Kabar Terkini

Menjelajah Alam, Menggugah Sukma bersama LA Philharmonic


Menjelajah alam lewat petulangan bunyi, dimensi pun bercampur aduk membaur dalam nuansa bunyi. Kicau burung dan denting misteri angkasa bercampur dalam dialog yang dinamis. Dari tangan seorang komponis, penonton dibawa masuk ke dalam ngarai terdalam dan memandang langit yang bertabur bintang. Desir angin menyisir telinga dan membisikkan keagungan alam raya. Terik matahari gurun berbaur dengan gemerisik dedaunan.

Ditulis untuk merayakan 200 tahun Amerika Serikat, sang komponis terbang dari rumahnya di Paris untuk kemudian mengalami langsung dan menggali keindahan alam Bryce Canyon di negara bagian Utah, AS. ‘Des canyons aux étoiles…’ yang ditulis tahun 1972 hingga 1974 merupakan karya komponis Olivier Messiaen yang deskriptif namun juga simbolis. Sebagai seorang ornitholog (ahli satwa burung), kicau burung menjadi ciri khas dalam karya-karyanya. Namun baginya kicau burung dan keindahan alam bukanlah sebuah keindahan yang berdiri sendiri. Bagi Messiaen, semuanya ini menjadi wujud keagungan Ilahi yang ia yakini. Seorang Katolik yang taat, bagi Messiaen karya ini bukan hanya sebagai sebuah ekspresi dan interpretasi namun sebagai sebuah bentuk permenungan. Dengan bentuk palindrome 5-2-5, karya 70 menit ini dibagi menjadi 3 babak dan 12 bagian. Gelapnya perut bumi di Cedar Breaks dijawab dengan kemilau langit, dan berbalas dengan keindahan Bryce Canyon yang kejinggaan dan Zion Park yang menggugah.

Hari ini adalah hari kedua residensi Los Angeles Philharmonic dipimpin konduktor Gustavo Dudamel di Barbican Centre. Dengan tema residensi ‘American Soundscapes’ memikat, di hari kedua ini karya Messiaen yang abstrak namun bersifat symphonic poem (karya instrumental deskriptif) ini, menjadi pilihan mereka menjelajah ruang dan suara. Lantai panggung dihiasi lampu-lampu yang kemilau yang ditata oleh Seth Reiser, sedang di belakang orkestra video pemandangan di ngarai yang menjadi inspirasi karya ini ditampilkan dan menghiasi panggung selaras dengan pergerakan musik yang dimainkan oleh orkestra ini. Panggung pun bermain cahaya dan video pemandangan karya Deborah O’Grady sungguh mencengangkan yang memberi gambaran langsung keagungan pemandangan yang menjadi inspirasi sekaligus terinspirasi oleh karya Messiaen ini. Temaram dan cerah berpadu silih berganti dengan warna-warna panggung yang indah, sesekali gambar menengadah ke langit, sesekali menjelajah ngarai, sesekali memandang keindahan burung-burung yang hidup di area tersebut dan juga menangkap dedaunan yang bergerak.

LA Phil1Turun dengan format gesek yang tergolong kecil, orkestra dihiasi pemain tiup kayu dan perkusi yang berlimpah. Joanne Pearce Martin (piano), Andrew Bain (horn), James Babor (xylorimba), dan Raynor Carroll (glockenspiel) solois malam ini. Orkestra tampak gegap dan gagah meski Messiaen tidak menampakkan gelegar megah dan agung. Justru dalam kerincian suara dan penataannya, karyanya ini menampakkan keagungan yang semarak. Di awal karya sempat terasa bahwa Gustavo Dudamel menahan laju karya sehingga terasa agak lamban dan berat. Ruangan yang gelap dan dihiasi temaram bintang di layar mengundang kantuk, namun musik Messiaen memang memiliki magnetnya tersendiri. Dengan mata tertutup dan orkestrasi yang jarang, tetap terasa sebuah pulsasi stabil yang melandasi setiap gerakan. Tanpa visual pun bagian ini pun dibawakan dengan menghanyutkan. Namun demikian menuju akhir, Messiaen mengolah karya ini dengan seksama, memberinya berlapis-lapis suara yang multi interpretasi, menimbulkan tanya namun juga menjadi jawab. Terlebih keindahan video O’Grady menjadi daya tarik yang membius sekaligus memberi narasi tersendiri.

Los Angeles Philharmonic malam ini terlihat gegap. Barisannya rapih terkembang dan terdengar fasih. Sesekali kecemerlangan dan warna dimainkan dengan begitu menawan dan menggairahkan, sesekali sederhana dan lamat. Suara dan resonansi berpadu dan kekayaan harmonik yang tak terduga menjadi makanan jiwa sekaligus intelektual yang tiak mudah untuk dicerna. Gustavo Dudamel pun memimpin dengan ringkas dan sangat jelas. Aba-abanya jelas dan tidak banyak basa-basi, suatu hal yang dibutuhkan untuk musik yang kaya kompleksitas seperti ini.

Sejenak Barbican diterbangkan ke alam rimba namun juga ke mengintip ke dalam spiritualitas seorang Messiaen, sebuah perziarahan di malam Rabu ini.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: