Kabar Terkini

Warna Lain di Konser Jakarta Sinfonietta


Digagas pada tahun 2015 lalu, orkes kamar Jakarta Sinfonietta kembali menyemarakkan panggung dengan program yang kali ini ditujukan pada keluarga dan anak-anak. Program yang bertajuk “Konser untuk Keluarga” ini menyuguhkan beberapa karya yang ditulis oleh komponis besar seperti Mozart dan Saint-Saëns serta juga menampilkan para solis yang lama berkiprah di dunia musik klasik.

Konser yang diadakan pada Minggu (3/6) kemarin dimeriahkan dengan Toy Symphony yang kepengarangannya masih diperdebatkan hingga sekarang. Karya ini diduga gubahan Joseph Haydn atau Leopold Mozart, ayahnya Wolfgang Amadeus Mozart. Namun pengkajian terbaru menunjukkan karya tersebut dikarang oleh seorang pendeta Benediktin bernama Edmund Angerer. Bagaimanapun juga, karya ini memiliki ciri khas tersendiri karena menampilkan alat-alat musik orkes yang tidak standar: alat musik mainan.

Beberapa alat musik mainan yang terdiri dari ratchet (roda bergigi yang diputar), rekorder, dan suling bambu suara burung dimainkan oleh siswa-siswi cilik Konservatorium Musik Jakarta (JCoM) yang tergabung dalam Program Pendidikan Musik Dasar (PPMD). Suara alat-alat musik mainan tersebut menghiasi alunan orkes yang dipimpin oleh Iswargia Sudarno, direktur akademik JCoM yang akrab dipanggil Lendi.

Walaupun karya ini terdengar simpel secara form (struktur musik) dan memiliki bahasa harmoni dan melodi yang cukup sederhana, Jakarta Sinfonietta berhasil menoreh senyum di bibir penonton. Humor yang ada dalam musik ini dibawakan dengan permainan yang ringan dan anggun, terutama dari seksi gesek. Anak-anak yang menguasai alat musik mainan di belakang panggung juga terlihat sangat fokus dan antusias; tidak ada satu pun yang masuk terlalu awal atau terlambat, dan terdengar menyatu dengan orkes.

Jakarta Sinfonietta kembali menguasai panggung dengan konserto untuk piano dan orkes nomor 12, K. 414, gubahan Wolfgang Amadeus Mozart. Konserto yang terdiri dari tiga bagian ini memajukan Jonathan Kuo sebagai solis. Pianis kelahiran Bandung, Jonathan terlihat sangat nyaman di atas panggung dan mampu memainkan beberapa cadenza (bagian piano solo yang virtuosik) secara meyakinkan dan penuh energi. Tidak heran Jonathan tampil prima, belum beranjak usia 14 tahun, ia telah mencetak prestasi berskala internasional diantaranya juara dua Chopin International Piano Competition di Malaysia (2010) dan juara satu di kompetisi yang sama di Thailand (2015).

12821350_10201238059308822_2159528135800859590_n

Konserto ini merupakan salah satu karya Mozart muda yang tidak membutuhkan orkes besar. Mozart menulis surat kepada ayahnya bahwa karya ini “tidak terlalu berat maupun terlalu ringan”, dan hasilnya adalah karya yang seimbang secara lirik dan mengalir dengan drama yang tidak rumit namun berarti. Sangat disayangkan suara piano yang dihasilkan tidak semaksimal yang diharapkan; suara register bass cenderung terbekap dan terdengar lebih gelap dari iringan orkes.

Babak kedua, giliran karya Saint-Saëns berjudul Le Carnaval des Animaux (Karnaval Satwa) yang dibawakan dalam format orkes kamar dengan dua piano. Solis-solis kali ini adalah Iswargia dan Adelaide Simbolon, juga pengajar piano ahli di JCoM yang sempat menempuh pendidikan musik di University of Wisconsin-Milwaukee, Amerika Serikat.

12821350_10201238059308822_2159528135800859590_n

Karya ini terdiri dari 14 bagian, dan tiap bagian mengilustrasikan seekor hewan (dan juga sepasang pianis) yang keduanya memiliki kiasan musikal yang unik. Jakarta Sinfonietta kali ini tidak dipimpin oleh seorang pengaba, melainkan mendengarkan suara satu sama lain bersama Iswargia dan Adelaide yang duduk berhadapan. Yang patut dipuji tentang pembawaan karakter dalam karya ini adalah energi yang berkesinambungan dan kebersamaan antara pemain secara ritmis dan nafas antara frase-frase musikal.

Sungguh konser yang sangat indah dan dapat dinikmati baik suara dan warna musik itu sendiri oleh para penikmat musik klasik. Penulis menantikan konser Jakarta Sinfonietta yang berikutnya. Bravi! Hut ab!

About Hazim Suhadi (12 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: