program taman budaya. Dalam studi yang dikemukakan oleh studi taman budaya di Indonesia yang dilakukan oleh Koalisi Seni Indonesia, terungkap bahwa meskipun di banyak daerah diwajibkan dibangun taman budaya sebagai pusat seni pertunjukan dan pengembangan kesenian di daerah, banyak taman budaya yang kini mati segan hidup tak mau; beberapa dalam kondisi yang memprihatinkan dan bahkan terancam ditutup (kompas). Beberapa yang lain selalu ramai dikunjungi penonton, sedangkan yang lain selalu terlihat sepi dan tidak pernah mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah terutama dari segi pemeliharaan dan pemenuhan fasilitas. Harus dikatakan bahwa pengembangan seni dan budaya belum mendapat perhatian dalam perencanaan pembangunan di banyak daerah. Padahal kegiatan seni dapat menjadi kegiatan yang dapat merekatkan komunitas dan berakar pada masyarakat sekitar.

Kabar dari Bali ini sebenarnya dapat dilihat sebagai sebuah perkembangan strategi kemitraan yang patut dicermati dan dicontoh, angin segar dari banyak berita yang menyedihkan tentang kondisi taman budaya di Indonesia. Selain akan digunakan oleh komunitas seniman sekitar, Taman Budaya Bali juga akan mampu memfasilitasi tetangga terdekatnya yakni Institut Seni Indonesia Denpasar, dalam berbagai kegiatan seni. Dengan demikian, Taman Budaya Bali pun dapat terlibat aktif dalam pengembangan dan pembelajaran seni dan budaya di regio tersebut. Sedangkan ISI Denpasar dapat menggunakan fasilitas pertunjukan dan ruang secara cuma-cuma dan mampu menjaring lebih banyak penonton lewat kerja sama pertunjukan ini. Perjanjian ini juga mewajibkan pembagian informasi kalender pertunjukan yang dikoordinasikan kedua belah pihak.

Meski kerja sama yang diikat 5 tahun ini terbilang baik, diperlukan komitmen yang tinggi dari kedua belah pihak untuk mampu menjaga terjalinnya kerjasama ini. Pemeliharaan fasilitas adalah sentral dalam kerja sama ini dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Di sisi lain niatan baik kerja sama dan pemeliharaan juga harus dilakukan oleh elemen ISI Denpasar untuk memastikan kondisi fasilitas kebudayaan ini tetap terjaga.

Tribun ISI Denpasar Taman Budaya

ISI Denpasar sebagai salah satu perguruan tinggi utama di Indonesia yang berfokus pada seni diharapkan mampu menjadi contoh pertunjukan seni, meskipun harus dipahami bahwa pertunjukan seni untuk kepentingan pendidikan berbeda dengan pertunjukan seni untuk kepentingan industri pertunjukan. Ruang untuk kesalahan dan ketidaksempurnaan adalah hal yang lumrah dalam dunia pendidikan. Dan untuk itu Taman Budaya Denpasar pun harus paham bahwa mengisi kalender kegiatan secara kuantitas akan berbeda dengan menggenjot kualitas kegiatan seni yang ditampilkan di panggung Taman Budaya. Karenanya visi artistik dari Unit Pelaksana Teknis Taman Budaya harus mampu menahkodai ke mana pergerakan seni yang ingin diusung, menatang pengembangan seniman muda ataupun pada pertunjukan seni profesional secara seimbang.

Sebuah model lama tapi baru. Di Jakarta ketika dibentuk, Taman Ismail Marzuki dan LPKJ, kini Institut Kesenian Jakarta, dibentuk bersebelahan untuk mengutamakan kerja sama di antara keduanya. Di Lincoln Center, New York pun demikian, Juilliard bersebelahan dengan gedung-gedung konser, opera dan teater utama di tempat itu, demikian juga Barbican Centre di London dengan Guildhall, namun pusat kebudayaan ini masing-masing, meskipun aktif berkolaborasi,tidak mengandalkan kegiatan seni kampus untuk mengisi jadwal mereka.

Ke manakah implementasi strategi ini akan mengarah? Untuk itu perlu kita cermati bersama.taman-budaya-majalah-bali-dwipa

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: