Kabar Terkini

Menjelajah Galaksi STOӦRPS di Teater Kecil: Sebuah Intipan Resital Akhir


~oleh Bowie Djati
~tidak biasanya A Musical Promenade memuat ulasan konser mahasiswa yang masih dalam tahap belajar, namun kali ini adalah pengecualian untuk melihat proses berkesenian secara akademik terutama menjalani resital akhir di IKJ.

Pergelaran karya seni sebagai tugas akhir, senantiasa akan menjadi keniscayaan bagi setiap mahasiswa seni tingkat akhir sebagai syarat guna meraih gelar sarjana. Tak terkecuali bagi Rolanda Sasongko – akrab dipanggil Nanda, seorang mahasiswa jurusan musik dengan mayor biola pada Institut Kesenian Jakarta. Tugas akhir memang terbilang berat, karena para kandidat tidak hanya harus mempersiapkan repertoire berupa karya musik solo beserta iringan, namun juga mempersiapkan pernak pernik sebagaimana layaknya sebuah pertunjukan seni dipergelarkan. Sebut saja misalnya mempersiapkan ruangan (bisa jadi menyewa auditorium yg memadai), promosi dan publikasi, menyusun tim sukses lainnya separti pengiring, apakah itu teman duet, trio atau bahkan kelompok orkestra, penata cahaya dan suara, serta kepanitiaan kecil seperti MC atau usher. Terakhir tentu penggalangan dana.

Apapun pemilihan repertoire, venue dsb, itulah yang akan menjadi penilaian utuh dari para panel penguji, yang terdiri dari dekan, dosen pembimbing, dosen penguji serta penguji ahli tentunya. Inilah yang juga nampaknya menjadi PR besar bagi Nanda atau para calon sarjana lainnya, untuk dapat mengemas semua dalam satu paket pertunjukan yang selain perhatian utama kepada mutu musikal sebagai konten ujian, resital juga sekaligus bisa menghibur. Karena bagaimanapun sebuah pertunjukan akan ditonton oleh khalayak yang akan memberikan penilaiannya tersendiri. Apa yang dilakukan Nanda pada Selasa malam tanggal 16 Februari sekaligus bertepatan di hari lahirnya yang ke 23, adalah menyajikan resital biola di Teater Kecil TIM Jakarta. Ia juga tampil bersama solois gitar akustik Yudistira Aji Putra dan kelompok orkes gesek Ngayogstringkarta.

Pergelaran ini diberi tajuk Stoӧrps. Stoӧrps adalah konsep dan imajinasi penggemar scooter ini sebagai sebuah “comfort zone” dimana ia bisa merenung, mengeluh, sekaligus menuangkan gagasan. Stoӧrps menurutnya adalah sebuah galaksi rahasia yang berada di antara bintang Fjick dan Slobk. Intinya disitulah ia berproses dan menemukan kesejatiannya lewat musik.

Di auditorium berkapasitas 200-an kursi (hampir penuh, hanya beberapa yang tersisa), Nanda tampil dengan mengenakan atasan jas dengan bawahan sarung bermotif batik nuansa hijau, yang mengingatkan kita pada alm. Idris Sardi. Mahasiswa tingkat akhir kelahiran Bandar Jaya Lampung Tengah ini membuka pergelaran dengan menampilkan Partita No. 2 in D minor. Nanda melantunkan 4 dari 5 bagian karya cipta Johann Sebastian Bach tsb; Allemanda, Courante, Sarabande, dan Gigue. Sekilas nampak raut wajah tegang ketika hendak mengeksekusi nada-nada tinggi pada sonata tsb, namun kemudian ia nampak menikmati tatkala menyentuh register nada tengah dan rendah.

Perlu diketahui, inilah syarat utama untuk mencapai kelulusan dalam menggelar resital. Para kandidat dituntut dua hal: Pertama, pemilihan repertoire yang mampu menunjukkan teknik dan skill yang matang. Kedua, harus standar classical, yakni sonata dan concerto. Pemilihan Nanda malam ini boleh dibilang cukup tepat, karena selain Bach ia juga memilih Mozart lewat violin concerto no. 5 in A Mayor, yang cukup familiar di kuping pecinta musik. Dibawakan juga dengan apik bersama Ngayogstringkarta, dengan Milzam Dwitya sebagai leader (atau concert master), dan Eki Satria sebagai konduktor (atau pengaba), yang mengayunkan batonnya dengan penuh keyakinan. Para musisi dapat menangkap jelas aba-aba conductor sehingga menyatu dan mendukung solois dalam menjalankan tugasnya.

Namun sebelum tampil dengan Mozart, sedikit melompat agak jauh ke abad 20, violinis yang pernah mengisi track untuk musik film “Sudirman” ini tampil  berdua dengan permainan gitar Yudistira membawakan 2 komposisi karya Astor Piazzola, seorang composer tango asal Argentina (1911-1992) dengan judul Cafe 1930 dan Nightclub 1960. Mencoba membawakan nuansa berbeda, duet ini seakan berupaya sedikit menetralkan suasana dan telinga pemirsa yang sebelumnya baru saja ‘dihajar’ karya era baroque. Detil yang disampaikan duet ini cukup mengena. Gitar menjalankan fungsinya sebagai pengiring biola, sementara biola sesekali juga memberikan kesempatan bagi gitar untuk tampil lebih jelas. Yang agak disayangkan detil ini menjadi agak terganggu oleh suara shutter kamera yang saling bersahutan disana sini, atau obrolan para penonton, yang walau sudah berbisik pun masih bisa mengalahkan bunyi di atas panggung. Bagi penulis, jika dalam konteks ujian, permainan solo seorang kandidat yang mungkin ada sedikit banyak ‘missed’ dalam mengeksekusi nada atau frasa bahkan kalimat, masih bisa dimaafkan. Yang masih belum dapat difahami adalah mengapa para juru foto (atau mereka yang membawa digital DSLR ke dalam gedung pertunjukan) harus mengambil gambar beberapa kali dengan sudut pandang yang sama, sehingga bunyi ‘shutter’ yang berkali-kali itu sangat mengganggu penonton lainnya.

Sedikit catatan juga tentang venue Teater Kecil. Sesuai namanya sebagai gedung teater, desain di awal gedung yang diresmikan Gubernur Sutiyoso akhir 2002 ini seyogyanya lebih cocok untuk pergelaran teater. Panggung yang nyaris tidak berplafon menyebabkan suara akan terbang begitu saja tanpa ada pantulan yang memadai. Walaupun sudah diakali dengan penempatan mic condensor gantung, ternyata ada beberapa blind spot yang menyebabkan instrumen tidak dapat bersuara dengan baik dikarenakan capture dari mikropon tersebut yang kurang maksimal. Inipun terjadi pada instrumen gitar. Detil yang seharusnya dapat mengedepankan petikan nada tinggi maupun rendah tidak terdengar optimal, dikarenakan posisi mic yang kurang tepat.

Okelah, agaknya malam harus tetap berlanjut dan kita coba maklumi beberapa gangguan kecil tadi. Dapat dilihat, sebagian besar para hadirin yang tentu saja merupakan kerabat dekat, sahabat, dan teman bermain Nanda yang dengan sangat antusias memberikan dukungan melalui sorakan riuh rendah dan tepuk tangan meriah. Panggilan nama dengan nada sedikit digoyang mulai menginterupsi ketika Nanda sedang mencoba menjelaskan latar belakang karya yang sudah atau akan dimainkan. Godaan penonton seperti “jangan nyontek teks dong” seketika membuat Nanda membalik music stand dimana teks yang harus dibacakan berada, sambil mencoba untuk menjelaskan tanpa teks. Gesture spontan ini tidak ayal membuat penonton terpingkal-pingkal. Bahkan terdengar juga sangat keras suara anak kecil yang memanggil nama “Nandaa…” sehingga memecah keheningan dengan sorak tawa seluruh penonton. Dengan santainya ia menimpali “Ya, yang kayak gini sih boleh lah, nggak seperti di konser-konser klasik biasanya”. Jika dilihat sebagai upaya atau spontanitas yang muncul begitu saja, cukup baik dikembangkan, tidak hanya untuk mencairkan suasana, namun juga untuk mencairkan diri sendiri dari kegugupan. Ini karena para hadirin bukan hanya para sahabat dan kerabat dekat, tapi juga terdapat para panel penguji yang bakal menentukan nasib Nanda kedepannya setelah resital ini.

Ini nampaknya menjadi kekuatan sebuah resital mahasiswa akhir IKJ. Tuntutannya tidak hanya menampilkan aspek musikal berupa karya solo dan iringan orkestra, namun juga kemasan runtunan mata acara seperti yang penulis telah ungkap di awal. Resital ini cukup hidup dalam membangun suasana cair dari hubungan antara penampil dengan pemirsanya. Termasuk juga pengaturan waktu misalnya, bagaimana jeda antar mata acara diatur sedemikian rupa sehingga tidak terjadi gap. Terutama di pergantian setting solo, duet ke orkestra. Karena sekali pernah terjadi ketika penulis menonton resital akhir mahasiswa IKJ lainnya di salah satu kesempatan, dimana diantara satu mata acara ke yang lain terjadi gap yang cukup lama, sehingga kedodoran alur acaranya. Coba lihat ketika Nanda selesai membawakan sebuah karya, segera MC mengambil alih mengisi kekosongan.Sementara para kru di belakang layar menyusun bangku-bangku untuk Ngayogstringkarta. Namun juga bukan seorang Nanda namanya jika banyolannya tidak mengundang tawa hadirin.

Seperti ketika dia bilang “terima kasih pada kalian semua yang hadir disini, sampai di luar pun orang pada ngantri nggak bisa masuk”. Candaan tsb ternyata benar rupanya. Banyak yang tidak bisa masuk karena kursi sudah penuh terisi. Beberapa nampak rela berdiri atau lesehan. Begitu dekatnya komunikasi ini juga tidak kalah gilanya ketika salah satu penonton berteriak “selamat ulang tahun Nanda” yang lantas diikuti gelak tawa nan membahana… Benar-benar suasana  yang sangat menarik dan hidup.

Hanya ada satu catatan sehubungan dengan time management. Nanda nampak terlalu lama mengambil waktu dalam stem/tuning biola on stage. Biasanya musisi terutama solois akan tuning terlebih dahulu sebelum naik pentas. Di atas pentas tuning hanya untuk meyakinkan sehingga tidak memakan waktu lebih lama. Tapi bisa saja beberapa faktor terjadi sehingga instrumen harus ditune ulang diatas panggung.

Setelah karya Mozart dimainkan 3 bagian seluruhnya, 2 buah karya modern kembali disajikan bersama Ngayogstringkarta. Pria yang pernah menjadi solois untuk Concerto Keroncong karya Lilik Tricahyono  ini memilih Rimsky-Korsakov dengan Hymn to the sun dan William Kroll dengan komposisi Banjo & Fiddle. Catatan khusus tentang 2 karya yang terakhir. Hymn to The Sun adalah karya aria atau untuk vokal opera-ballet dengan iringan orkes, yang diadaptasi untuk solo violin dengan iringan orkes. Banjo & Fiddle menampilkan teknik pizzicato atau memetik dawai biola sebagai representatif instrumen banjo, sementara arco atau gesek adalah sang fiddle atau biola. Pada permainan 2 karya terakhir ini nampak betul gesture Nanda sangat ringan, santai serta penuh percaya diri memainkan biolanya dengan baik.

Sedikit beda ketika memainkan komposisi-komposisi  ‘syarat mati’, terutama di Mozart violin concerto, ada beberapa nada cepat dan tinggi  yang agak meleset dibawakan. Bagi penulis ini bukan masalah besar, karena memang banyak faktor selain kesiapan waktu, dana, dan tentu saja yang tidak kalah penting adalah ketersediaan venue pertunjukan pada saat ujian. Bisa jadi jadwal gedung yang padat, sehingga hanya tersedia di waktu tertentu yang jika dihitung mundur menjadi sempit waktunya untuk mempersiapkan materi resital. Inipun sebenarnya tidak perlu dirisaukan karena sudah menjadi rahasia umum di IKJ khususnya jurusan musik, para panel akan menghargai upaya maksimal seorang kandidat sarjana dalam mempersiapkan resital, dengan ganjaran nilai minimal B atau setara angka 70 yang sudah pasti didapat seusai resital. Apa pertimbangannya? Sewa gedung kan mahal, belum promosi dan publikasi, menyiapkan pengiring, sound system, lighting dsb. Bahkan kalau perlu disediakan penganan kecil. Ketika didesak berapa sih kisaran dana yang dikeluarkan? Nanda yang pernah merilis album SINOPSIS ini menjawab dengan angka fantastis diluar dugaan. Hampir 16 juta rupiah. Penulis merasa telah meng-under estimate, karena dalam bayangan total biaya hanya mencapai 8-10 juta rupiah. Tapi ternyata untuk jumlah tsb Nanda belum apa-apa. Dia bercerita bahkan ada yg sampai menghabiskan 30 juta rupiah hanya untuk resital yang kurang lebih berdurasi 2 jam. Begitu mahalnya kah  menjadi seniman? Bagaimanapun susah payah menggelar resital tidak akan mencapai kepuasan batin jika hanya mendapatkan nilai B atau 70. Upaya kerja keras ini harus mendapatkan reward yang setimpal.

Secara bijak, Nanda mencoba melihat hikmah dari resital yang baru dijalankan ini. Ia mengaku memiliki kepuasan tersendiri yang tidak dapat dinilai dari jumlah uang yang telah ia gelontorkan demi meraih kelulusan. Inilah Stoӧrps yang sedang ia bangun dan pelihara sebagai landasan resital ini, Selain itu, dukungan Ngayogstringkarta pun ia catat sebagai salah satu milestone kehidupannya. “Inilah para sahabat, teman bermusik, saksi hidup ketika saya memilih biola sebagai instrumen saya” kira-kira begitu Nanda menggambarkan bagaimana internalisasi dirinya terhadap kelompok gesek yang mayoritas merupakan teman baik semasa belajar di SMM Yogyakarta. Berproses sejatinya memang membutuhkan internalisasi, baik terhadap diri sendiri, peer-group, serta lingkungan yang lebih luas. Kiranya penulis berpendapat, Stoӧrps ini secara konsep yang digelar Selasa malam itu masih berupa kulit. Dia harus dikupas lagi lebih dalam. Ketrampilan harus makin diasah. Stoӧrps masih harus berkembang dalam pencariannya..

Akan disayangkan jika Stoӧrps hanya sampai disini saja. Karena terdapat kemungkinan yang luas untuk bisa menggelar Stoӧrps jilid 2, jilid 3 misalnya, sekaligus dengan rangkaian tour ke berbagai kota di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Why not?

18 Feb 2016

~Bowie Djati adalah perkusionis, dirigen dan dosen musik di Yayasan Musik Jakarta dan mengajar di Institut Kesenian Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: