Kabar Terkini

Malam Meditatif Berbalut Musik Bach


“Bach was the greatest of all composers. His music means everything to me. It’s the beginning and the end. I always like to compare it to Yin and Yang. … Practicing Bach is like a meditation for me. That’s why I do it every day.”

— Iskandar Widjaja

 

Selasa, 22 Maret 2016, merupakan hari yang sangat spesial di Jakarta. Setelah hampir seharian warga kota dibuat bingung dengan demo para supir taksi yang berakhir ricuh, malam harinya sebuah oase tersuguh di bilangan Palmerah. Adalah Iskandar Widjaja, violinis berdarah Indonesia kelahiran Jerman, yang menggelar konser bertajuk A Night with Bach di Bentara Budaya Jakarta (BBJ).

BBJ sendiri juga tidak pernah mengecewakan para pencinta seni. Suasana intim langsung terasa begitu memasuki pelatarannya, ditingkahi aroma tanah dan rumput yang mengudara terbawa gerimis malam hari. Ruangan auditorium dipenuhi penonton, bahkan banyak yang akhirnya harus duduk lesehan di lantai karena tidak kebagian tempat duduk. Sebelum konser dimulai, pembawa acara menjelaskan sedikit mengenai aturan standar konser musik klasik. Yang patut diacungi jempol, ia juga menekankan bahwa jika mengambil gambar dengan kamera hendaknya jangan sampai menimbulkan bunyi. Akhirnya ada juga yang bersuara mengenai gangguan bunyi “klik” yang seringkali kita dengar saat sedang menikmati konser musik klasik—kecuali mungkin di Aula Simfonia Jakarta.

Sesuai judul konser malam itu, semua program merupakan karya Johann Sebastian Bach. Musik Bach memang memiliki tempat spesial di hati Issi, panggilan akrab Iskandar Widjaja. Menurutnya, karya Bach itu sudah seperti “meditasi dan doa” bagi dirinya (Kompas, 21 Maret 2016).

IMG_4501

Konser diawali dengan penampilan violinis muda Fakhri Pratama memainkan Air, bagian kedua dari Suite No. 3 in D major, BWV 1068. Karya tersebut dimainkan dalam tangganada aslinya, D Mayor, dengan iringan piano dari minus one. Gaya permainannya segera mengingatkan kita pada almarhum maestro Idris Sardi yang merupakan gurunya sendiri. Permainannya sangat baik jika dikategorikan dalam musik crossover, tapi untuk style barok sepertinya ia masih perlu bimbingan lagi.

Iskandar Widjaja

Setelah itu, Iskandar Widjaja benar-benar menyajikan suguhan utama, dua karya besar dari Bach untuk violin solo: Sonata No. 1 in G minor, BWV 1001, dan Partita No. 2 in D minor, BWV 1004.

Dibuka dengan Adagio, Issi langsung menghadirkan suasana meditatif. Begitu akor pertama dimainkan, seketika penonton yang sebelumnya masih berbisik-bisik segera terdiam. Hening. Di usia yang masih tergolong muda, kehadirannya di panggung sudah mampu menunjukkan wibawa. Issi tampil sangat ekspresif, semua gestur dan mimiknya benar-benar menggambarkan apa yang ia rasakan saat itu. Not dan garis birama bukan lagi sesuatu yang membatasi: ia telah melampaui itu. Ia benar-benar berbagi kisahnya dengan semua orang yang duduk terpaku malam itu. Bahkan kita pun dapat mendengar hembusan nafasnya saat bermain. Mau tidak mau, penonton langsung mengganjar bagian pertama tersebut dengan tepuk tangan meriah, dan Issi pun masuk ke belakang panggung sebentar. Setelah itu, Issi kembali untuk menyelesaikan sonata tersebut. Fuga mengalir dengan tempo cepat tanpa harus kehilangan kejelasan artikulasi layer-layer polifoni yang saling silang dan berdialog satu sama lain. Bermain dengan menyalurkan emosi sambil tetap menjaga intonasi tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri. Namun apalah artinya not semata jika tanpa jiwa yang menghidupkannya. Kontras dengan Fuga, Siciliana dimainkan lebih tenang, dengan ayunan birama perdelapan. Sesuai pakem sonata da chiesa, sonata ini pun diakhiri dengan bagian Presto. Bagian ini menjadi ajang menunjukkan kemampuan tekniknya yang memang mumpuni.

Sebelum memainkan karya berikutnya, Issi menyempatkan diri untuk menyapa penonton dan bercerita sedikit mengenai Bach dan khususnya mengenai partita yang akan ia mainkan. Setelah itu, meluncurlah Allemande, Courante, Sarabande, Gigue, dan yang tersohor Chaconne. Sangat sulit untuk menggambarkan keindahan permainan Issi di partita ini. Mungkin kata yang dapat mewakili hanya satu: sublime. Setiap karakter tarian ditampilkan dengan sempurna. Permainannya tanpa cela, mengaduk-aduk emosi setiap penonton yang mendengarnya, sampai mencapai puncaknya pada Chaconne, yang membuat semua seakan mengalami penebusan. Betapa menakjubkan apa yang dapat dibuat seorang manusia dengan empat buah senar dan sebuah kayu penggesek!

Issi tampaknya tahu bagaimana cara memanjakan kuping penonton Jakarta. Sebelum menyudahi malam itu, Issi memberi sebuah hadiah manis: River Flows in You dari Yiruma sebagai encore. Tentu saja penonton yang sebagian besar kaum muda bersorak kegirangan begitu mendengar intro piano yang diputar minus one. Belum cukup sampai di situ, Issi kembali mengundang Fakhri untuk sedikit membahas Air yang tadi dimainkan di awal pertunjukan. Setelah sekitar 20 menit mendapatkan arahan dari Issi, Fakhri yang responsif menunjukkan perkembangan yang nyata: mampu memainkan karya Bach sebagaimana karya tersebut semestinya dimainkan. Bisa dibilang Fakhri cukup menjanjikan sebagai violinis muda masa depan Indonesia. Semoga kita akan terus mendengar kiprahnya di tahun-tahun mendatang.

Satu lagi malam yang menakjubkan telah berlalu. Terima kasih, Issi, karena telah mengisi relung hati kami dengan alunan musik dari Bach. (tim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: