Kabar Terkini

Amatir dengan Keberanian Profesional


Malam Minggu ini, sesekali melipir ke sebuah gedung konser di belakang Westminster Abbey London dan hanya 10 menit berjalan dari jam paling terkenal di dunia Big Ben. St. John’s Smith Square tepatnya, sebuah gedung gereja yang setelah direstorasi sesudah terkena bom Perang Dunia II diubah menjadi sebuah gedung konser. Auditorium bergaya barok ini cocok untuk menjadi ruang resital, musik kamar maupun orkestra dengan kapasitas total sekitar 750 kursi, tergantung pengaturan tempat duduk dan panggung. Tapi malam yang dingin ini sekitar 534 orang memadati lantai dasar gedung konser ini, dikarenakan balkon tidak dibuka dan formasi orkestra yang besar.

Yang tampil malam ini adalah Royal Orchestral Society, sebuah orkestra kota London yang beranggotakan para pemain orkestra amatir. Tapi meskipun amatir, program konser malam ini bukan main-main. Piano Concerto No.2 karya Sergei Rachmaninoff yang menjadi hidangan pembuka dengan solois pianis Inggris kelahiran Bosnia Herzegovina Ivana Gavric. Gavric tampil dengan sensitivitas tinggi berbaur dengan orkestra yang ternyata secara mengejutkan memiliki suara seksi gesek yang tebal serta kokoh sejak pertama kali berbunyi dibawah pimpinan konduktor Orlando Jopling. Ivana Gavric dengan kelenturan jemari melibat konserto terkenal ini dengan garapan yang hangat dan terkesan ramah mengimbangi permainan orkestra. Orkestra ini pun mampu mengetengahkan intrikasi-intrikasi yang agaknya berbeda dengan banyak interpretasi orkes lain akan karya ini. Entah dikarenakan kehati-hatian, khususnya di kelompok tiup, namun malah secara mengejutkan malah memperjelas garis-garis melodi yang seringkali buram di banyak rendisi orkes lain.

IMG_3144

Konser pun masuk ke puncaknya dengan Symphony no.11 karya Dmitri Shostakovich yang penuh dengan dualisme pesan. Karyanya mengenangkan pembantaian para buruh yang berunjuk rasa damai untuk persamaan hak di Moskow 1905 oleh para tentara Czar yang akhirnya berujung pada kemarahan publik dan lahirnya Soviet. Shostakovich pun mengintegrasikan melodi-melodi perjuangan dalam karya ini dengan cerdik sehingga dapat dikenali namun tetap berbentuk pengembangan simfoni utuh dan bukan medley. Akan tetapi, karya ini juga merupakan kritik kepada pemerintahan Soviet yang di tahun 1956 bergantian menjadi si tangan besi dan menggilas para buruh dan mahasiswa Hungaria yang berunjuk rasa untuk persamaan hak. Shostakovich memang selalu berperan sebagai sang komponis bermuka dua di hadapan politbiro sosialis demi keselamatan diri, karir dan keluarganya, namun selalu berkarya untuk menyuarakan mereka yang tertindas. Hubungannya yang dilematis dengan pemerintah Soviet selalu menarik untuk disimak dan dikaji.

Royal Orchestral Society secara meyakinkan memainkan karya berdurasi satu jam ini dengan meyakinkan. Barisan tiup logam dari orkestra bermain dengan fasih terlebih karya yang diselesaikan tahun 1957 ini dengan megah dan bertenaga. Jopling pun mampu menjahit keseluruhan karya menjadi satu meskipun hal tersebut bukan hal yang mudah mengingat orkestra ini diawaki mahasiswa konservatori dan pemain amatir level tinggi dan bukan pemain profesional yang malang melintang setiap hari sebagai pemain orkestra. Namun keberanian mereka membawakan karya ini berbuah manis.

Tepuk tangan pun membahana memuji orkestra yang dibentuk sejak tahun 1872 oleh Duke of Edinburgh dan meskipun tetap sebagai kelompok amatir, memiliki sejarah panjang dan berperan dalam perkembangan musik di London selama lebih dari 140 tahun dan aktif berkonser setidaknya 4 kali setahun sebuah prestasi yang cukup mengesankan untuk sebuah orkes amatir.

Sepertinya orkestra amatir pun dapat memiliki taji layaknya orkestra profesional. Penutup minggu yang menghibur di tengah dingin yang mendera.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: