Kabar Terkini

5 Petualangan Mencari Otentisitas


Dalam bermusik klasik, hampir tidak habisnya seorang musisi klasik menggali otentisitas. Musik klasik lima puluh tahun terakhir ini dapat dikatakan sebagai pertualangan mencari otentisitas musik dan juga otentisitas dalam menginterpretasikan musik. Mungkin sejenak, kita perlu membedah mengapa otentisitas ini diperjuangkan berikut tujuannya.

Otentisitas dalam bermusik klasik adalah sebuah jargon baru, yakni merujuk pada suatu keadaan di mana seorang penampil berusaha mencari tahu dan menggali sejarah untuk menemukan bagaimana musik yang ditulis oleh seorang komponis tertentu berbunyi semasa sang komponis hidup. Dalam proses mencari otentisitas ini, pemusik dan kalangan musik kemudian mencoba menghidupkan kembali berbagai kondisi yang mampu membuka tabir zaman, dan mencoba menghidupkan kembali bunyi musik yang ada di kepala sang komponis kala musik tersebut ditulis.

Meski proses ini dapat dikatakan sebagai sebuah rekayasa, terutama dikarenakan tidak ada yang sungguh tahu bunyi yang berdengung di telinga Beethoven yang telah tuli 200 tahun yang lalu. Namun usaha ini seakan tidak pernah putus, dan semakin sang musisi berusaha mendalami musik dan mengusahakan otentisitas ini, semakin dihargai pula usahanya tersebut.

Dalam mencari otentisitas, seorang musisi berperan layaknya seorang arkeolog yang melihat benda-benda kuno bersejarah dan kemudian mencari-cari apa kegunaan, makna dan signifikansi benda-benda kuno tersebut di dalam sejarah dan juga dalam kehidupan orang di masa lalu. Mencari jejak-jejak musik dari yang tertulis maupun rekam masa lalu dalam gambar dan tulisan. Namun inilah proses kreatif musisi masa kini yang berusaha menghidupkan kembali musik masa lalu dengan sumber daya yang dimilikinya saat itu.

Terlebih di zaman ketika dunia musik klasik terobsesi pada otentisitas musik. Otentisitas dalam menginterpretasi karya menjadi nilai yang dicari-cari, terlebih dalam seorang musisi yang telah menempuh pendidikan lanjut. Berikut adalah beberapa cara harus diselami sungguh oleh sang musisi untuk mampu menemukan otentisitas tersebut:

  1. Membaca partitur
    Sebagaimana dikemukakan oleh malaikat Jibril ‘Iqro!’, membaca partitur adalah hal yang sangat penting. Membaca tanda dinamika dan ekspresi serta artikulasi dapat membuka tabir karakter musik semacam apa yang hadir di atas kertas. Tidak pernah musik ditulis hanya untuk sekedar berbunyi, terutama apabila melihat sebagian besar sejarah panjang musik. Oleh karenanya, pemahaman ketika membaca partitur adalah hal yang pertama. Partitur haruslah masuk akal ketika dibaca dan dicoba dimainkan ataupun dinyanyikan. Bahkan dalam karya vokal, penempatan kata dan kesesuaiannya dengan figur musik yang dihadirkan juga perlu disimak. Maka dari itu pastikan kualitas edisi musik yang dipakai sebagai titik awal ini. Apabila hadir pertanyaan dan ada waktu untuk meneliti lebih jauh, lakukanlah langkah kedua untuk memastikan.
  2. Membandingkan partitur
    Sebagai sebuah publikasi, partitur musik bukanlah sebuah karya yang sempurna tanpa cacat. Cacat itu kemungkinan ada dan perlu disikapi dengan bijaksana. Apabila didukung sumberdaya waktu dan akses yang cukup, musisi dapat membandingkan beberapa edisi sekaligus untuk menjawab pertanyaan ketika membaca partitur. Partitur musik juga adalah hasil suntingan yang berbeda-beda versi tergantung penyuntingnya. Interpretasi pun bisa berbeda, tetesan tinta di mata seorang penyunting bisa jadi berupa staccato, sedang di mata penyunting lain bisa jadi adalah cipratan tinta dari pena sang komponis. Karena perbedaan interpretasi ini seringkali musisi yang tanggap historis akan membandingkan langsung dengan partitur tulisan tangan sang komponis, ini pun kalau manuskrip itu masih ada dan bisa didapat aksesnya. Akses kini sedikit lebih mudah, ada internet dan banyak arsip-arsip manuskrip komponis kini dapat diakses secara cuma-cuma. Dengan ini, musisi dapat mengambil keputusan untuk musik otentik dengan lebih akurat.
  3. Kenali organologi instrumen
    Mengenal organologi instrumen adalah hal yang baku yang harus dilakukan oleh seseorang yang mengaku seorang instrumentalis, demikian juga seorang vokalis haruslah mengenal organ pencipta suara yang dimilikinya. Karakter instrumen bisa jadi berbeda-beda, namun juga memiliki ciri khas umum yang mampu disimpulkan oleh musisi. Mengenali bagaimana suara dan karakter suara tersebut dihasilkan adalah sentral dalam mengenal instrumen. Namun mengenal instrumen juga sebisa mungkin tidak hanya bersifat searah, namun harus mempertimbangkan dimensi lainnya, terutama waktu dan ruang. Instrumen, sebagaimana banyak hal lain, berevolusi. Instrumen yang kita kenal sekarang bisa jadi berbeda dengan nenek moyang instrumen itu di masa lalu, meski berbagi nama yang sama, bentuknya bisa jadi berbeda dan mengeluarkan suara yang berbeda pula. Ketinggian dan laras nada (frekuensi dan temperamen) juga berpengaruh vital akan karakter suara, meski tidak bisa ditiru habis-habisan namun ada baiknya mampu menghadirkan nuansa yang sama dengan instrumen yang digunakan. Pun jangan lupa, karakter ruangan pertunjukan juga berpengaruh, baik ruang yang digunakan kini dengan ruang yang digunakan masa lalu.
  4. Cari referensi suara dan gaya
    Musisi hanya akan mampu menghasilkan suara yang hadir di benaknya. Musisi yang hebat adalah musisi yang mampu menghadirkan suara yang persis sama dengan apa yang ada di benaknya. Oleh karenanya, adalah wajib hukumnya bagi seorang musisi untuk mampu membayangkan suara yang dapat dimainkan di instrumen pilihannya dan adalah kewajibannya untuk terus mengembangkan referensi suara yang ada di benaknya. Mendengarkan rekaman musik yang kini dapat dengan mudah di dapat di mana-mana, memperhatikan jenis suara yang dimainkan musisi-musisi ternama dan pendekatan musikal yang diambil. Kejelian menangkap bebunyian dan pola musikal yang dikemukakan musisi-musisi lain dapat menjadi sebuah sarana untuk bercermin dan melihat suara, pendekatan dan pengembangan musikal diri. Sebagai musisipun ketika mencari referensi juga harus jeli melihat mana otentisitas karya dan mana yang ciri khas si musisi itu sendiri, memilah mana yang baik, mana yang kurang baik adalah mutlak bagi seorang musisi.
  5. Latihan, latihan, latihan
    Ketika studi telah dilakukan, satu-satunya cara seorang musisi untuk mampu menghadirkan otentisitas tersebut adalah dengan berlatih dan mencoba menyatukan konsepsi bunyi dan pendekatan musik tersebut dengan tubuh dan instrumen yang idmainkan. Musisi harus menemukan mana yang mungkin, mana yang tidak mungkin, mana bagian yang perlu diakali hanya lewat proses latihan. Tanpa latihan, konsepsi apapun se-otentik apapun tidak akan hadir dalam musik.

Apabila seseorang ataupun sekelompok musisi lupa bagaimana gaya musik harus dibawakan, agaknya perlu kembali melihat bagaimana proses mencari otentisitas dan ketepatan pendekatan historis itu dilakukan. Kini seorang musisi harus lebih hati-hati, benar salah pendekatan Anda, kemungkinan besar rekaman permainan Anda akan muncul di sebuah media sosial. Adalah pedih apabila melihat musisi yang terdidik melakukan kesalahan mendasar dalam mencari otentisitas musik. Terlebih kini, kegagalan menciptakan sedikit cita rasa otentik adalah bukti keengganan dalam bermusik secara benar. Kini mata dan kamera ada di mana-mana.

 

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: