Kabar Terkini

MCUC Tampil di Konferensi Amerika Serikat: Wawancara Agustinus Bambang Jusana


Maranatha Christian University Choir baru saja kembali dari tur 3 minggunya di Amerika Serikat. Kegiatan mereka saat ini pun sedikit berbeda dari kebanyakan kegiatan berpaduan suara yang sering berfokus pada kompetisi luar negeri. Kali ini, musicalprom mewawancarai Agustinus Bambang Jusana atau biasa dipanggil Mas Bemby, konduktor dan pelatih MCUC, mengenai keberangkatan mereka untuk menjadi paduan suara tamu dalam konferensi paduan suara bergengsi di Amerika Serikat.


M (Michael): Selamat ya, Mas Bemby atas prestasinya bersama Maranatha Christian University Choir baru-baru ini tampil di The 2016 ACDA Western Division Conference di Pasadena, California AS. Biasanya kita sering mendengar paduan suara Indonesia menang di kompetisi internasional, tapi sepertinya acara yang diikuti kali ini berbeda. Konferensi WDACDA ini konferensi apa ya Mas?
B (Mas Bemby): Konferensi WDACDA adalah konfrensi para choral director (pemimpin paduan suara) Amerika bagian barat. Ini merupakan konferensi rutin yg diadakan asosiasi choral director di Amerika sebagai wadah pertemuan para konduktor Amerika dari level sekolah dasar hingga universitas untuk berkomunikasi serta saling membangun. Penyelengaraan konferensi ini berselang dimana tiap tahun genap diadakan per wilayah dan setiap tahun ganjil untuk tingkat nasional.

M: Rangkaian acara apa saja yang diikuti Maranatha Christian University Choir dalam konferensi ini? Saya dengar juga sepertinya ikut semacam tur pertunjukan. Ke mana saja Mas?
B: MCUC diundang khusus untuk tampil dan memberikan semacam seminar tentang musik paduan suara Indonesia lewat beberapa contoh karya musik paduan suara Indonesia. Namun kami juga diundang oleh beberapa sekolah dan universitas untuk melakukan konser dan seminar singkat yang diberikan kepada murid dan pihak instansinya. Beberapa sekolah dan instansi yang kami hadiri antara lain adalah Bakersfield Community College beserta untuk sekolah lanjutnya (setara SMP dan SMA), Biola University serta beberapa gereja di wilayah LA dan Monterey, California. Kami berinteraksi dalam beberapa kelas musik di sekolah itu seperti kelas musik internasional dan kelas interpretasi musik.

Maranatha Choir2

M: Bisa berceritakah bagaimana kisahnya Maranatha Christian University Choir bisa ikut serta acara ini?
B: Tahun lalu salah satu mantan presiden WACDA berkunjung ke Indonesia dan menyaksikan suatu festival paduan suara di Bali yang digelar oleh Bandung Choral Society, dalam kunjungan itu beliau sangat kagum dengan kemajuan paduan suara di indonesia yang menurut beliau tidak banyak diketahui oleh banyak musisi di Amerika dan beliau termotivasi untuk dapat membagikan hal ini ke komunitas paduan suara di Amerika. Salah satunya adalah agar musik komposisi paduan suara Indonesia serta musik folklore nya dapat dikenal di AS karena belum banyak yang mengetahui tentang keindahan musik komposisi karya komponis-komponis Indonesia. Lewat proses audisi MCUC mendapat undangan untuk menjadi duta Indonesia dalam mempromosikan misi ini. Dan event WDACDA inilah merupakan waktu yang sangat baik, momen berkumpulnya para konduktor Amerika Serikat.

M: Tujuan yang Mas sendiri targetkan dalam acara ini apa saja ya Mas?
B: Tentu ini adalah hal yang pertama bagi paduan suara Indonesia diundang untuk tampil dalam event penting ini. Sehingga tujuan kami adalah menjadi paduan suara yang dapat memberikan gaung awal tentang musik paduan suara Indonesia. Waktu yang diberikan memang sangat terbatas tapi kami berupaya untuk dapat memberikan kesan yang baik bagi para konduktor Amerika untuk nantinya menggali dan mengeksplorasi musik Indonesia di masa yang akan datang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

M: Menurut Mas apa yang dapat ditarik Mas oleh Maranatha Christian University Choir dengan pengalamannya mengikuti acara ini?
B: Hal yang penting bagi kami adalah untuk dapat selalu mengerti bahwa sebagai insan musik Indonesia kita tidak hanya dituntut untuk membangun prestasi yang baik bagi keharuman nama bangsa Indonesia tetapi juga dituntut untuk dapat menjadi duta negara yang membawa jati diri dan kebudayaan kita Indonesia untuk berinteraksi dengan bangsa lain. Musik adalah bahasa yang universal namun di dalamnya tetap terkandung jati diri setiap insannya. Dalam acara ini tidak ada piala yang kami perebutkan, tetapi kami tetap dituntut untuk tampil prima karena lewat event inilah kami berkesempatan untuk memperkenalkan keindahan dan keagungan negeri kita tercinta lewat bahasa musik. Dan untuk itu kami diingatkan selalu untuk menjadi rendah hati untuk dapat berinteraksi dengan budaya lain dan membangun rasa kebersamaan lewat musik untuk menciptakan kesatuan dalam perbedaan.

M: Bagaimana dengan respon penonton di sana, Mas? Terutama melihat Maranatha Christian University Choir adalah paduan suara universitas dan tidak punya jurusan musik secara khusus dan ditonton para penggerak paduan suara di AS?
B: Tentu inilah yang menjadi salah satu kekaguman mereka. Kita tampil dalam auditorium besar yg disaksikan oleh kurang lebih 3000 orang. Di akhir penampilan hampir seluruh penonton memberikan standing ovation mereka. Banyak dari mereka yang menyatakan kekagumannya lewat bincang2 setelah acara dan terinspirasi lewat bagaimana secara umum komitmen yang dimiliki paduan2 suara Indonesia dalam mengejar standar artistik lewat jalur hobi. Ini adalah hal yang unik bagi mereka.

M: Pertimbangan seperti apa yang Mas ambil untuk mengikuti acara konferensi seperti ini dibanding dengan mengikuti kompetisi seperti yang sudah-sudah? Apakah ada nilai-nilai lain yang mas coba tekankan agar dipetik peserta paduan suara dalam mengikuti acara ini?
B: Saya rasa kompetisi adalah hal yang sangat disukai oleh paduan suara di Indonesia. Ini hal yang baik untuk membangun suatu standar artistik. Namun pada akhirnya musik bukanlah suatu kompetisi, musik adalah bahasa yang kita pakai untuk berkomunikasi secara universal, bahasa yang dapat dikomunikasikan kepada seluruh umat manusia walau berbeda bangsa. Seperti halnya kita mempelajari bahasa untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan benar maka seperti itulah musik harus dipelajari. Tanpa kita dapat menguasai bahasa musik maka kita tidak dapat memakai musik sebagai alat komunikasi yang baik. Musik itu indah, dan saya rasa tidak ada orang di dunia ini yang tidak menyukai keindahan. Keindahan dapat meluluhkan kebencian atau kesalahpahaman. Maka menurut saya, event seperti ini sangat baik karena lebih mengedepankan tentang interaksi yang dibuat lewat keindahan musik. Kami belajar tentang budaya Amerika dan juga kami membagikan keindahan budaya Indonesia dalam interaksi yang indah.

M: Karena sepengetahuan saya dalam konferensi seperti ini dan tur tidak ada menang kalah dan tidak ada gelar juara yang diperebutkan, bagaimana proses meyakinkan berbagai pihak Mas untuk mengikuti acara seperti ini yang agaknya berbeda dengan kegiatan kompetisi biasa?
B: Seperti yg saya katakan sebelumnya bahwa kompetisi adalah alat untuk kita bertumbuh dan menjadi semakin baik tetapi tujuan akhirnya adalah terbentuknya interaksi yang terbangun lewat kegiatan itu. Kami tidak memperebutkan atau pulang membawa piala, tetapi sudah pasti kami memiliki teman baru dan “keluarga” dalam musik. Itu tentu sangat lebih berarti dari piala.

M: Adakah kiat-kiat khusus Mas untuk mempersiapkan paduan suara kali ini, terutama dengan format yang berbeda dan bukan berbentuk kompetisi?
B: Hal yang terutama adalah kami dituntut menjadi seorang duta, jadi selain persiapan musik kami juga membangun pengetahuan kami tentang identitas kami sebagai Indonesia untuk kami bagikan kepada orang-orang yang kami temui.

M: Bolehkah dibagikan rencana ke depan dari Mas sendiri sesudah konferensi ini, terutama untuk Maranatha Christian University Choir yang Mas pimpin?B: Program MCUC selalu ingin membangun kualitas musik yang baik, tetapi kami ingin membangunnya dengan perkembangan mental penyanyi yang memiliki kerendah hatian dan semangat untuk membangun bersama.

Terimakasih Mas atas waktunya sudah bersedia berbagi dengan rekan-rekan pembaca A Musical Promenade. Sukses selalu, Mas Bemby dan MCUC.

Maranatha Choir6

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: