Kabar Terkini

Apa Kabar Pendidikan Musik Indonesia?


Saya berkesempatan datang ke konferensi yang diadakan oleh Society of Education, Music, and Psychology Research (SEMPRE) di Senate House, University of London pada tanggal 14-15 Maret 2016. Konferensi tersebut bertajuk Researching Music, Education, and Technology. Konferensi ini dihadiri oleh para pendidik musik dan peneliti yang tertarik pada dunia pendidikan musik dari berbagai negara, yaitu Inggris, Spanyol, Italia, Amerika, dan Kanada. Apa yang dibahas adalah mengenai teknologi-teknologi yang dibuat oleh para peneliti untuk mengajarkan musik, efektivitas dalam mengajarkan musik, penampilan musik, dan integrasi musik pada pelajaran-pelajaran di sekolah. Setiap presentasi, saya kagum dengan betapa banyak media yang bisa dipakai untuk menerima pendidikan musik, tidak hanya melalui tatap muka guru dan murid. Dari kekaguman saya, muncul pertanyaan di benak saya “bagaimana pendidikan musik di Indonesia?”.

Tulisan ini saya buat berdasarkan hasil refleksi saya sebagai seseorang yang menerima pendidikan musik di Indonesia. Dari sekolah dasar sampai semester awal kuliah saya mendapatkan pelajaran seni musik, di luar sekolah saya mengikuti les keyboard, dan semasa kuliah saya mengikuti les privat flute. Saya tidak pernah secara formal mengajar musik kepada orang lain, sehingga pengetahuan saya mengenai pendidik musik berdasarkan observasi dan informasi dari teman-teman saya yang menjadi guru musik, serta apa yang saya pelajari di kelas selama saya kuliah dan konferensi yang saya hadiri. Saya akan mencoba memadukan apa yang saya dapat dalam konferensi SEMPRE dan apa yang saya rasakan dan saya rasa baik dilakukan di sekolah-sekolah Indonesia maupun institusi musik.

IMG_1512.JPG

Pendidikan Musik di Sekolah

Bagi yang mengikuti pendidikan sekolah dasar di Indonesia, pasti pernah merasakan bermain rekorder atau pianika. Anak-anak seakan-akan tidak diberikan pilihan untuk memainkan alat musik yang disukainya dan ‘dipaksa’ bisa bermain rekorder atau pianika untuk mendapatkan nilai. Berdasarkan pengalaman saya ketika melakukan kegiatan sukarela dengan flute choir University of Sheffield di sekolah dasar, anak-anak dari kecil diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi alat-alat musik yang ada dengan melihat penampilan-penampilan musik. Pada saat itu, saya dan teman-teman saya bermain flute di depan anak-anak serta memberikan informasi apa itu flute kepada anak-anak. Anak-anak tampak antusias karena beberapa dari mereka baru pertama kali melihat instrumen flute. Dari situ saya menyadari bahwa apa yang sekolah tersebut lakukan adalah mencoba membuat anak-anak berminat dengan musik dan memberikan informasi apa saja alat-alat musik yang bisa dimainkan.

Dalam konferensi SEMPRE, saya mendapatkan informasi bahwa anak-anak dapat mengeksplorasi musik lebih jauh menggunakan teknologi terkini. Misalnya musik tidak hanya sekedar bermain alat musik saja, tetapi juga bisa mengedit suara dengan menggunakan program-program musik di komputer. Sebuah sekolah di Spanyol mencoba mengaplikasikan sebuah materi pelajaran di mana murid-murid merekam suara-suara disekeliling mereka, melakukan pengeditan suara, dan membuat musik dari situ. Misalnya murid-murid merekam suara alat musik, suara langkah kaki, suara air mengalir, dan suara seseorang mengetik. Kemudian suara-suara tersebut digubah untuk menjadi sesuatu yang enak didengar. Murid-murid ditantang untuk membuat definisi baru tentang musik dan menggubah sesuatu yang enak didengar orang-orang.

Menurut saya hasil yang dipresentasikan di SEMPRE tidak sepenuhnya langsung bisa diaplikasikan di Indonesia. Tetapi dalam hal penggunaan teknologi untuk mengajarkan musik, ada yang mungkin dilakukan di Indonesia. Misalnya untuk meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan minat anak-anak terhadap instrumen musik, guru bisa menggunakan video-video di youtube untuk ditampilkan di kelas. Salah satu program yang baru saja dilakukan oleh Addie MS dan Twillite Orchestra dengan bermain orkestra di depan anak-anak usia sekolah merupakan salah satu contoh kegiatan yang baik untuk meningkatkan minat terhadap musik. Tetapi bila dengan teknologi semua mendapatkan pengalaman untuk memahami musik lebih dalam meskipun tidak secara langsung, hal ini bisa digunakan untuk meningkatkan minat untuk bermusik pada anak-anak.

Mengajarkan Musik kepada Individu

Isu lain yang menurut saya menarik dan juga dibahas di SEMPRE adalah mengenai metode pengajaran musik dari guru kepada murid dan apa yang perlu guru musik kembangkan sebagai pendidik. Salah satu yang dibahas adalah mengenai metode pengajaran secara online dengan menggunakan fasilitas seperti skype atau google hangout. Kemajuan teknologi di negara-negara maju memfasilitasi siswa-siswa musik untuk dapat belajar musik dari sang maestro. Bayangkan ketika Anda adalah seorang pemain biola dan dapat belajar dari Joshua Bell, dengan teknologi yang ada seakan-akan Anda tatap muka langsung dengan beliau. Padahal Anda berada di Indonesia dan Joshua Bell tetap di Amerika.

Berdasarkan penelitian-penelitian mengenai online learning, ternyata banyak yang perlu dipertimbangkan untuk melakukan pengajaran online. Seorang peneliti dari Queen Mary University of London berusaha mencari tahu hambatan-hambatan yang dihadapi pendidikan musik online dan membandingkan dengan metode tatap muka. Guru musik yang mengajar secara online sulit untuk mengoreksi postur tubuh muridnya ketika sedang bermain. Guru juga tidak bisa melihat langsung partitur yang dipakai murid, apalagi jika menggunakan partitur dengan edisi yang berbeda. Hal teknis seperti koneksi internet juga bisa menghambat proses belajar-mengajar. Metode mengajar tatap muka antara murid dan guru secara privat masih dianggap sebagai cara paling efektif untuk mengajarkan instrumen musik kepada murid-murid.

Para pendidik musik baik secara online maupun tatap muka langsung juga perlu memahami keadaan muridnya untuk bisa mencapai potensinya dan hasil belajar yang maksimal. Seorang peneliti dari Institute of Education University College London mempresentasikan penelitiannya dengan teori zone of proximal development dari Lev Vygotsky. Berdasarkan teori tersebut, guru harus memahami actual developmental level dari murid (kemampuan murid pada saat itu) dan kemudian membantu serta meningkatkan kemampuannya untuk bisa mencapai potential level (kemampuan murid yang dapat dicapai). Contohnya seorang anak mempelajari musik dari grade 2 dan mulai mahir memainkan lagu-lagu yang ada. Lalu anak tersebut dilihat memiliki kemampuan untuk meningkat ke grade 3, maka guru membantu untuk bisa mencapai grade 3. Ekspektasi guru tidak boleh terlalu rendah ataupun terlalu tinggi terhadap kemampuan murid. Jika terlalu rendah maka murid akan merasa bahwa musik yang dimainkannya mudah dan kemampuannya tidak berkembang. Jika terlalu tinggi maka murid dapat stres karena merasa tidak bisa memainkan apa yang diharapkan.

the-zone-of-proximal-development

Oleh karena itu guru perlu tahu apa tujuan dari murid bermain musik. Saya ingat ketika belajar bermain flute, guru saya bertanya apa tujuan saya belajar flute. Saya tahu ketika saya berharap untuk menjadi musisi profesional, ekspektasi guru saya akan berbeda dibandingkan jika bermain musik sebagai hobi. Murid sebaiknya memahami apa hasil yang diharapkan dari berlatih musik dan guru berusaha mengakomodir kebutuhan murid. Hal ini memang lebih mudah untuk dilakukan bila melakukan pendidikan musik secara privat dibandingkan bila pendidikan musik dalam kelas, apalagi bila kelas yang besar.

 

Masa Depan Pendidikan Musik Indonesia

Mengintegrasikan teknologi untuk melaksanakan pendidikan musik di Indonesia, baik yang dilakukan oleh sekolah umum, tempat les musik, maupun privat, mungkin memang masih memerlukan proses dan tidak bisa serta merta diaplikasikan begitu saja. Menurut saya perlu adanya penelitian secara komprehensif mengenai pendidikan musik di Indonesia untuk mengetahui apa saja yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan musik di Indonesia. Saya pribadi masih memiliki banyak pertanyaan mengenai musik di Indonesia, seperti seberapa banyak orang yang berminat untuk belajar musik di Indonesia, bagaimana musik masuk dalam kurikulum pendidikan, dan apakah guru sudah terfasilitasi untuk melakukan proses belajar mengajar yang efektif. Saya yakin Indonesia memiliki potensi dan sumber daya yang memadai, sekarang yang perlu dicari tahu adalah bagaimana memaksimalkan semua potensi yang ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: