Kabar Terkini

Memandang Kunci Industri Kreatif Indonesia


Beberapa hari terakhir ini adalah hari yang cukup melelahkan dan membuka mata. Meskipun berjarak dari Tanah Air, pertemuan beberapa hari ini penulis berkesempatan menemui beberapa pihak yang memegang peranan yang penting dalam perkembangan sektor ekonomi kreatif di Indonesia di London.

Kamis malam kemarin, Kedutaan Besar Republik Indonesia di London kedatangan tim dari Badan Ekonomi Kreatif yang sedang mempersiapkan sebuah kegiatan desain yang sedianya akan dilaksanakan pada paruh kedua tahun ini di London dan dihadiri oleh komunitas diaspora di Inggris. Sabtu ini pun penulis berkesempatan ikut serta dalam sebuah forum yang dilaksanakan di Warwick yakni Indonesian Scholar’s Forum yang diikuti oleh para peneliti Indonesia yang sedang menamatkan pendidikan maupun yang kini berprofesi sebagai akademisi di London. Acara ini didahului oleh sebuah talkshow yang dihadiri oleh Duta Besar RI untuk UK dan Irlandia Utara, Dr. Rizal Sukma dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia untuk Eropa dan Afrika, Dr. Endy Dwi Tjahjono.

Dari dua peristiwa ini, penulis dapat melihat seberapa jauh kondisi pengambil kebijakan Indonesia dan sinerginya dengan ekosistem ekonomi kreatif yang direpresentasikan oleh para cendekiawan Indonesia di Britania Raya.

Pertemuan Kamis bersama Badan Ekonomi Kreatif merupakan sebuah inisiatif yang patut diacungi jempol. Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif, Joshua Simanjuntak bersama tim bermaksud untuk mendengarkan aspirasi sekaligus masukan dan sharing kondisi ekonomi kreatif diaspora Indonesia yang berada di London. Niatan ini sungguh baik, terutama karena acara ini merupakan acara perkenalan pertama Badan Ekonomi Kreatif Indonesia dengan masyarakat konstituen Indonesia di Inggris Raya yang memiliki sejarah sebagai negara pencetus konsep ekonomi kreatif dan kini menjadi barometer ekonomi kreatif dunia. Acara ini juga menjadi sebuah cara untuk menjangkau para diaspora Indonesia untuk menjadi agensi penghubung industri kreatif dalam menjangkau pasar Eropa.

Badan Ekonomi Kreatif sudah terbentuk sejak awal tahun 2015 lalu namun baru terhitung efektif di kuartal ketiga dikarenakan persoalan birokrasi. Badan ini adalah sebuah inisiatif presiden Joko Widodo yang menjadi bagian dari kebijakan utama ekonomi sebagaimana disampaikan oleh Dubes Dr. Rizal Sukma dalam Warwick Indonesian Forum 2016 Sabtu ini. Namun yang terlihat di lapangan seakan ekonomi kreatif masih menjadi sebuah impian yang sangat jauh di awang-awang.

Inisiatif dari Bekraf untuk menggarap relasi dengan tim diaspora Indonesia yang disambut cukup antusias adalah hal yang patut dipuji, tetapi mengenai eksekusi di lapangan agaknya mengecewakan. Sebagai seorang professional pemasaran, penulis mampu melihat bagaimana kesiapan tim Pemasaran untuk menjangkau hadirin di KBRI London. Sebagai sebuah organisasi yang efektif masih baru dan berusia kurang lebih 6 bulan, Bekraf terlihat masih mencari bentuk bahkan untuk menjelaskan apa dan bagaimana organisasinya kini berjalan. Kesan pertama yang didapat bahkan menampakkan ketidaksiapan Bekraf untuk sekedar menjelaskan profil organisasi dan kemudian berinteraksi langsung dengan diaspora Indonesia di Inggris yang tentunya sangat krusial dalam establishing rapport dalam berbisnis. Niatan yang besar untuk merangkul diaspora agaknya tidak diikuti dengan kesiapan membentuk kesan pertama yang professional dalam melakukan presentasi.

Bekraf terasa tidak mengakar baik untuk publik Inggris maupun untuk publik Indonesia sendiri. Dengan cakupannya yang luas dan dalam kaitannya berinteraksi dengan masyarakat dibutuhkan bukan hanya sekedar bertanya, apa yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia di Inggris, tapi seharusnya juga siap untuk melontarkan sebuah wacana. Presentasi program pemerintah di taraf komunitas kreatif diaspora bukanlah sebuah diskusi terbuka, melainkan sebuah diskusi wacana yang harus didahului oleh pembuka diskusi, yakni Bekraf sendiri. Alhasil diskusi pun berakhir dengan berbagai ketidakjelasan, bahkan untuk mereka menjelaskan apa yang telah mereka lakukan harus didahului oleh pertanyaan spesifik dari para penonton, slide presentasi pun tidak ada, dan sekalipun ada tidak tentu jelas. Bahkan presensi Bekraf di mata penulis sebagai seorang marketer, tidak berhasil menimbulkan impact atau setidaknya brand yang melekat.

BekrafBekraf dapat dikatakan masih seperti organisasi yang masih bayi dengan kelengkapan struktural yang belum sepenuhnya terisi dan mengalami tantangan untuk memastikan seluruh program dapat berjalan baik, namun nampak ada kemajuan yang dibuat dalam program. Inisiatif pemerintahan Presiden Joko Widodo sebagaimana dijelaskan oleh Dubes Dr. Rizal Sukma dalam talkshownya di hari Sabtu pagi menggambarkan bagaimana pemerintah ingin mulai berfokus pada industri kreatif. Namun, ketika melihat presentasi Bekraf di hari Kamis 2 hari sebelumnya, tidak tampak kelengkapan dan kesiapan Bekraf terepresentasi dalam KBRI di London, belum lagi kelengkapannya di tingkat daerah di Indonesia. Fungsinya sebagai badan koordinasi terlihat hanya di level pusat tanpa kejelasan tanggung jawab di tingkat daerah. Bagaimana strategi keikutsertaan pebisnis Indonesia di London dalam kemitraan industri kreatif pun juga tidak terlihat meskipun Bekraf menyatakan fungsi mereka sebagai penghubung.

Mirisnya kondisi Bekraf dan kebijakan pemerintah soal ekonomi kreatif terefleksi dalam bagaimana forum cendekiawan Indonesia di Inggris dalam forum yang dilaksanakan Sabtu dua hari kemudian. Dalam forum yang diinisiasikan oleh Perkumpulan Pelajar Indonesia di Warwick, terlihat bagaimana ekonomi kreatif dan pengembangan seni dan budaya sebagai modal dasar ekonomi kreatif masih menjadi anak tiri.

Dalam focus group discussion, terlihat bagaimana cendekiawan kurator acara ini menempatkan topik ‘Agama, Seni dan Budaya’ dalam sebuah kelompok untuk merumuskan tujuan ke depan dan aktivitas apa yang akan akan diambil oleh akademisi ini. Sebuah ruang lingkup yang terlampau luas, namun menariknya hanya diikuti oleh 6 orang peserta dari lebih dari 100 orang peserta yang dibagi menjadi 7 kelompok peminatan. Dari sini dapat diambil kesimpulan terjadi ketidakseimbangan lingkup materi yang begitu besar, dengan kecendekiaan yang dicoba dibentuk.

Kelompok diskusi ekonomi pun menandakan kondisi yang tidak menguntungkan. Dalam diskusi yang diikuti oleh lebih banyak orang ini, dalam hasil diskusi cendekiawan Indonesia ini ternyata tidak terbersit ekonomi kreatif sebagai salah satu elemen pembentuk di dalamnya. Meskipun penulis tidak mengikuti jalannya diskusi di dalam FGD kelompok ini, terlihat bagaimana strategi pemerintahan Jokowi dalam membangun ekonomi kreatif sebagai salah satu strategi utama bertolak belakang dengan prioritas ekonomi dalam diskusi cendekiawan ekonomi di dalamnya. Ekonomi kreatif tidak termasuk dalam prioritas sektor ekonomi yang dibedah para cendekiawan ini.

Dari tiga acara yang terjadi dalam tiga hari ini, dapat ditarik kesimpulan bagaimana posisi ekonomi kreatif dalam perpetaan Indonesia di Inggris. Kelemahan Bekraf dalam mengkampanyekan pentingnya posisi mereka di mata diaspora Indonesia di Inggris juga tercermin dalam bagaimana peminatan dan prioritas cendekiawan Indonesia yang tergabung dalam Indonesian Scholars’ Forum tahun ini. Meskipun dalam hal ini penulis mengenal langsung beberapa penggerak ekonomi kreatif Indonesia di Inggris yang hadir maupun tidak hadir dalam acara ini, representasi dua acara ini bisa menjadi catatan bagaimana jalan ekonomi kreatif di Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang sangat panjang.

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Memandang Kunci Industri Kreatif Indonesia

  1. andreasarianto // 13 Maret 2016 pukul 3:01 pm //

    Idenya visioner tapi perangkatnya masih menggunakan cara pikir lama, jd masih gagap utk memahami gmn seharusnya potensi ekonomi kreatif ini dikelola dan dikembangkan ya. Di dlm negeri pun jg kiprah mereka gak kedengeran oleh lingkungan pekerja industri kreatif kok. Kalo alasannya masih ngumpulin wacana, kapan geraknya? Wacana mulu, pdhl yg ditunjuk bukan dari kalangan PNS tp dari pekerja seni dan pengusaha. Tapi gak semua pekerja seni ngerti pemikiran industri, dan gak semua pengusaha melek akan gmn potensi industri kreatif bisa dilengkapi lg roda giginya.

  2. Gw bilang sebenernya bukan mereka belum bekerja, beberapa langkah yang mereka lakukan sudah cukup konkret. Namun perputaran informasi dan bagaimana mereka menggali potensi serta memajukan diri belum terlihat terlihat maksimal, terutama mengingat saat2 awal seperti ini krusial untuk menarik dukungan dan simpati penggerak ekonomi kreatif diaspora seperti di London yang bisa jadi dapat berperan sebagai kunci penghubung dgn pasar yg lbh luas. Lucunya keterbatasan di sisi pemerintah, ga terlihat dapat ditambal oleh peran cendekiawan yg sepertinya blm menjadikan ekonomin kreatif sebagai salah satu fokus mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: