Kabar Terkini

Jalan Paduan Suara Menuju Roma


Dalam dunia berpaduan suara, setiap paduan suara berjuang untuk dapat bertahan dalam ruang lingkupnya. Tidak sedikit pula yang melihat bahwa salah satu titik penting untuk dapat bertahan adalah dengan menjaga tujuan dari organisasi paduan suara itu sendiri baik di dalam organisasi internal maupun perannya terhadap beragam komponen eksternal.

Dalam tulisan ini, satu per satu metode untuk mencapai maupun mempertahankan keberlangsungan kegiatan paduan suara akan dikupas, masing-masing jalan ini bisa diambil dan bisa dikombinasikan dengan jalan yang lain sebagai bentuk diversifikasi. Untuk melihat jalan tersebut, segitiga project management akan saya jadikan acuan dalam melihat jalan yang diambil tersebut.

Segitiga manajemen proyek adalah sebuah diagram akan tiga konstrain/keterbatasan yang dikembangkan untuk mengelola proyek. Katakanlah sebuah paduan suara adalah pengelolaan berbasis proyek dengan tujuan tertentu dan disertai pula dengan batas waktu yang harus dicapai. Keterbatasan dalam pengelolaan proyek adalah lingkup produk, waktu pengerjaan dan harga. Lebih jelasnya dalam dilihat dalam standar Project Management Book of Knowledge.

  1. Berprestasi di dalam kompetisi
    Berpretasi dalam kompetisi baik kompetisi dalam negeri maupun internasional adalah langkah nyata untuk mempertahankan popularitas dan relevansi. Jalan ini dapat dikatakan sebagai jalan yang paling cepat untuk ditempuh dan membutuhkan waktu yang paling sedikit namun harus didukung dengan pendanaan dan juga kualitas produk yang baik. Cara ini adalah cara yang paling sering diambil oleh banyak paduan suara di Indonesia untuk mampu secara cepat membuktikan kualitas mereka. Jalan ini cukup berisiko dikarenakan keberangkatan mengikuti kompetisi tidak serta-merta diikuti oleh prestasi.
    Meskipun melibatkan kreativitas dalam menyusun program, kreativitas dan lingkup kerja yang luas tidak serta merta menjadi unggulan dikarenakan kompetisi lumayan diregulasi secara ketat dari segi pertunjukan, dan bahkan dalam menyusun program.Kualitas produk paduan suara pun dikonsentrasikan untuk mengejar poin penilaian yang ada di dalam borang/form dewan juri. Meskipun demikian program ini terbukti tercepat dalam melambungkan nama paduan suara dan adalah cara favorit banyak paduan suara saat ini dan mendapatkan dukungan banyak pihak seperti pemerintah, pelindung (organisasi induk perusahaan, sekolah). Kerangka ini dapat tergolong sebagai kegiatan yang cost intensive.
  2. Kegiatan yang menjangkau
    Kegiatan yang menjangkau dapat menjadi salah satu jurus untuk meraih pengakuan dan juga relevansi. Jangkauan dalam konteks ini bukan berada dalam spektrum harga namun dengan cara mengembangkan program-program kreatif yang mampu menjangkau audiens yang lebih banyak. Kegiatan paduan suara bisa jadi tidak hanya terfokus pada aktivitas di atas panggung pertunjukan maupun panggung kompetisi namun juga berani merambah bidang-bidang lain seperti pendidikan dan bahkan kesehatan dan layanan masyarakat.
    Paduan suara seperti ini bisa jadi membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk mendapat pengakuan dan bisa jadi memiliki set penilaian yang sangat beraneka ragam. Maka dari itu strategi ini lebih tergolong sebagai scope intensive.
    Kegiatan ini pun tidak serta-merta mendatangkan nilai positif langsung terhadap kegiatan perpaduan uaraan karena diversifikasi produk adalah sebuah usaha yang intensif terhadap pengembangan produk paduan suara itu sendiri. Misalnya dengan merancang program pendidikan usia dini dan mungkin pelayanan masyarakat ke panti jompo dan serentetan kegiatan lainnya seperti inisiatif mendukung opera seperti yang dilakukan BMS dalam beberapa waktu terakhir. Kegiatan dan program inovatif menjadi jalan untuk menjaga relevansi dengan menjangkau kegiatan-kegiatan perpaduan suaraan lain yang khusus pada ceruknya sendiri, misalnya paduan suara tuna netra.
  3. Konsisten dan bertahan
    Langkah ini adalah langkah yang time intensive dikarenakan komitmen dalam waktu panjang untuk tetap konsisten berkarya tentu memakan waktu lama. Pun kualitas produk tidak serta-merta terus bertahan. Namun yang pasti konsistensi ini akan memakan investasi uang yang tidak sedikit. Banyak paduan suara bertahan bukan karena kualitas ataupun dikarenakan program mereka yang inovatif, melainkan karena mereka konsisten terus berkarya selama beberapa ratus tahun.
    Banyak paduan suara dalam negeri pun kini juga mengandalkan keberlangsungannya yang panjang tanpa dihiasi gelar-gelar juara maupun inovasi-inovasi dalam kegiatan mereka. Hal ini bisa jadi adalah hal yang sulit untuk dipertahankan di masa kini, terutama karena banyak audiens mengharapkan hasil yang instan dan cepat. Organisasi seperti banyak opera regional di Italia dan paduan suara gereja dapat dikenal hanya karena konsistensi berkarya. Kualitas pertunjukan dan inovasi kegiatan tidak tentu nomor satu, demikian juga tidak banyak memenangkan gelar juara, namun  karena konsisten orang mengetahui sepak terjangnya.

Tulisan ini hanya menganalisa sebagian kecil dari langkah yang diambil berbagai organisasi paduan suara. Namun demikian, langkah-langkah ini dapat dikombinasikan dengan seimbang sesuai dengan visi dari organisasi. Namun demikian pentingnya diversifikasi dalam menggarap paduan suara juga harus disadari, tidak bisa melulu bertahan hanya di satu strategi saja.

Swingle Singers sebagai foto fitur di atas telah bertahan lebih dari 50 tahun sebagai sebuah kelompok vokal group. Bukan karena mereka telah memenangkan kompetisi saja namun juga karena mereka bertahan lama, konsisten dan bahkan merambah dalam berbagai bentuk seperti mengkurasi festival dan banyak kegiatan jangkauan lain. Bahkan kini setelah pendirinya meninggal dan tidak ada anggota asli dari tahun 1962, kelompok vokal ini tetap bertahan.

Mungkin ada kalanya paduan suara merumuskan kembali apa tujuan dan apa visi misinya, dalam proses ini dapat ditangkap kombinasi strategi apakah yang ingin diambil oleh beragam organisasi, termasuk manfaat dan mudaratnya.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: