Kabar Terkini

Bertukaran Musisi Internasional


Pasar pekerja musik ASEAN nampaknya bukan lagi sebuah angan-angan jauh semata. Kini sudah benar terjadi, setelah beberapa waktu tidak melihat pemain asing di orkes Indonesia setelah masa Nusantara Symphony Orchestra, dalam konser Twilite Orchestra kemarin tampil beberapa talenta muda dari Thailand di seksi tiup. Pemain asing di sini adalah pemain yang khusus diterbangkan dari negara tetangga untuk bermain di Twilite Orchestra di bawah pimpinan Addie MS. Tapi kisah ini pun bukan hanya kisah sedih, juga sebuah kisah potensi.

Hadirnya pemain-pemain dari negara-negara tetangga di panggung orkestra kita adalah sebuah hal yang memiliki banyak perspektif yang dapat dikupas. Orkestra di Indonesia nampaknya memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk menerbangkan beberapa pemain muda dari lain negara untuk bermain di dalam negeri dam ternyata orkes Indonesia pun memiliki daya tarik yang baik sebagai orkes penyedia lapangan kerja.

Namun juga menarik untuk diangkat mengapa orkestra seperti Twilite dan Nusantara Symphony Orchestra memilih untuk menggunakan beberapa tenaga asing. Di satu sisi terlihat bahwa dari segi pemain, nampaknya banyak sekolah tinggi musik di Indonesia belum mampu mencetak tenaga yang mampu menjadi pelapis tenaga senior. Karenanya kualitas pendidikan pun perlu disoroti untuk menjawab persoalan ini. Apakah sekolah tinggi musik telah menyediakan tenaga pengajar dan kurikulum yang mampu melahirkan tenaga kerja yang layak menjadi pemain orkestra bahkan di dalam negeri ataukah kualitas pemain yang ditelurkan bahkan tidak cukup tidak mampu mengisi kekosongan pemain dalam negeri adalah pertanyaan yang harus dijawab.

Perlu dicatat bahwa beberapa orkestra pun memilih untuk menggunakan tenaga muda asing dibanding tenaga senior dalam negeri dikarenakan ketidakcocokan ketenagakerjaan. Beberapa pemain senior kini dengan bangga menyebut diri sebagai ‘alumni’ dikarenakan tidak lagi menjadi prioritas dalam barisan pemain orkestra tertentu. Pilihan profesional ini biasa terjadi karena pemain maupun organisasi orkestra tidak lagi dapat mencapai kesepahaman dalam pekerjaan, upah maupun karena proses daftar hitam yang seringkali bersifat subyektif dari kedua belah pihak.

Walhasil dengan kurangnya suplai pemain baru dengan batas kualitas seperti yang diinginkan orkestra dan karena adanya barisan ‘alumni’ pemain orkestra, maka pemain-pemain dari ASEAN lah yang masuk untuk mengisi barisan-barisan yang ditinggalkan barisan ‘alumni’ ini. Ini sebenarnya berarti lampu kuning bagi pendidikan musik dalam negeri terutama posisinya sebagai lembaga pendidikan musik yang juga harus bersaing dengan lembaga pendidikan musik asing di seluruh ASEAN. Lembaga pendidikan umumnya hanya dinilai sebaik riset dan kualitas lulusannya. Apabila lulusan tidak mampu bersaing bahkan di dalam negeri, pertanyaan ini tentunya harus segera dijawab.

Tapi kisah tidak selamanya gelap. Di sisi lain banyak talenta muda Indonesia juga bermunculan dan merambah ke negara-negara ASEAN. Cellis Alfian Adytia yang juga adalah penggagas Indonesian Youth Symphony Orchestra (IYSO) beberapa di akhir tahun 2015 lalu bermain untuk Vietnam National Symphony Orchestra di Hanoi, Vietnam. Rekan penggagas IYSO yang lain Arjuna Bagaskara seorang obois yang lulusan ISI Jogja dan kini menimba ilmu di Yong Siew Toh Conservatory Singapura pun aktif mendukung orkestra dan berbagai kelompok musik kamar di kampus maupun di luar kampus di Singapura selama beberapa tahun terakhir. Fagotis Tomy Dwi Jadmoko sedikit berbeda, siswa ISI Jogja ini baru beberapa minggu lalu mendukung orkestra di Kuala Lumpur, Malaysia. Harpis Rama Widi meskipun hanya sebentar, sempat menjadi dosen harpa di Thailand.

Dari sisi bakat dan kemampuan, baik Bagas maupun Tomy mengakui bahwa bakat musikal manusia Indonesia berada di depan kawan-kawan di ASEAN dan mampu bersaing dengan musisi di kawasan. Namun menurut Tomy, guru hebat yang menjadi titik penting pertumbuhan siswa dan titik tolak karir awal seorang siswa agak sulit untuk ditemukan. Tomy pun mengaku tidak mudah untuk menemukan guru fagot/bassoon bagi dirinya di Jogja. Namun dengan latihan yang tiada henti, persoalan itu tidak menjadi halangan.

Bagas mengemukakan hal yang sedikit berbeda, meskipun ia tidak begitu mendukung ataupun nyaman dengan hal ini, tapi ia melihat bahwa musisi di regio terutama yang ditemuinya di Singapura memiliki semangat juang yang tinggi dan sangat kompetitif. Di sisi lain persaingan yang kuat membuat musisi muda berlomba-lomba menjadi yang terbaik, namun di sisi lain juga perlahan kehilangan arti kemanusiaan dalam hidup, hal yang menurutnya penting untuk menjadi seorang musisi.

Meski ada kabar indah dari musisi muda ini, melihat bahwa Indonesia memiliki populasi hingga 40% dari seluruh ASEAN jumlah musisi freelance terbang dan membina karir di ASEAN yang tidak terlalu banyak, menandakan bahwa Indonesia masih kalah bersaing dengan banyak negara tetangga yang jumlah penduduk tidak banyak namun memiliki ratio ekspor pemain yang lebih banyak seperti Thailand dan Singapura. Di sini penulis tidak menghitung musisi Indonesia yang berhasil membina karir di luar ASEAN.

Selain kemampuan masing-masing musisi, satu hal yang penting yang perlu ditarik dari ketiga musisi muda ini selain mengenai kemampuan adalah mereka telah berhasil membangun koneksi dan jejaring di luar Indonesia yang memampukan mereka perlahan merambah ke kawasan ASEAN. Beberapa mereka dapatkan melalui guru, mentor maupun institusi mereka untuk kemudian membuka jalan bagi banyak musisi untuk melihat kemungkinan berkarir di luar negeri. Tomy dipercaya oleh gurunya Joost Flach, Bagas karena lingkungan konservatorinya yang menjadi salah satu pusat pendidikan musik terbaik di ASEAN dan Alfian melalui mentornya Kanako Abe.

Suka atau tidak, jejaring adalah satu hal yang penting dalam membina karir di dunia kreatif dan seni. Jejaring ini pula yang seringkali menyebabkan banyak musisi Indonesia yang telah berkarir di Eropa maupun Amerika untuk menetap di sana. Pilihan kembali ke Indonesia adalah pilihan besar untuk berani membuka jalan setapak menembus hutan belantara untuk karir mereka tanpa fasilitas maupun jejaring untuk mendukung aspirasi mereka.

Agaknya apabila ingin musisi Indonesia lebih berperan di kancah internasional, bukan hanya mengandalkan bakat musikal dan kerja keras saja, tapi juga kehadiran guru serta jejaring yang memampukan musisi-musisi kita untuk berkarir di luar negeri. Meskipun teknologi telah meretas batas lebih jauh, namun nampaknya di bidang ini relasi interpersonal masih menjadi hal yang penting.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: