Kabar Terkini

Menerabas Ketiadaan


Kematian memang sesuatu yang penuh misteri. Kabut melingkupinya meskipun setiap orang akan mengalaminya. Duka akan terus ada dan setiap orang akan berusaha memaknainya dengan caranya masing-masing.

Mary adalah seorang petugas pajak dengan dua orang anak. Sang suami, Joe, bekerja sebagai seorang guru bahasa Latin yang meskipun perlahan tersisih dari kurikulum Inggris tetap bertahan dan berjuang menghidupi keluarganya. Mary pun senantiasa mengunjungi ibunya yang perlahan terserang dimentia (pikun), duduk diam berlama mengenang lamunan masa-masa holocaust Perang Dunia II. Mazz, putri sulungnya, baru menyelesaikan sekolah dan bermimpi untuk menjadi penata busana. Putra bungsunya, Kevin, seperti kebanyakan anak 15 tahun lainnya, tenggelam dalam dunia game komputer dan teknologi.

Dibina dalam situasi keseharian dengan kesempatan menyelami karakter masing-masing peran di awal lewat dialog di luar kisah utama. Namun kisah sebenarnya baru dimulai ketika Mary yang sedang menyetrika mendadak terkulai lemas, terserang stroke akut. Maut pun menjemput, menyebabkan kisah keluarga kecil ini tidak lagi sama. Mary sendiri menyaksikan dan bersedih memandang bagaimana kematian memukul keluarganya, sedang ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Kisah ini dikisahkan begitu dekat lewat lakon dua babak yang ditulis oleh penulis Jo Clifford yang mengalami hal yang serupa dalam hidupnya. Ia adalah John Clifford yang memutuskan untuk mengubah kelamin menjadi wanita setelah ditinggalkan oleh istri yang dikasihinya. Gaya tutur naskah 95 menit ini begitu lugas dan mengikat. Jo mengungkap kisah yang bersentral pada Mary, karena menurutnya kisah kematian sudah banyak mengeksplorasi perasaan mereka yang ditinggalkan namun bukan dari sudut pandang mereka yang meninggal.

Diproduksi oleh Chris Goode & Company dan Battersea Arts Centre, seluruh pemain berada di atas pentas seakan tanpa sekat dan kisah bertutur seluruhnya di atas pentas. Angela Clerkin sebagai Mary dan Michael Fenton Stevens sebagai Joe begitu memikat dengan ekspresi subtil namun mendalam di atas panggung, demikian juga sang Pria (Barret) Nigel Barret luwes di atas panggung. Nicola Weston dan Nick Finegan berperan sebagai anak-anak mereka. Eileen Nicholas berperan dengan cerdik sebagai sang Ibu.

Meskipun sendu, Clifford mampu mengemas karya ini dengan menyeimbangkan kejenakaan sekaligus pula kedalaman. Kisah ini terasa begitu dekat dan mengharukan, terlebih kisah kehilangan sosok yang terkasih adalah sebuah tema universal yang dekat dengan semua kita. Perlahan ingatan pun melayang kepada mereka yang sudah pergi meninggalkan kita dan sendu sembab pun menghiasi sudut mata penonton. Namun sebagaimana Joe yang merenung di penghujung malam, “Sedikit tertatih… Dan aku berkata pada diriku sendiri. Ini bukan akhir. Bukan. Bukan.”

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: