Kabar Terkini

Apa Itu Organisasi Non-profit dalam Seni?

Donate for a Charity or Charitable Cause

Melihat diskusi di Delfina Foundation tempat di mana kurator Alia Swastika menjalani residensi kali ini, terjadi sebuah diskusi dan pemaparan yang menarik yang membuat kita bertanya, apakah itu organisasi non-profit dalam seni? Pertanyaan ini susah-susah mudah dijawab terutama karena sudah terlanjur banyak salah kaprah terutama di bidang seni.

Ketika ditanya apakah organisasi seni rupa di Indonesia itu nirlaba (non-profit), kurator Alia Swastika pun kebingungan menjawab apakah organisasi seni rupa itu nirlaba atau for-profit dengan anggapan bahwa seni di Indonesia mengambil untung. Hal ini mengundang tanya banyak para hadirin, apakah organisasi seni Indonesia itu nirlaba atau for-profit.

Jawabannya sebenarnya adalah sederhana. Sebuah organisasi dianggap for-profit apabila dalam organisasi tersebut para pemilik saham atau stockholder kecipratan untung dari usaha yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Apabila ada dividen yang dibagikan kepada para pemilik saham, maka usaha tersebut adalah for-profit.

Organisasi nirlaba sejatinya adalah organisasi yang diawasi oleh dewan pengawas ataupun pembina, di mana pembina ini tidak menerima sedikitpun dari untung usaha tersebut. Pembina mengawasi dengan sungguh bahwa organisasi non-profit ini bekerja dengan efektif dan efisien demi tercapainya tujuan misi di awal yang tertuang dalam AD/ART. Dalam organisasi macam ini, tidak ada namanya pemilik saham, yang ada adalah dewan pembina (board member).

Lantas apakah organisasi nirlaba tidak mengupah ataupun malah mengupah di bawah standar, karena tidak memiliki profit? Tidak juga, nirlaba berhak untuk mengupah tenaga kerjanya dengan layak dan bahkan baik, tergantung dari kinerja perusahaan dan sejauh apakah dewan pembina percaya bahwa manajemen yang telah dibayar mahal ini telah dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Yang menjadi ukuran adalah mengenai kepatutan, seberapa besar biaya operasional yang layak untuk dampak yang dituju. Alhasil, adalah sebuah realita bahwa menjadi direktur eksekutif non-profit pun tidak akan jadi orang kaya, namun biasanya akan tergolong dalam kelas menengah yang tercukupi sebuah komunitas.

Tapi apakah organisasi nirlaba tidak bisa surplus dalam menjalankan operasinya? Jawaban singkatnya adalah organisasi nirlaba boleh surplus dalam menjalankan operasinya. Organisasi nirlababoleh menjual produknya dengan dengan harga yang lebih tinggi. Katakan biaya modal produksi adalah Rp.50.000, organisasi nirlaba boleh menjual Rp70.000. Selisih Rp20.000 dihitung sebagai pendapatan kotor. Biaya overhead/ongkos manajemen, pajak dan lain-lain Rp15.000. Sehingga pendapatan bersih dari produk ini adalah Rp5.000. Lalu, apakah pendapatan ini menjadikan organisasi ini for-profit? Jawabannya bukan dari selisih pendapat bersih Rp5.000 ini tapi apa yang kemudian dilakukan atas pendapatan bersih ini.

Organisasi akan menjadi organisasi for-profit apabila uang pendapatan bersih hasil produk organisasi kemudian dibagikan kepada para pemegang saham sebagai pemilik modal sebagai dividen. Rp.5.000 terebut akan pindah tangan. Meskipun perusahaan dapat menunda membagikan dividen, namun secara statuta perusahaan dijelaskan bahwa dividen tersebut adalah hak dari pemegang saham. Apakah kemudian dividen tersebut akhirnya diputuskan untuk ditanamkan kembali ke perusahaan, pemilik saham mengetahui bahwa ia memiliki sebagian dari perusahaan tersebut sebagai pemilik saham dan berhak menguangkan kepemilikannya atas organisasi tersebut.

Organisasi non-profit sebaliknya tidak mengenal kepemilikan organisasi. Organisasi adalah milik masyarakat dan komunitas yang dijalankan secara profesional dan diawasi oleh dewan pembina. Lantas kemana larinya Rp5,000 tersebut apabila uang tersebut bukan menjadi milik dewan pembina dan bukan pula milik manajemen organisasi. Uang tersebut harus ditanamkan kembali ke organisasi untuk kemudian mengembangkan organisasi tersebut agar tujuan organisasi dapat semakin baik tercapai. Badan hukum yayasan adalah sebuah badan nirlaba.

Dalam koridor ini, dalam seni rupa memang menarik. Apakah organisasi misalnya galeri ambil untung oleh penjualan lukisan yang bisa saja bernilai ratusan juta rupiah? Bisa jadi galeri tersebut mendapati pendapatan bersih karena penjualan lukisan tersebut. Pertanyaan tersebut akhirnya kembali ke persoalan apakah ada dividen dan kepemilikan saham di galeri tersebut yang akan mencicipi pendapatan bersih tersebut dan persoalan etika. Seni visual memang memiliki anomalinya tersendiri. Sebuah patung kecil bisa bernilai milyaran padahal bisa saja dibeli dengan modal awal 2 tahun lalu seharga Rp100juta. Pertanyaan berikutnya adalah ke manakah pendapatan bersihnya berlari, dialokasikan ke manakah? Kantong pribadi atau kantong umum?

Namun dari cara berjualan seperti ini, meski bertitel nirlaba bisa jadi titel non-profit tersebut dipertanyakan karena bersinggungan langsung dengan persoalan etika. Apakah etis sebuah karya seni naik nilainya hingga puluhan kali lipat hanya dalam dua tahun? Tidak ada jawaban pasti dan parameter pasti. Namun setidaknya secara badan hukum dan mekanisme organisasi ia sudah terhitung nirlaba.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Apa Itu Organisasi Non-profit dalam Seni?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: