Kabar Terkini

Memahami Musik dengan Bergerak


Musik bisa jadi adalah sebuah bidang yang sangat spesifik, namun pembelajarannya akan lebih efektif dan mengena apabila dilakukan secara holistik. Pembelajaran musik secara holistik terlebih dahulu digarap di musik tradisi di luar tradisi Barat, salah satunya di Indonesia. Namun kita kini perlahan mengikuti cara Barat, sedangkan yang di Barat sudah perlahan beralih ke penggarapan musik secara holistik.

Menarik melihat catatan Benjamin Brinner dalam bukunya ‘Knowing Music, Making Music’ yang mencoba menggali bagaimana para pemusik mempelajari musik terutama dalam tradisi lisan seperti gamelan Jawa. Brinner mencatat bagaimana pemahaman pemusik/nayaga dalam lingkup kewaspadaan kinestetik dan pergerakan fisik menjadi salah satu kunci yang kuat. Brinner juga mencatat bagaimana seorang nayaga akan semakin mantap dalam bermusik lewat kecakapannya menari.

Menarik pula sebenarnya melihat bagaimana metode pengajaran musik bagi anak-anak awalnya berfokus pada kegiatan yang holistik dan melibatkan tubuh secara luas seperti menyanyi, bertepuk tangan dan menari. Namun semakin lama, kegiatan ini agaknya ditinggalkan ketika banyak pemusik memasuki pendidikan musik menengah dan lanjut, terutama dalam tradisi musik klasik. Tubuh seringkali dianggap rendah dalam ideologi Platonisme di Barat, terutama dalam dikotominya yang cukup keras antara tubuh dan roh. Hal ini kemudian mempengaruhi bagaimana pendidikan di Barat terbentuk. Banyak pemusik akhirnya lebih berkonsentrasi dengan jari, nafas dan kognitif terkadang tanpa pemahaman bagaimana tubuh dan geraknya secara keseluruhan dapat membantu mereka memahami musik secara lebih utuh.

Namun dikotomi ini tidak banyak dikenal di banyak filsafat timur. Kesatuan dan keberadaan adalah salah satu yang utama. Karena itu pemisahan dan penganaktirian tubuh seharusnya tidak terjadi di pendidikan timur, meskipun sayangnya perlahan banyak pendidikan yang kemudian mengadopsi gaya lama di Barat yang sarat dikotomi. Sekat itulah yang perlahan harus kita bongkar.

Di sinilah pentingnya gerakan tubuh dalam memahami musik. Dalam pendidikan musik, seorang pemusik harus merasakan dengan tubuh bagaimana irama dapat terinternalisasi dalam bentuk tarian. Menarik bagaimana John Elliot Gardiner, konduktor musik barok ternama Inggris, selalu melihat bagaimana musik Bach sarat dengan pergerakan dan tarian. Baginya, pergerakan tersebut harus menjadi motor dalam menginterpretasi musik. Bila manakah kita dapat memahami tarian Waltz apabila pemusiknya tidak pernah meninggalkan tempat duduk dan mencoba memahami langkah-langkah tarian waltz. Demikian juga dalam musik puitis seperti tone poem yang mengekspresikan berbagai perasaan, pemahaman akan gerak tubuh sekalipun kecil namun sangat penting.

Body movement2

Musisi adalah aktor. Di atas panggung, ia memainkan perannya selaku sang komponis menjadi jembatan antara musik yang ditulis oleh komponis untuk mencapai penontonnya. Menarik melihat aktor tidak hanya melatih bagaimana mereka bersuara dan membacakan perannya dan mengerti secara intelektual perannya, namun juga secara aktif terlibat dalam gerakan tubuh untuk menyampaikan pesannya. Musisi pun juga dituntut untuk berbuat demikian. Meskipun menghadapi keterbatasan gerak dikarenakan instrumen dan tubuh yang digunakan untuk berakting, hal ini seharusnya tidak menjadi halangan bagi musisi untuk berekspresi lewat gerak tubuh.

Gerak tubuh yang benar pun selain mampu memperdalam interpretasi musik juga dapat mencegah cedera dan postur yang tidak sehat. Di banyak institusi pendidikan musik dan kursus pendek, kini di AS dan Eropa banyak mengangkat topik Alexander Technique sebagai bagian yang direkomendasikan untuk dipelajari oleh musisi-musisi. Alexander Technique adalah pelatihan tubuh untuk postur dan kelenturan gerak yang kemudian dikaitkan dengan kondisi mental dan kesehatan.

Kini, mungkin sudah saatnya kita mengembalikan posisi tubuh sebagai agensi yang penting dalam kehidupan bermusik kita.

Alexander-Technique

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: