Kabar Terkini

Menyelami Tempo Andante

Tempo Andante dari bagian I Sonata Mozart untuk piano KV331. Andante Grazioso berarti "Bagai berjalan, dengan anggun" disertai kecepatan modern 60bpm yang dituliskan oleh editor partitur ini

Ketika membuka lembar sebuah partitur, sebuah kata di kiri atas partitur mengintip. “Andante” katanya. Sebuah kata dari bahasa Italia yang kabarnya akan menentukan bagaimana karya ini dimainkan. Sering kita menyebutnya sebagai tanda tempo, tanda waktu, sebuah pesan seberapa cepat karya tersebut dimainkan. Tapi sesungguhnya dari kata ini saja muncul sebuah ambiguitas, yang menuntut pengenalan yang lebih dalam dari sekedar menghitung 72-76 ketuk per menit sebagaimana tertulis di atas metronom. Perlahan tabir pengertian musik itu sendiri beserta konteksnya haruslah dibuka. Andante adalah sebuah tanda tempo yang bisa dikatakan tidak eksplisit menjelaskan kecepatan sebuah karya. Andante sendiri berasal dari bahasa Italia yang berarti seperti orang yang berjalan. Lalu kecepatan seperti apakah ‘orang yang berjalan’ adalah pertanyaan berikut yang harus dicari tahu jawabannya, pun berjalan yang seperti apa juga harus dicari tahu. 

Jawaban sederhana dari sebuah tanda tempo ‘Andante’ adalah secepat langkah kaki seseorang ketika berjalan biasa sehari-hari. Bukan jalan yang lambat, juga bukan berjalan yang cepat. Langkah kaki terasa sebagai patokan yang tepat untuk menentukan tempo musik. Beberapa bahkan menentukan secara spesifik sebagaimana tertera di atas metronome, 72-76 ketuk per menit (beat per minute, bpm) sebagai sebuah standar baku dalam membaca tempo. Namun dibalik tulisan ‘Andante’ terselip banyak konteks yang patut dimengerti secara menyeluruh oleh musisi, untuk itu mari kita menelaahnya lebih lanjut.

Tempo Andante dari bagian I Sonata Mozart untuk piano KV331. Andante Grazioso berarti "Bagai berjalan, dengan anggun" disertai kecepatan modern 60bpm yang dituliskan oleh editor partitur ini

Tempo Andante dari bagian I Sonata Mozart untuk piano KV331. Andante Grazioso berarti “Bagai berjalan, dengan anggun” disertai kecepatan modern 120bpm yang dituliskan oleh editor partitur ini untuk not 1/8 atau 60bpm untuk not 1/4 atau 40bpm dalam gerakan besar compound, sama sekali beda dari 72bpm yang dirujuk di metronom.

‘Sebagaimana seorang berjalan’ sebagai sebuah arti dari kata ‘Andante’ secara fundamental, musisi perlu secara sadar menyadari seperti apakah proses ‘berjalan’ itu danpergerakkan fisiologis seperti seperti apa yang terjadi. Proses perimbangan dan pendistribusian bobot tubuh secara mengalir adalah pokok dalam konsep berjalan. Langkah kaki kiri diikuti juga dengan ayun lengan kanan, sedemikian juga sebaliknya, menjadikan ‘berjalan’ sebagai sebuah proses yang fluid namun terjaga. Proses berjalan ini karenanya juga membuka peluang untuk sedikit melambat ataupun mempercepat, namun tidak bisa menginterupsi proses ‘berjalan’ itu secara garis besar untuk menjaga keseimbangan dan kesinambungan.

Lantas seberapa cepatkah bagai orang berjalan itu. Di sini diperlukan kejelian dalam mengambil keputusan dan keputusan ini haruslah diambil secara penuh pertimbangan. Adalah sebuah konvensi alam bahwa setiap orang memilki kecepatan berjalan yang berbeda-beda, sehingga tempo ‘berjalan’ haruslah dirujuk kembali kepada konsep ‘berjalan’ yang ada di benak seorang komponis. Apabila ia masih hidup dan berseliweran di sekitar kita, mungkin kita mengintip kecepatannya berjalan biasa. Akan tetapi apabila sang komponis sudah masuk liang lahat, musisi sebisa mungkin menentukan secara beralasan seberapa cepatkah Andante.

Hal pertama yang perlu dicermati untuk menangkap maksud kecepatan langkah berjalan adalah dengan mencari tahu daerah asal sang komponis, tempat di mana persepsinya tentang waktu dan ritme berjalan ia temukan. Perlahan pun musisi harus menyadari stereotipe kecepatan berjalan orang-orang di daerah asal sang komponis tersebut sebagai asumsi awal. Kecepatan berjalan mereka di Surakarta dengan mereka yang berada di Oslo bisa jadi sangat berbeda.

Konteks budaya pun menjadi sangat penting. Komponis Italia abad ke-19 bisa jadi berbeda dengan komponis kontemporernya di Jerman. Orang Italia dikenal dengan stereotipe ‘orang yang agak lamban’ dibandingkan orang-orang dari Eropa bagian Utara, demikian pula orang Spanyol. Negara-negara yang berada di dearah Laut Mediterania terkenal sebagai negara yang terkesan lebih rileks dan mampu menikmati hidup. Sedikit banyak hal ini disebabkan cuaca yang nyaman dan hangat sehingga orang-orang ini tidak perlu terbirit-birit menghindari cuaca dingin yang menusuk. Negara-negara yang berada di Utara pun dipresepsikan berjalan dengan langkah kaki yang lebih cepat. Karenanya bisa jadi ‘Andante’ seorang Verdi yang asal Italia akan berbeda dengan seorang Schubert yang seorang Austria.

Seringkali alasan utama dan pertama adalah kondisi iklim di negara tersebut yang mempengaruhi bagaimana orang-orang di negara tersebut berjalan. Bagi banyak orang Indonesia, ritme berjalan orang Jerman misalnya dikatakan lebih seperti berlomba berjalan cepat dikarenakan langkah mereka yang memang cepat dan tentunya karena postur yang tinggi cenderung lebar. Banyak yang mengatakan kecepatan ini sebagai bagian mendasar dari perilaku bertahan hidup. Berjalan lambat di daerah dingin adalah sebuah kebiasaan karena menghindari orang tersebut terpapar cuaca yang tidak bersahabat, namun juga sekaligus sebagai usaha untuk menghangatkan tubuh sendiri lewat panas tubuh yang keluar dengan berjalan cepat. Sedangkan di daerah yang tropis dan panas, orang-orang kecenderungan berjalan lebih lambat dikarenakan tidak ada urgensi dan supaya tidak berlebihan berkeringat.

trumpet_player_practicing-e1314841922146

Kosmopolisnya seorang komponis juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Komponis yang banyak mengadakan perjalanan di berbagai negara dapat diasumsikan mampu menarik kesimpulan tempo dengan merasakan irama yang berbeda pula tergantung negara mana yang ia serapi budayanya lebih jauh. Namun ritme dan waktu di berbagai tempat bergerak dengan kecepatan yang berebda pula. Mereka yang telah lama hidup di Bengkulu katakan akan merasakan ritme di Jakarta terkadang terlalu cepat. Ritme ini sebenarnya juga mampu menyebabkan shock budaya (culture shock). Perlu juga dikatakan bahwa ritme ini juga berubah di sepanjang linimasa zaman. Mereka yang merasakan budaya tahun 1960-an mungkin akan cukup kaget merasakan bagaimana orang-orang masa kini seakan selalu bergegas dibandingkan 50 tahun lalu.

Diperlukan kecermatan seorang musisi untuk melihat informasi dan memilahnya dan menentukan pilihan kecepatan dan nuansa seperti apa yang akan diambil, terlebih apabila telah merasakan sendiri pergerakan musiknya. Bentuk dan struktur musik kemudian juga berpengaruh besar dalam menentukan makna Andante itu sendiri. Akhirnya di sini pengambilan keputusan pun masuk ke ranah artistik dan selera yang membedakan musisi yang biasa dengan yang hebat. Namun paling tidak Andante dan nama sang komponis serta pengetahuan mendasar tentang hidup, budaya, negara dan zaman menjadi pertimbangan yang lekas hadir di kepala untuk membantu menemukan jawaban dari pertanyaan, “Seberapa cepatkah Andante?”

Kita baru bicara satu buah kata kecil dalam sebuah karya, letaknya pun di pojok kiri atas. Namun sedikit banyak telah menunjukkan bagaimana musik perlu dikaji secara mendalam dan cerdas, serta ilmiah. Ajaibnya musik…

music_practice_tips_glenview_il

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: