Kabar Terkini

Ranking Institusi Pendidikan Seni, Bagaimana Bersikap?


Ranking institusi pendidikan seni pertunjukan yang diluncurkan minggu lalu oleh QS TopUniversities.com (berita di sini) mendapatkan banyak perhatian dari penggerak seni di Indonesia. Mungkin ada yang bertanya-tanya apa saja yang dipakai sebagai parameter penilaian pemeringkatan institusi pendidikan seni pertunjukan.

Pemeringkatan dalam sistem QS berdasarkan subyek/bidang studi ini berbeda-beda sesuai dengan karakteristik bidang studinya. Bidang studi seni pertunjukan diakui oleh QS tidak bersandar pada jumlah publikasi akademis sehingga kriteria ini meski diberlakukan untuk subyek lain, tidak diberlakukan bagi studi seni baik seni rupa dan desain juga di bidang seni pertunjukan. QS pun juga memberi bobot penilaian yang berbeda untuk masing-masing kriteria, berikut lengkapnya:QS Weightings

  1. Reputasi Akademik (bobot 90%)
    Website QS mencatat bahwa di tahun 2016 ini mereka mensurvey 76,798 orang akademisi dan menanyakan dalam bidang yang mereka kuasai/garap. Mereka diminta untuk menyebutkan 10 institusi dalam negeri dan 30 institusi luar negeri yang memiliki reputasi ternama untuk bidang yang mereka kuasai tersebut dan mereka tidak diperkenankan menulis institusi mereka sendiri.
  2. Reputasi di mata pemberi kerja (bobot 10%)
    Dalam tahun 2016 ini, QS mewawancarai 44,426 pemberi kerja. Mereka juga diminta untuk menyebutkan 10 institusi dalam negeri dan 30 institusi luar negeri yang lulusannya mereka sebut sebagai baik dan mereka inginkan dalam bursa kerja. Mereka juga diminta untuk menyebut dalam bidang apa lulusan ini akan direkrut.

Untuk subyek seni pertunjukan, metodologi semacam ini memiliki keterbatasannya sendiri sehingga tidak serta merta memberikan gambaran yang cukup luas dalam menilai institusi pendidikan seni pertunjukan.

Responses QSReputasi akademik dalam bidang seni pertunjukan umumnya tercermin dalam kualitas penelitian maupun kualitas pengajaran dan lulusan. Dikarenakan seni pertunjukan tidak banyak tersentral pada publikasi penelitian, reputasi ini bertumpu pada kualitas pengajaran dan lulusan yang dihasilkan. Semakin banyak institusi tersebut menelurkan lulusan, semakin besar peluang eksposur institusi tersebut di luar organisasi. Semakin tua organisasi tersebut dan menelurkan lulusan-lulusan yang mampu mendapatkan reputasi sebagai seniman berkualitas, semakin tinggi pula reputasi institusi tersebut.

Reputasi ini juga perlahan dapat dibangun dari ambisi institusi pengajaran untuk merekrut pengajar-pengajar terbaik. Organisasi yang mampu menyedot tenaga-tenaga seniman bintang untuk kemudian menjadi pengajar, meskipun tidak tentu memiliki kualitas yang baik sebagai pengajar, tetap mampu mendorong reputasi institusi. Kriteria reputasi ini pun juga perlu dikaji lebih lanjut karena di beberapa negara, justru konservatori dan sekolah tinggi seni tidak masuk hitungan, justru malah universitasnya kota tersebut yang program seninya tidak seberapa mencengkeram yang terdengar, dikarenakan mungkin terbitan ataupun studi risetnya lebih terdengar dibandingkan seniman-seniman yang ditelurkannya.

Di sisi lain, spesialisasi yang kuat juga lebih mempemudah organisasi tersebut terdengar di luar negeri, sebuah hal yang penting dalam metode pemeringkatan ini. ISI Surakarta dengan spesialisasinya yang kental pada studi dan praktik gamelan Jawa khususnya tradisi Surakarta tampaknya menolong organisasi ini untuk meraih reputasi yang cukup kuat dibanding sekolah tinggi lain di Indonesia.

Perlu dicatat pula bahwa dalam bidang seni pertunjukan karena sedikitnya publikasi, eksposur antar institusi dengan kegiatan institusi yang lain tidak seberapa luas. Belum lagi konstruksi reputasi pendidikan seni pertunjukan tergantung reputasi bidang tersebut di dunia. Reputasi seni musik gamelan yang luar biasa luas di luar Indonesia menjadi keuntungan bagi organisasi-organasasi seni Indonesia yang memiliki bidang studi ini dan banyak digemari oleh mahasiswa asing.

Reputasi di mata pemberi kerja sudah sepantasnya dalam bidang seni mendapat skala yang kecil. Hal ini dikarenakan lapangan pekerjaan di bidang seni berbeda dengan lapangan kerja korporasi. Seni lebih banyak bertumpu pada bisnis-bisnis mikro dan menengah atau bahkan bisnis freelance perorangan sedangkan kemungkinan besar organisasi yang menjadi responden yang terpilih adalah organisasi yang cukup ternama yang tentunya akan memilih institusi yang memiliki nama besar pula yang tentunya bersentral pada organisasi 20 besar. Misalnya dalam organisasi seni musik misalnya kuartet gesek, apakah organisasi ini akan disurvey pula? Kalaupun disurvey mereka hanya butuh empat musisi dan mungkin 1 manajer dan tidak representatif. Karenanya dapat dikatakan reputasi di mata pemberi kerja agak sedikit kurang relevan dalam seni pertunjukan.

Adalah sebuah prestasi yang membanggakan bahwa institusi pendidikan seni pertunjukan di Indonesia berhasil menempatkan 3 buah organisasinya dalam peringkat 100 besar internasional, bukanlah sebuah prestasi yang buruk. Namun juga bukan saat yang tepat untuk kemudian menjadi jumawa dan lupa untuk terus mengembangkan kualitas, terlebih setelah memahami kekurangan maupun kelebihan metode yang digunakan untuk mengukur dan memeringkat institusi-institusi ini. Pun ini adalah tahun pertama ada pemeringkatan seni pertunjukan di QS, metodologi yang digunakan juga akan terus dikembangkan sejalan dengan bertambah usianya metodologi ini.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: