Kabar Terkini

Petugas Konser Sebagai Agensi Experience


Mengambil pesanan tiket di meja tiket bisa jadi bukanlah sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi beberapa orang. Bisa jadi dalam sebuah konser, penjaga buku tamu dan usher pun demikian. Tidak semua menampakkan wajah ramah dan dekat dengan penonton, juga tidak jarang sedikit yang ringan tangan untuk secara proaktif membantu penonton, wajah pun masam. Pengalaman pertama dalam menonton konser pun belum tentu enak dan berkesan. Intervensi pun perlu untuk dilakukan.

Untuk melihat hal ini secara menyeluruh, perlu disadari bahwa dunia pertunjukan adalah sebuah dunia industri jasa yang mengutamakan experience sebagai produk. Penonton datang untuk pertama-tama menonton langsung pertunjukan, mereguk dan mengalami langsung gejolak di atas panggung, menyaksikannya dengan mata, telinga, hidung dan tubuh sendiri. Namun, pengalaman utama ini tidak akan dapat dialami secara optimal apabila tidak didukung dengan pengalaman menonton konser yang nyaman secara menyeluruh. Dan bahkan kenyamanan ini pun akan terasa sejak awal sang pengunjung menjejakkan kaki di dalam gedung pertunjukan yang kesemuanya menjadi satu dengan pengalaman utama menonton konser.

Beberapa kali menginjakkan kaki di beberapa gedung konser dan pusat kebudayaan di London selama beberapa bulan terakhir, terlihat bagaimana banyak gedung pertunjukan memberikan perhatian khusus bagi sikap petugas-petugas di dalam gedung konser yang berhadapan langsung dengan para calon penonton. Di sini pengalaman pengunjung menjadi yang terutama dan petugas-petugas pun dipersiapkan untuk mampu menciptakan pengalaman yang asyik dan nyaman di gedung konser. Hal ini diutamakan oleh banyak penyelenggara karena mereka menyadari bahwa entitas mereka mengutamakan pengalaman menonton konser sebagai satu kesatuan integral yang harus digarap dengan sungguh. Impresi yang baik sebagai ujung tombak interaksi dengan penonton juga diutamaka karena sistem kebijakan budaya di Inggris yang juga mengandalkan dukungan dari sektor privat dan pendapatan tiket.

Di Wigmore Hall, teringat bagaimana petugas ticket box begitu ramah membantu ketika penonton menanyakan sebuah tiket. Mereka pun tidak segan-segan memberi saran kepada penonton secara bersahabat dan terlihat tulus membantu. Senyum pun dilemparkan kepada mereka yang datang untuk membeli tiket maupun kepada mereka yang datang menghampiri untuk sekedar bertanya, seperti juga di Royal Opera House. Di Southbank Centre, bahkan petugas ticket box dengan cermat menyarankan tiket di sisi kiri panggung untuk sebuah konser dengan pemain piano, sisi di mana tangan si pemain piano dapat terlihat dengan jelas. Para usher di Southbank Centre pun juga sangat fasih dengan posisi duduk di mana mereka menjelaskan dengan terperinci di mana posisi duduk. Beberapa orang relawan pun juga terlihat sangat aktif dan senang menjadi bagian dari tim, teringat bagaimana para relawan ini mengajak penulis dan kawan-kawan penulis  bercanda lepas ketika waktu jeda konser dan menanyakan bagaimana pengalaman kami menonton konser. Mungkin ia mengenali kami karena wajah kami yang asing dan kebetulan kawan-kawan penulis adalah wanita muda berhijab yang pastinya cukup mencolok dalam sebuah pergelaran konser musik klasik di London. Kabar punya kabar, ternyata banyak dari relawan ini pun menjalani pelatihan bagaimana menjadi seorang penerima tamu yang baik.

Di Barbican Centre, meja informasi di depan gedung konser pun sangat membantu. Terutama karena ticket box terletak di tempat yang terpisah dan berbeda lantai, senyum pun tidak lepas dari wajah mereka, demikian juga para petugas di cloak room, di mana pengunjung menitipkan tas besar, jaket maupun topi ketika menonton konser. Di tempat yang sedemikian sibuk sebelum dan sesudah konser serta mereka juga harus berseliweran untuk melayani tamu, mereka tetap menunjukkan wajah yang antusias meskipun mata menunjukkan konsentrasi penuh untuk menemukan gantungan baju yang tepat. Berbeda dengan tempat penitipan tas yang kerap ditemui di toko buku dan supermarket di Jakarta yang sering menampakkan wajah lelah dan ogah-ogahan. Penjual es krim, minuman kemasan dan jajanan terlihat ramah dalam melayani penonton, juga para barista yang melayani penonton di kafe tempat melayani penonton yang memesan anggur maupun kopi sebelum maupun di paruh pertunjukan.

Experience menjadi hal yang terutama, meskipun produk utama yang dijajakan adalah pengalaman menonton konser itu sendiri. Namun kesadaran akan sebuah paket lengkap mengingatkan penulis pada pengalaman di beberapa bank di Indonesia. Mereka menyadari bahwa produk utama mereka adalah produk finansial, namun mereka pun memberikan perhatian khusus pada pelayanan. Menemui seorang petugas keamanan yang mampu menyapa tamu dan memberikan masukan dan arahan yang jelas rinci dan sopan adalah suatu hal yang biasa kita temui di bank di Indonesia. Demikian juga bagaimana meja customer service dan teller diharapkan melaksanakan tugasnya dengan seksama dan ramah sekalipun mereka sibuk. Meskipun tamu masih harus mengantri, tapi tetap akan disapa dengan senyum ketika sampai di depan meja. Sebagaimana ada perbankan prioritas, pun di gedung konser juga menyediakan lounge untuk tamu-tamu khusus, namun sekali lagi pengalaman penonton menjadi yang terutama.

Menarik adalah banyak gedung bioskop berjaringan di Indonesia mampu menghadirkan pengalaman menonton yang serupa, semua dikelola secara profesional, hingga bahkan penyobek tiket dan usher yang menunjukkan tempat duduk dengan terperinci. Sayangnya tidak banyak gedung pertunjukan di Jakarta yang mampu menghadirkan pengalaman menonton seperti ini. Beberapa ujung tombak ini terlihat lemas dan bahkan kebingungan ketika menangani penonton dan terlihat amatir. Di beberapa tempat lain, petugas terlihat profesional namun seringkali menunjukkan wajah masam dan lebih terlihat seperti hansip yang garang menjaga ruangan pertunjukan dibandingkan menjadi seorang customer-facing agent yang ramah.

Pada akhirnya adalah sampai seberapa jauh penyelenggara menyadari bahwa penonton pun datang untuk mengalami pertunjukan secara paripurna dan diperlakukan secara manusiawi dan bahkan seramah mungkin. Di balik adanya tamu yang mungkin gila hormat, dengan keramahan dan profesionalisme banyak hal yang dapat terjadi dan ditangani dengan apik. Petugas-petugas yang dirasa sampingan pun sebenarnya menjadi agensi utama pula dalam meramu pengalaman menonton yang menyenangkan.

Iklan
About mikebm (1238 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: