Kabar Terkini

Berhakkah Penonton Punya Ekspektasi Tinggi?


Seni pertunjukan musik tidak akan dapat berjalan apabila tidak ada penonton. Seberapa pun sedikit atau banyak penonton menjadi salah satu elemen paling penting dalam pertunjukan seni. Tanpa mereka yang menonton ataupun menikmati seni, pertunjukan seringkali kehilangan relevansinya. Dan sejalan dengan hadirnya penonton, hadir pula sebuah ekspektasi akan pertunjukan seni yang akan dinikmati, haknya sebagai konsumen pun muncul dikarenakan ekspektasi tersebut.

Problematika yang kerap terjadi adalah menganggap penonton sebagai reseptor pasif yang tidak memiliki ekspektasi. Seringkali penonton dijaga oleh banyak penggerak seni, baik musisi maupun organiser untuk memiliki ekpektasi yang rendah akan kualitas seni yang akan mereka konsumsi. Hal ini sebenarnya memudahkan banyak penggerak seni pertunjukan untuk mendikte penonton dan pasar, mengarahkannya sesuai yang diinginkan oleh musisi dan penggerak seni. Alhasil masyarakat akan masuk sebagai konsumen yang mudah untuk dipengaruhi menjadi pendukung kegiatan seni tanpa melihat nilai dari seni pertunjukan musik yang didukungnya.

Hal seperti ini dapat dikatakan adalah surganya para musisi dan penggerak seni pertunjukan karena sejatinya adalah sebuah proses monopoli di mana supplier memiliki kata terakhir akan kualitas yang akan dipertunjukan pada penonton dan mereka mencoba menjaga kualitas rendah namun tetap dibeli dengan harga yang mahal dikarenakan ketidaktahuan penonton akan standar kualitas yang ada akan produk tersebut. Ironisnya, banyak pelaku seni berlindung dibalik jargon pendidikan, namun tidak berusaha untuk sungguh menghadirkan pertunjukan dengan standar tinggi dan bahkan secara khawatir akan ekspektasi tinggi dari audiens.

Pertanyaan seperti ini banyak ditargetkan oleh badan perlindungan konsumen dengan berusaha melindungi kepentingan konsumen dari berbagai industri, namun apakah sistematika seperti ini dapat berjalan dalam lingkup industri kreatif dan seni? Nampaknya tidak, besar dikarenakan lingkup industri kreatif dan seni tidak memiliki standar yang baku akan kualitas, kenyataan yang berbeda dengan sebuah industri manufaktur. Pertunjukan oleh sebuah kelompok seni dengan lakon yang sama bisa jadi berbeda kualitas hanya karena terjadi di dua hari yang berbeda. Pun tidak ada jaminan dari organisasi seni bahwa mereka akan menyuguhkan pertunjukan menarik, atau uang kembali. Seni dan kualitasnya akhirnya bersifat personal.

Paradoks yang terjadi adalah dengan perkembangan akses informasi dan opsi konsumsi hiburan dan seni senantiasa semakin baik, semakin terdidik pula masyarakat penikmat seni musik. Alhasil ekspektasi pun akan meningkat. Penonton pun tidak lagi seperti kerbau yang dicucuk hidungnya dan didikte oleh gatekeeper (mereka yang menyebut diri sebagai ahli dan menentukan mana yang baik mana yang buruk), namun sebagai entitas yang memiliki sebuah ekspektasi dan harapan akan kualitas pertunjukan yang akan ia konsumsi.

Di satu sisi ini akan merepotkan banyak musisi dan organiser karena penonton tidak bisa lagi sembarangan diperdaya. Konsumen pun akhirnya juga akan menuntut haknya untuk mampu memilih pertunjukan yang dapat ia saksikan yang sesuai dengan ekspektasinya. Tentu saja ini akan mengacam keberadaan oligopoli banyak penyedia seni pertunjukan musik yang berusaha mempertahankan posisi di dalam proses produksi dan konsumsi. Namun demikian, penonton dalam proses ini sebenarnya telah diemansipasi lewat ekspektasinya. Posisi mereka bukan sebagai penonton yang didorong supplier, namun mereka dengan informasi dan ekspetasi mampu juga berdiri sama tinggi dengan supplier dan menegosiasikan langsung kualitas tontonan yang mereka akan terima, yang mau tidak mau harus dipenuhi oleh supplier, dalam hal ini para seniman dan para penyelenggara.image1

Tingginya ekspektasi penonton sebenarnya akan secara langsung akan mempengaruhi kualitas seni yang dipertontonkan, musik yang dipertunjukkan. Kualitas pun akan diperhatikan dengan sangat luar biasa. Mengapa Berlin Philharmonic terus mencoba mempertahankan kualitasnya yang demikian baik? Jawabnya adalah karena seluruh ekosistem penonton, kritikus dan bahkan pemerintah memiliki ekspektasi yang tinggi akan organisasi ini, bahwa organisasi ini harus mampu hidup sebagai orkes di ibukota Jerman, daerah yang terkenal sebagai asalnya tradisi musik simfonik. Penonton paham seninya dan mereka pun memaksakan pentingnya kehadiran sebuah orkes sekaliber ini. Apabila Berlin Philharmonic ini gagal memenuhi ekspektasi penontonnya, organisasi ini tentunya akan terancam keberadaannya. Mengapa Purwakarta tidak memiliki orkestra simfoni dengan level tinggi? Karena tidak adanya ekspektasi dari masyarakat untuk memiliki dan mengusahakan sebuah orkestra berkualitas. Lantas bagaimana dengan Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, Medan, Malang, Makasar, Pontianak, Denpasar dan berbagai kota di Indonesia yang memiliki pergerakan musisi yang cukup besar?

Penonton berhak memiliki ekspektasi tinggi. Tapi ekspektasi tinggi dari konsumen dan penonton adalah sebuah kewajiban apabila ingin menyuguhkan pertunjukan berkualitas, bukan lagi sebuah hak. Seni pertunjukan maju bersama, bukan hanya kualitas senimannya, tapi juga kualitas penontonnya. Kalau penonton masih menerima kualitas burger yang benyek, sampai kapan pun restoran burger tersebut akan membuat burger benyek dan tidak seperti yang diiklankan.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: